Zack

Foto saya
be better than yesterday..
Tampilkan postingan dengan label Belajar ISLAM. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Belajar ISLAM. Tampilkan semua postingan

Senin, Juni 25, 2012

suami Mencintai Istri

 
Suami kepada istri di awal pernikahan demikian mesra bergaul. Kata-katanya pun diatur sedemikian rupa agar tidak menyinggung perasaan sang primadona. Setiap benda atau simbol maknawi dikomunikasikan dengan BAHASA LUBUK HATI. Rasa kasih namanya.

Begitu pula sang istri menanggapi tutur dan sikap kasih suami dengan penuh sentimentil. Yang berbicara bukan lagi logika tapi LUBUK KALBU. Oh, betapa indahnya hidup ini.

Inilah gambaran hidup sang pengantin baru. Mungkinkah KASIH SAYANG TERTAMBAT ABADI DALAM LUBUK HATI YANG DALAM?

Bagi pasangan muslim, GAMBARAN CINTA MESRA ADALAH SUATU YANG SAKRAL. Ia perlu dipertahankan, menutupi ketidaksukaan suami kepada kelemahan istri menjadi suatu kewajiban nilai. Bukan sekedar ungkapan di bibir. "Dia tidak pernah mencela suatu makanan, jika dia suka ia makan, dan jika dia benci dia meninggalkannya" (HR Bukhari Muslim)

Kisah Aisyah dengan Rasulullah menjadi buah ibroh (pelajaran) teladan. Betapa Rasulullah menjaga cinta kasih dengan Aisyah selama mata belum berkatup. Ketika kaum Habsyi bermain tombak di masjid, Rasulullah bersikap aduhai mesra. Beliau mendedahkan kain sebagai hijab berlobang, agar Aisyah bisa menonton pertunjukan heroik tersebut. Aisyah melihat pertunjukan dari balik leher/tengkuk, agar sesekali bisa bersentuhan dengan dada Rasulullah.

Kisah lain, betapa Rasulullah bermain mesra. Lomba berlari. Sesekali Rasulullah berlari dengan lambat tapi pasti mengalahkan Aisyah. Sesekali beliaupun mengalah demi suka ria Aisyah, demi membahagiakan istri.

Inilah gambaran HIDUP IDEAL DAN NYATA. Rasulullah melaksanakannya dengan istri-istrinya. Kadang Aisyah pun iri pada sikap Rasul yang membanggakan Khadijah. Istri pertama beliau ini memberi kehangatan hidup, membela lahir dan batin, dikala rumah tangga jihad bergelombang. Khadijah lebih banyak mendapat duka dalam liku-liku pembentukan Qo'idah Ash-Sholbah.

SUAMI QONA'AH (SEDERHANA)
"Tidak ada pada kami kecuali cuka, lalu Rasul minta cuka itu sebagai lauk. Lalu makanlah beliau berlaukkan cuka", demikian tutur salah seorang istri Rasul. (HR Muslim)

Rasul selalu qona'ah (tidak neko-neko). Barangkali inilah salah satu kebanggaan para istri Rasul akan kepribadian beliau. Selain, beliau tampan, hangat, juga menyejukkan.

Tidak ada hati para istri yang gundah gulana disebabkan tindakan Rasul. Paling-paling sikap cemburu para istri terutama Aisyah bila ada wanita yang datang kepada beliau. "Jangan-jangan wanita ini menyerahkan diri untuk diperistri," inilah ungkapan kekhawatiran Aisyah. "Tidakkah aku menarik perhatian beliau ?", Aisyah berkontemplasi.

Bukan bersoalan itu yang berlaku pada Rasul. Beliau MENIKAHI BANYAK WANITA BUKAN DEMI NAFSU DUNIAWI, AKAN TETAPI DEMI DAKWAH, JIHAD DAN KELANJUTAN ISLAM.

