Zack

Foto saya
be better than yesterday..
Tampilkan postingan dengan label artikel sikap. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label artikel sikap. Tampilkan semua postingan

Selasa, Januari 17, 2012

Berikan Banyak Pujian dan Anak Akan Jadi Hebat

Perilaku orangtua dalam mendidik sejak dini ternyata berkorelasi langsung dengan sikap, pribadi buah hati di masa mendatang. Jika salah melakukan pengasuhan, yang terjadi justru anak mempunyai sifat atau sikap negatif. Lalu bagaimana mendidik anak yang tepat sehingga menjadi anak hebat (incredible).

Tak ada sekolah khusus untuk menjadi orangtua. Tetapi, orangtua tetap perlu belajar menerapkan pola pengasuhan yang positif pada anak agar dapat membentuk karakter positif anak di masa depan.

Hanny Muchtar Darta dari EI Parenting Consultant saat talkshow "Pentingnya Kecukupan Asupan Vitamin & Mineral Agar Anak Incredible" yang digelar oleh Scott's Multivitamin di Cilandak Town Square, Jakarta Selatan, mengungkap beberapa tips ataupun trik yang bisa menjadi rujukan:

  • Berkomunikasilah secara positif
Orangtua harus mempunyai persepsi bahwa anak itu unik dan mempunyai perbedaan dibandingkan anak yang lainnya. Jadi orangtua harus mempunyai kemampuan untuk membangun bakat yang dimiliki dengan cara yang positif. Kalau ibu ingin anaknya belajar bukan bilangnya "Jangan malas-malas". Tapi akan lebih baik jika mengatakan "Ayo dong semangat belajar".
  •  Hindari membandingkan dengan adik, kakaknya atau dengan anak lain.
Jangan membandingkan dengan yang lain, tapi bandingkan dengan kemajuan yang diperoleh buah hati. Jangan mengatakan "Kakak kamu lebih hebat atau kakak kamu lebih rajin belajarnya, jadi kamu harus seperti dia dong. Harusnya "Loh kamu kemarin nilai Matematika dan Bahasa Inggris nilai kurang, seharusnya nanti harus lebih baik".

  •  Dorong anak untuk ikut kompetisi.
Anak yang berusia 5-8 tahun lagi senang-senangnya berkompetisi karena dari segi kognotifnya lagi senang-senangnya untuk menunjukkan kebisaannya dan kemampuan yang dimilikinya. Tapi kalau sudah 12 tahun keinginan untuk berkompetisi turun. Jadi kalau ingin membentuk anak yang hebat, ajaklah berkompetisi sejak kecil.
  • Hindari memotong pembicaraan.
Seringkali dilakukan orangtua yang tidak sabar mendengarkan dan selalalu menyalahkan. Yang harus dilakukan adalah mendengarkan terlebih dahulu dengan penuh perhatian. Anak juga ingin dihargai pendapatnya. Jika ini dilakukan bisa melatih anak berani mengemukakan pendapat, atau gagasan yang dimilikinya.
  •  Fokus pada tujuan
Terkadang orangtua asal memerintahkan. Misalnya, mengatakan jangan lupa baju olahragamu dibawa pulang atau mengatakan jangan malu bertanya nanti sesat di jalan. Lebih baik mengatakan, "Kalau berani bertanya, itu tanda anak cerdas,". Jadi bicaranya lebih positif sehingga membuat anak menjadi terinspirasi.
  • Memberikan banyak pujian, tentunya di tempat dan waktu yang tepat
Terlalu banyak waktu Anda yang terbuang jika hanya mengkritik sikap buruk buah hati. Sebaliknya, Anda jadi kekurangan waktu untuk memberinya pujian atas sikap positifnya. Ada kalanya, sesekali Anda perlu mengucapkan, "Mama senang, lho, lihat kamu membereskan mainan dan menyimpannya di tempat semula."
  • Berikan pelukan, belaian, dan ciuman
Biasakan memeluk buah hati hingga 12 kali sehari. Tujuannya supaya ia merasakan adanya kedekatan, kehangatan sehingga mampu membangun ikatan emosional yang baik disamping anak akan merasa diterima dan didukung oleh orangtuanya.
  • Membangun aturan sederhana.
Melatih kedisiplinan bisa dilakukan dengan membangun rutinitas misalnya: jam makan, jam tidur, makan pada tempat yang benar, dan lain sebagainya. Ini akan melatih anak hidup secara disiplin. Meski demikian, sebagai orangtua harus memberikan contoh melakukan kedisiplinan. Jangan terus dilanggar.
  • Hindari untuk bicara dengan anak ketika sedang mengalami emosi negatif
Belajarlah untuk memaklumi hal-hal yang bisa memicu anak kesal dan jengkel. Umumnya, perasaan tidak nyaman ini dialami anak-anak saat dia sedang kelelahan, saat Anda terlalu menuntutnya berbuat lebih, saat dia lapar, dan saat dia sakit. Minimalisasi kondisi-kondisi yang membuatnya tidak nyaman ini untuk mengurangi kejengkelan pada anak