Memang Aisyah pencemburu berat. Sulit diukur dengan neraca berapa berat tingkat cemburunya. Tetapi lebih cemburu lagi Rasulullah. Inilah ciri cinta yang masih melekat dalam dua pribadi sejarah. CEMBURU BUKAN HAL NEGATIF, TAPI SEBAGAI SUATU YANG INHEREN DALAM CINTA YANG FURQONI. Suami yang mempunyai rasa cinta kepada istrinya, tidak akan rela melihat istrinya diboyong atau digandeng oleh laki-laki lain. Jika sang istri ternyata dengan ?suka rela" mau diperlakukan seperti itu oleh laki-laki lain, maka sang suami akan berkata, "Saya harus menceraikannya". Inilah cemburu yang hak (yang benar)

Kadang suami harus pergi jauh, lama tidak kembali, baik untuk mencari nafkah, menuntut ilmu atau menyeru kepada Islam. Dalam kisah kasih suami istri Islami, istri akan mentsiqahi (percaya) pada amal suaminya. "Suamiku tidak akan menyeleweng dari Islam", hati kecil istri bicara. Istri pun di rumah menjaga kesucian dirinya. Ia tak akan menerima tamu di luar muhrim selama kepergian suami. Ia senantiasa menjaga anak-anak dan mendidiknya dengan pendidikan Islam serta menjaga segala harta dan wasiat suami. "Suamiku pasti kembali", suara hati sang istri penuh yakin. "Kalau pun ia tidak kembali ke pangkuan, pasti dia kembali kepada-Nya". Sang istri yakin betul akan takdir Allah. Ia selalu berprasangka baik kepada Allah dalam setiap keputusan-Nya yang hadir.

BERLAPANG DADA
Sebagai manusia, kadang-kadang seorang istri hanyut dalam arus kemarahan. Ia membuat sesuatu yang ganjil. Dengan sebab tertentu ia merubah sikap terhadap suaminya. Suami merasakan kemarahan tersebut. Lalu, suami menerima dengan lapang dada. Ia bersabar dan bersikap mulia. PANDANGAN YANG DALAM AKAN HAKEKAT KEJADIAN WANITA MEMBUAT SUAMI BERTOLERANSI TERHADAP ISTRI, bahwa wanita itu dijadikan dari tulang rusuk yang bengkok. Jika sang suami memaksa untuk meluruskannya, maka ia akan patah. Namun jika dibiarkan, maka ia juga akan tetap bengkok.

Sebagaimana Rasulullah pernah menunjukkan sikap beliau ketika Hafsah istri beliu berpaling semalaman dari beliau. Umar memarahi Hafsah dengan keras, karena menganggap anaknya (Hafsah) berani berpaling dari Rasulullah. Umpatan Umar tersebut disampaikan kepada Rasulullah. Tapi, Rasulullah menanggapinya dengan senyum simpul.

SUAMI TIDAK LAYAK MENAMPILKAN SOSOK DOMINASI, tidak mau kalah dalam segala hal, kecuali hal-hal yang prinsip. Untuk hal-hal tertentu suami mau menerima keluhan rasa kesal istri. Suami menanggapinya dengan hati yang sejuk menantramkan, bukannya malah ikut-ikutan marah.

Suatu ketika, para istri shahabat mengelilingi Rasulullah, mengadukan persoalan pribadi. Pasalnya suami-suami mereka terlalu kasar (HR Abu Daud, Nasa'i dan Ibnu Majah) padahal dalam firman Allah :

"Dan bergaullah dengan mereka secara patut. Kemudian bila kamu tidak menyukai mereka (maka bersabarlah). Mungkin kamu tidak menyukai sesuatu padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak". (QS 4:19)

Dalil ayat ini menyuruh PARA SUAMI UNTUK MAMPU BERLAPANG DADA, MENERIMA FITRAH MANUSIAWI WANITA. Rasulullah pernah bersabda :

"Berwasiatlah kamu dengan cara yang baik kepada wanita sebab mereka dijadikan dari ulang rusuk yang bengkok. Dan sesungguhnya bagian yang paling bengkok di dalam tulang rusuk itu ialah bagian paling atas. Jika anda hendak meluruskannya secara keras dan paksa niscaya engkau akan patahkan dia dan jika anda membiarkan dia demikan ia akan senantiasa bengkok. Maka berwasiatlah kamu dengan baik kepada wanita". (HR Bukhari Muslim)

Suami yang berlapang dada, sabar atau menerima beberapa kelemahan sifat manusiawi wanita akan menjadi simbol kejayaan. Ia bisa adaptif dengan berbagai kronik kehidupan keluarga. Ia tahu bagaimana mengatasi dan mengelula konflik internal dan friksi hubungan sosial dengan istrinya. Ia tahu pula bagaimana cara menyelami lubuk jiwa istrinya dengan bijak, lembut, cerdik.

Kebahagiaan istri secara psikologi dalam keluarga adalah mendapatkan "rewards" positif untuk hal-hal yang positif, dan bila SUAMI BERSIKAP KONSISTEN ANTARA UCAPAN DAN TINDAKANNYA.