copas dari : Tribunnews

Kamis, Mei 19, 2011

Parentivasi: Revolusi Pendidikan

Isa Alamsyah

Entah kenapa saya merasa harus mengungkapkan kejengkelan saya terhadap materi pendidikan di Indonesia,
bahkan di dunia, karena kita jadi terpaksa ikut menyesuaikannya.

Pendidikan nampaknya harus direvolusi.
Betapa anak-anak menderita stres dengan pelajaran yang di masa depan mungkin tidak bermanfaat sama sekali.
Mereka kadang diangggap bodoh, kurang berpendidikan hanya karena gagal di sekolah.
Semua terjadi karena sekolah menjadi indikator pendidikan,
padahal di sekolah banyak pelajaran yang tidak penting yang dipaksakan untuk dipelajari.
Seharusnya pendidikan tidak selalu identik dengan sekolah,
dan idealnya sekolah bukan satu-satunya yang berhak menilai kadar terdidik atau tidaknya seseorang.

Ilmu dibagi menjadi dua, ilmu murni dan ilmu terapan.
Ilmu murni berarti ilmu untuk ilmu itu sendiri, jadi manfaatnya nanti dulu,
sedangkan ilmu terapan berarti mencakup manfaat ilmu untuk kehidupan.

Karena ada dua sifat tersebut maka dalam pendidikan juga harus dibagi menjadi dua,
ilmu murni karena tidak langsung bermanfaat maka sifatnya bagi siswa HANYA SEKEDAR TAHU.
Jadi tugasnya hanya untuk MEMANCING MINAT untuk ke tingkat yang lebih tinggi.
Karena itu ilmu ini tidak boleh dibebankan ke dalam test.
Kalau ada yang berminat baru ikut penjurusan.

Sedangkan ilmu terapan harus difahami dipraktekkan dan menjadi bekal kehidupan.

Contohnya sederhana.
Ada anak Indonesia, yang berbicara dengan bahasa Indonesia, bermain dengan bahasa Indonesia,
tetapi tidak lulus pelajaran Bahasa Indonesia. Itu aneh, karena esensi bahasa adalah komunikasi.
Bagaimana mungkin kita tidak lulus bahasa Indonesia cuma karena tidak mengerti konsep SPOK, SP, kalimat majemuk, KV, KVK, KKVK, dll, padahal sehari-hari kita berbicara bahasa Indonesia.
Yang bodoh siapa?
Si anak yang lancar berbahasa bahasa Indonesia tapi tidak tahu konsep anak kalimat, kalimat majemuk, dll,
tapi tahu cara memakainya dengan benar,
atau penilai yang mementingkan teori anak kalimat, kalimat majemuk bertingkat dsb, yang bahkan tidak peduli anak-anak tersebut hidup dengan bahasa tersebut dan berkomunikasi dengan bahasa tersebut.
Ini sama saja dengan tidak memberi sertifikat renang pada ikan hiu karena ikan hiu tersebut gagal menjelaskan gaya renang apa yang dipakainya.
Menurut saya, pengetahuan SPOK, kalimat majemuk, dan teori bahasa hanya ditempatkan sebagai ilmu yang perlu diketahui tapi tidak boleh masuk dalam test.
Kalau siswa tidak suka ya sudah jangan dipaksakan, toh tidak terlalu bermanfaat dalam kehidupan.
Lucunya ada anak yang bunuh diri akibat UAN bahasa Indonesianya hancur. Padahal ia menulis surat bunuh diri dalam bahasa Indonesia. Tragis.