PEMIMPIN YANG BAIK
"Kaum lelaki adalah pemimpin (qowwam) bagi wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian harta mereka". (QS 4:34)

KECERDIKAN DAN SIKAP MENERIMA KEKURANGAN ISTRI, AKAN MENINGKATKAN PAMOR SUAMI DI HADAPAN ISTRI. Dalam memperbaiki kekurangan itu ia berusalah dengan cara LEMAH LEMBUT. Kebencian atau yang menyakitkan istri akan timbul, bila istri dimarahi di khalayak ramai.

Pemimpin yang baik (suami) dalam keluarga adalah KETELADANAN DAN TANGGUNG JAWAB YANG PENUH AKAN AMANAH YANG DIBERIKAN KEPADANYA.

"Kamu semua adalah pemimpin dan semua pemimpin bertanggung jawab atas semua kepemimpinannya. Dan setiap penanggung jawah adalah pemimpin, dan lelaki adalah pemimpin atas kapasitas keahliannya, dan wanita adalah penjaga suami dan anak-anaknya, maka semua kamu adalah pemimpin yang bertanggung jawab atas rakyatnya". (HR Bukhari Muslim)

Jadi ISLAM MENUNTUT KAUM LAKI-LAKI, AGAR BERGAUL IHSAN (BAIK) DENGAN ISTRI, SEBALIKNYA ISLAM JUGA MENYURUH ISTRI AGAR PATUH DAN TAAT SETIA KEPADA SUAMINYA DALAM BATAS-BATAS HALAL. Dengan demikian kisah kasih cinta suami istri senantiasa dalam batas rahmat. Insya Allah akan tetap langgeng. Amin.

*IKATLAH ILMU DENGAN MENULISKANNYA*
Al-Hubb Fillah wa Lillah,

Jumat, Mei 20, 2011

NASEHAT IMAM AHMAD BIN HAMBAL (IMAM HAMBALI)

Para pembaca rahimakumullah,

Telah diulas pada edisi yang lalu kisah kehidupan seorang ‘alim yang sangat bersemangat di dalam menuntut ilmu dan beribadah. Juga tentang kesabarannya yang luar biasa di dalam menghadapi berbagai ujian demi mempertahankan aqidah Ahlus Sunnah. 

Guru beliau, Al-Imam Asy-Syafi’i rahimahullah berkata: “Aku keluar dari ‘Iraq. Dan tidaklah aku tinggalkan di kota tersebut seseorang yang paling utama, paling berilmu, paling wara’ dan paling bertakwa daripada Ahmad bin Hanbal.” 

Al-Imam Abdurrazzaq Ash-Shan’ani rahimahullah berkata: “Tidaklah aku melihat orang yang paling pandai dan paling wara’ daripada Ahmad bin Hanbal.” Yahya bin Sa’id Al-Qaththan rahimahullah berkata: “Tidaklah ada seorangpun yang datang ke Baghdad yang lebih aku cintai daripada Ahmad bin Hanbal.”

Karya-karya tulis beliau rahimahullah sangatlah banyak, diantaranya ada yang berjudul “Fadhail Shahabah”, “Az-Zuhd”, “Kitab Tafsir”, “An-Nasikh wa Al-Mansukh”, “At-Tarikh”, “Ahadits Syu’bah”, dan lain-lain. Yang paling terkenal dari karya-karya beliau adalah “Al-Musnad”. Al-Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata: “Tidak ada satu kitab musnad pun yang sebanding dengan kitab musnad karya Imam Ahmad dalam hal banyaknya jumlah hadits yang ada di dalamnya dan juga dalam hal bagusnya sistematika penyusunan.”

Pada edisi kali ini kami ingin menampilkan berbagai nasehat dan bimbingan beliau, agar kita dapat mencontoh beliau di dalam berpegang teguh dengan sunnah Nabi.

Amalan yang paling utama
Ada seseorang yang bertanya kepada Imam Ahmad rahimahullah:
“Beritakan kepada kami amalan apakah yang paling utama?”
Beliau menjawab: “Menuntut ilmu.”
Dia bertanya kembali: “Bagi siapa?”
beliau menjawab: “Bagi orang yang benar niatnya.”
Dia bertanya kembali: “Apa saja yang bisa membenarkan niat itu?”
Beliau menjawab: “Dengan meniatkan dirinya agar bisa bertawadhu’ dan menghilangkan kebodohan darinya.”