Coba lihat pelajaran biologi.
Ada SD diajar tentang organ kodok, jenis jaringan tumbuhan, dsb.
Tapi lulus SD mereka tidak mengerti banyak hal yang bermanfaat untuk kehidupan misalnya, survivor (tahu mana pohon yang beracun mana yang tidak kalau terdampar), tahu bagaimana mengatasi gas beracun, P3K.
Mereka tidak tahu betapa bahayanya rokok, bagaimana menghindari narkoba, apa ciri-ciri narkoba,
bagaimana mengatasi demam berdarah, bagaimana penanggulangan dini kalau ada korban luka bakar.
Ini justru penting bagi kehidupan.
Mereka tidak mengerti bagaimana memasak beras agar tidak terbuang vitamin B nya
Mereka tidak tahu kalau susu jangan dicampur air panas karena kalsiumnya rusak, dll.
Yang justru penting untuk kehidupan tapi tidak diajarkan.
Kalau masalah kodok, tikus dan sebagainya hanya untuk memancing minat yang proporsinya hanya sekedar memancing minat saja bukan membebani.
Sedangkan yang bermanfaat untuk kehidupan harus dikuasai.

Anak anak juga diajar tentang planet. Mereka tahu jumlah planet, nama planet dan ukuran planet.
Tapi mereka tidak diberi pelajaran tentang global warming, cinta lingkungan, dll yang justru berkaitan dengan kehidupan. Mereka juga tidak ada pelajaran persiapan bencana tsunami dan gempa dalam kurikulum.
Justru ilmu yang penting ini diberikan oleh pengajar tamu dari PBB (United Nation) dan NGO internasional yang tentu saja tidak menyentuh semua siswa dan bersifat berkala saja.
Tapi urusan planet di tata surya yang kita tidak tahun tahun berapa akan bermanfaat, semua siswa wajib menghapal.
Kalau sekedar minat, ya ajak nonton bareng film tata surya, mereka yang berminat akan memutuskan ke jenjang antariksa.
Kita mungkin butuh beberapa ratus ahli antariksawan, mungkin beberapa ribu,
tapi tidak perlu puluhan juta anak harus menguasainya bukan?
Kalaupun ada yang perlu diketahui dari antariksa adalah justru kemampuan menentukan arah kompas, ini malah tidak diajarkan (tidak didalami). Masih banayak anak tidak tahu mana utara, selatang, tenggara, dsb.

Intinya, kita cuma butuh beberapa ribu ahli fisika.
Kita cuma butuh beberapa ribu ahli linguistik
Cuma butuh beberapa ahli biologi, dll.
Tetapi kenapa ratusan juta anak wajib mempelajarinya, dan stress karenanya.

Kalau orientasi kita rubah dengan pelajaran yang faktual, actual dan selektif,
sedangkan bangsa lain masih terbelenggu dengan pendidikan simbolis dan konvensional,
maka kita akan menyusul bangsa lain.

Kita perlu mendefinisikan ulang materi pelajaran.
MANA YANG CUMA SEKEDAR PENGETAHUAN dan MANA YANG HARUS DIKUASAI.
Memang untuk beberapa anak yang mau melanjutkan ke LN jadi susah.
Ya sudah di drill saja 6 bulan menjelang ke sana kekejar koq!
Kepada anak-anak saya tidak memaksa mereka belajar.
Yang penting mereka berkarya.

Apalagi dengan adalnya UAN.
6 tahun mati-matian akan sia-sia hanya dengan kegagalan test 3 hari. Sialnya pas test jatuh sakit.
Lebih baik 5 1/2 tahun bahagia, 1/2 tahun siapkan UAN mati-matian.

Seharusnya penjurusan di mulai di SMP saja, jangan di SMA nanti terlalu banyak hal yang tidak penting dipelajari lagi.
Jadi anak lulus SMA sudah produktif.
Dan penjurusan jangan sekedar Fisika, Biologi dan sosial.
Kini harus di tambah Teknologi Informasi.
Buat praktisi IT sebanyak-banyaknya karena segala hal bisa dipermudah dengan IT.
Korupsi biaya tinggi, penyelewengan pajak, pengajaran online, dll bisa dibantu IT.
Jika IT maju pemilu tidak perlu sensus, kartu baru dsb. Cukup KTP Smart yang mempunyai data digital.

Banyak orang saat ini bekerja dengan membuang katakanlah 80 - 90% pelajaran yang tidak ada manfaatnya.
Siilahkan hitung sendiri.
Apakah pelajaran PSPB, IPBA, Sastra, dll sangat berpengaruh dengan pekerjaan Anda sekarang.
Coba ingat ingat semua pelajaran kita, mana yang bermanfaat?

Saya mendidik anak-anak lebih pada orientasi ilmu bermanfaat dan karya.
Salsa dan Adam anak saya yang SD sudah bisa photo shop.
Saya bilang ke mereka. Dengan satu keahlian ini saja kamu sudah bisa menghasilkan uang puluhan juta per bulan,
separti om ini, ini, dan ini saya menyebutkan nama desiner grafis yang mereka kenal..
Salsa sudah menulis 5 buku, Adam menulis 2 buku.
Saya bilang ke mereka, dengan kemampuan ini saja, kamu bisa berpenghasilan puluhan juta per bulan,
seperti ini, ini, dan ini... nama-nama penulis.
Salsa dan Adam kini suka internet. Saya bilang, kalau kamu dalami internet kamu bisa jadi orang terkaya di dunia.
Mereka juga mendalami, olah raga dan musik.

Kalau Salsa atau Adam pulang dengan nilai ujian jelak atau bagus.
Maka saya check kesalahannya.
Kadang saya bilang "Ini pertanyaan penting, kamu harus tahu jawabannya"
Kadang saya bilang "Wah kalau soal ini gak apa salah, nanti juga gak kepakai dalam kehidupan.
Ayah udah puluhan tahun hidup gak pernah pakai pengetahuan ini (saat itu soalnya tentang kota ini lintang berapa derajat bla..bla..bla) saya bilang gak usah hapalin lintang derajat begini, cari yang lebih bermanfaat.
Mungkin saya seperti orang tua ngaco, ya kan?
Tapi itu cara saya mendidik anak untuk menseleksi ilmu.
Saya gak mau anak-anak stres untuk pengetahuan yang menurut saya tidak penting.

Tapi saya juga menantang mereka belajar efektif. Dengan waktu belajar sedikit tapi hasilnya memuaskan.
Kita kembangkan beberapa metode, intinya tangkap semua pelajaran di sekolah, perhatikan, tidak tahu tanya, lalu ulang dirumah, presentasi, dsb.
Alhamdulillah Salsa dan Adam sejauh ini selalu mendapat ranking atas sekalipun belajar banyak hal lain di luar sekolah.

Ya sudah, entah kenapa saya lagi marah dengan pendidikan yang membebankan banyak ilmu yang tidak bermanfaat.
Just an idea (Tulisan ini ada di notes saya sejak Oktober 2010 lalu)

Tapi saya akan melakukan riset dan gerakan serius untuk merevolusi pendidikan!
Just wait and see.

Bayangkan kita mau ke medan perang.
Ada dua kelompok orang yang mau direkrut.
Satu ilmuwan yang tahu berbagai nama senapan, tahu jarak tembak senapan tahu bahan baku senapan,
mereka hapal senapan tersebut ditemukan oleh siapa, tahun berapa, dll.
Tapi dia tidak bisa menembak, tidak bisa menggunakan senjata.
Kelompok kedua adalah kelompok pemuda. Mereka tidak tahu siapa pembuat senapan, tidak tahu tahun berapa dibuatnya.
Mereka tidak bisa menjabarkan alasan kenapa peluru bisa meluncur.
Tapi mereka tahu bagaimana menembak, merakit senapan, merawat dan menggunakannya.
Kira-kira kelompok mana yang kita bawa ikut perang?