Kewajiban Menuntut Ilmu
“Setiap orang wajib menuntut ilmu yang menjadikan agamanya tegak dengannya.”
Ditanyakan kepada beliau, “Seperti apa halnya?”
Beliau rahimahullah menjawab, “Yang ia tidak boleh bodoh (tidak berilmu) tentang sholat, puasa, dan lainnya.”

Kemuliaan hati
Sesungguhnya setiap sesuatu memiliki kemuliaan, dan kemuliaan hati adalah ridha kepada Allah Subhanallahu wa Ta’ala .

Mengingat Mati
Bahwasanya Imam Ahmad jika disebutkan tentang kematian maka beliau menangis tersedu-sedu. Dan beliau berkata: “Rasa takut telah menghalangiku untuk menyantap makanan dan minuman.”

Anjuran untuk berusaha
Ada seseorang yang bertanya kepada Imam Ahmad:“Bagaimana pendapatmu tentang seseorang yang duduk di rumahnya atau di masjidnya kemudian berkata: “Aku tidak akan bekerja apapun sampai rizki itu yang datang sendiri kepadaku.”
Beliau berkata: “Ini adalah seorang laki-laki yang tidak mengetahui ilmu.
Tidakkah dia mendengar ucapan Rasulullah: ‘dijadikan rizki-ku di bawah naungan
tombakku.’ Dan hadits yang lainnya tentang seekor burung yang di pagi hari
dalam keadaan lapar kemudian pergi untuk mencari makan.
Allah berfirman: orang-orang yang berjalan di muka bumi mencari sebagian karunia Allah (rizki).” [Al-Muzammil: 20]

Zuhud
Zuhud di dunia adalah: pendek angan-angan dan berputus asa (tidak mengharapkan) dari apa yang ada di tangan manusia.

Kemuliaan sahabat Rasulullah
Jika engkau melihat seseorang menyebutkan tentang salah seorang dari sahabat Rasulullah dengan kejelekan maka ragukanlah keislamannya.

Merasakan kesenangan
Ada seseorang bertanya kepada beliau: “Kapan seorang hamba akan merasakan
kesenangan?” Beliau menjawab: “Dia akan merasakan kesenangan tatkala mulai memasuki
Al-Jannah (surga).”

Manusia pada hari kiamat
Sesungguhnya Allah membangkitkan para hamba pada hari kiamat atas 3 keadaan:
1. Orang baik yang tidak ada jalan untuk menyalahkannya. Allah Subhanallahu wa
Ta’ala berfirman (artinya): “Tidak ada jalan sedikitpun untuk menyalahkan
orang-orang yang berbuat baik.” [At-Taubah: 91]
2. Orang yang kafir mereka berada dalam An-Naar (neraka), Allah Subhanallahu wa
Ta’ala berfirman (artinya): “Dan orang-orang yang kafir, mereka berada di dalam
Jahannam.” [Fathir: 36]
3. Orang yang berdosa (dibawah dosa syrik), maka perkaranya diserahkan kepada
Allah. Jika Allah berkehendak, maka ia akan diadzab, dan jika Allah
berkehendak, ia akan diampuni. Allah Subhanallahu wa Ta’ala berfirman
(artinya): “Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia
mengampuni semua dosa yang dibawah dosa syirik bagi siapa yang dikehendakinya.”
[An-Nisaa: 48 dan 116]

Hartawan yang zuhud
Imam Ahmad pernah ditanya tentang seseorang yang memiliki harta sebanyak 1000
dinar, apakah dia bisa dikatakan zuhud?”
Beliau menjawab: “Ya, dengan syarat dia tidak gembira ketika hartanya bertambah
dan tidak bersedih ketika hartanya berkurang.”

Menjaga harga diri
Beliau pernah berdoa dalam sujudnya:
“Ya Allah, sebagaimana Engkau telah menjaga wajahku dari sujud kepada
selain-Mu, maka jagalah wajahku dari meminta-minta kepada selain-Mu.”

Zakatnya ilmu
Beliau pernah ditanya tentang seorang yang banyak menulis hadits, maka beliau
memberikan jawaban:
“Seharusnya bagi dia untuk memperbanyak amalan sebatas apa yang dia peroleh
dalam mencari hadits tersebut.” Kemudian beliau melanjutkan ucapannya:
“Jalannya ilmu itu sama dengan jalannya harta. Sesungguhnya harta itu jika
bertambah maka bertambah pula zakatnya.”

Kesempurnaan makanan
Jika terkumpul pada makanan itu 4 hal maka sungguh telah sempurna:
1. Jika disebutkan nama Allah, pada awalnya.
2. Memuji nama Allah pada akhirnya.
3. Memperbanyak jumlah orang yang makan.
4. Makanan tersebut diperoleh dari jalan yang halal.

Tingkatan-tingkatan Zuhud
Dalam zuhud ada tiga tingkatan:
1. Meninggalkan yang haram. Ini adalah zuhudnya orang-orang yang awam.
2. Meninggalkan sesuatu yang kurang bermanfaat dari perkara yang halal. Ini
adalah zuhudnya orang-orang yang khusus.
3. Meninggalkan sesuatu yang menyibukkan dari Allah. Ini adalah zuhudnya
orang-orang yang telah mengenal Rabbnya.

Sikap dalam shalat
Beliau pernah ditanya: “Apa makna dari meletakkan tangan yang kanan diatas
tangan yang kiri?”
Beliau menjawab: “Merendahkan diri dihadapan Allah Subhanallahu wa Ta’ala.”

Ketakwaan hati
‘Ali bin Al-Madini rahimahullah berkata: “Ahmad bin Hanbal rahimahullah berkata
kepadaku, ‘Sebenarnya aku ingin menemanimu pergi ke Makkah dan tidaklah ada
yang menghalangiku untuk menemanimu kecuali aku khawatir akan membuatmu bosan
atau engkau yang membuatku bosan.’
Ali rahimahullah berkata: “Ketika aku akan berpisah, kukatakan kepadanya:
‘Wahai Abu ‘Abdillah, berilah aku suatu wasiat?’
Ahmad rahimahullah berkata: “Ya, tetapkanlah ketakwaan itu dalam hatimu, dan
tegakkanlah akhirat itu dihadapanmu.”

Bersegera dalam kebaikan
Setiap sesuatu dari kebaikan hendaklah engkau memberi perhatian padanya,
kemudian bersegera untuk memperolehnya sebelum terhalang antaramu dengan
kebaikan tersebut.

Ringan dalam hisab
Suatu yang sedikit dari perkara dunia maka kelak hisab (perhitungan)nya akan
ringan di akhirat

Berkurangnya keimanan
Iman bisa bertambah dan berkurang. kebaikan semuanya adalah bagian dari iman
(menambah keimanan -red) dan kemaksiatan dapat mengurangi keimanan.

Semangat belajar
Tidaklah seseorang akan patah semangat di dalam menuntut ilmu kecuali orang
yang bodoh.

Keikhlasan
Al-Ikhlas adalah hendaklah amalanmu diniatkan dalam rangka ibadah dan
meninggalkan sesuatu yang haram, serta meniatkan setiap kebaikan dan ketakwaan
hanya semata-mata ditujukan kepada Allah. Ikhlas adalah ruhnya amalan. Amalan
tanpa ruh ibarat mayit. Allah tidak menerima amalan tersebut dan tidaklah dia
akan selamat dari api neraka.

Semangat beramal
Tidaklah aku menulis sebuah hadits kecuali aku telah mengamalkannya walaupun
cuma satu kali supaya tidak menjadi hujjah pada diriku kelak, sampaipun shalat
2 rakaat Maghrib antara adzan dan iqamat (aku telah mengamalkannya).

Doa beliau
Ya Allah, janganlah Engkau sibukkan hati kami dengan sesuatu yang telah Engkau bebankan kepada diri kami.
Dan janganlah Engkau menghalangi diri kami dari kebaikan yang ada pada-Mu
dengan suatu kejelekan yang ada pada diri kami.
Dan janganlah Engkau perlihatkan pada diri kami apa yang telah Engkau larang.
Dan janganlah Engkau luputkan bagi diri kami apa-apa yang telah Engkau
perintahkan.
Muliakanlah diri kami dan janganlah Engkau hinakan diri kami.
Muliakanlah diri kami dengan ketaatan dan janganlah Engkau hinakan diri kami
dengan kemaksiatan.

Maraji’:
1. Mawa’izh Al-Imam Ahmad
2. Musthalah Hadits karya Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-’Utsaimin
rahimahullah, hal. 63-66.
3. Kitab Fadhail Shahabah jilid I
4. Siyar A’lamin Nubala
5. Bidayah wa Nihayah