Nah generasi kita ke depan menghadapi banyak medan petempuran di bidang ekonomi, teknologi, informasi, dll,
kalau mereka dicekoki sesuatu yang tidak bermanfaat di masa depan, bisa jadi kita akan kalah perang.

Bagaimana menurut Anda?

Traveltivasi: Nepotisme Profesional Gaya Italy

Isa Alamsyah

Ada yang menarik ketika kami (Isa Alamsyah dan Asma Nadia) pertama kali tiba di Venezia.Bergantian orang datang menawarkan hotel dan restoran dan mereka dengan bangga mengatakan:
“Di sini masakannya enak, ibu saya sendiri yang masak!”
“Hotel ini adalah rumah kami, sangat nyaman dan menyenangkan!”
Begitu juga ketika kami berbelanja di pulau kecil (Burano-Murano) yang masih masuk dalam area Venezia.
Di sana dengan bangga pelayan toko bordiran berkata;
“Ini desain saya sendiri lo!”
“Ini yang menjahit ibu saya sendiri, dia menjahit sampai 1 minggu!”

Buat saya, orang Indonesia, pengalaman ini cukup unik.
Pertama karena di Indonesia, ketika kita bicara: “ini karya keluarga saya” maka yang terkesan adalah
‘tidak profesional’ atau ‘tentu saja kamu bilang bagus, itu karya kamu sendiri’ atau ‘tentu saja kamu bilang enak yang bikin ibu kamu sendiri’.
Ya, itu budaya kita.
Kita curiga orang tidak berkata benar atas kualitas ketika yang direkomendasikan adalah karya keluarga dari yang merekomendasikan.
Kadang kita merasa bersalah kalau mempromosikan karya sendiri atau karya keluarga sendiri,
terkesan tidak profesional.
Makanya jarang kan orang Indonesia membubuhkan namanya untuk nama perusahaan?
Selain rendah diri kita juga punya budaya tidak bangga dengan diri sendiri.

Bahkan di masa reformasi, hubungan kekeluargaan dianggap sebagai musuh.
Seolah tidak mungkin ada hubungan kekeluargaan yang seiring dengan profesionalisme.
Kalau bicara keluarga penguasa di masa orde baru mungkin benar, tapi bukan berarti semua keluarga Indonesia nepotisme bukan?
Jadi ingat kata-kata Fani Habibie (adik BJ Habibie).
Ketika BJ Habibie jadi Presiden, apapun jabatan yang dipegangnya selalu jadi sumber kritik karena dianggap didapatnya karena kakaknya presiden. Sampai dia bilang, kira-kira begini.
“Susah juga ya jadi adiknya presiden, jangan-jangan kalau saya jualan bakso sukses, juga dianggap karena dukungan presiden.”
Saat itu Junus Efendi (Fanny) Habibie langsung mengajukan pengunduran diri dari jabatan Ketua Otorita Pengembangan Daerah Industri Batam (BIDA). Padahal, dia baru menduduki posisi tersebut beberapa bulan. Langkah Fanny diikuti oleh Ilham Habibie, putera BJ. Habibie. Ia melepaskan jabatannya sebagai Direktur Satuan Usaha Pesawat Terbang dan Kepala Divisi Purna Jual IPTN.
Padahal mereka adalah orang yang qualified.
Begitu takutnya terhadap isu nepotisme, bahkan kita menghukum sanak saudara yang qualified.

Saya punya kenalan seorang yang punya jabatan berpengaruh di televisi.
Istri dan anaknya adalah tokoh yang inspiratif yang sangat dikenal dalam komunitas Indonesia.
Menurut saya, kalau istri dan anaknya diorbitkan di Indonesia melalui televisi,
maka Indonesia akan punya tokoh nasional yang inspiring.
Tapi ia tidak mau menampilkan istri atau anaknya.
Ia memilih menampilkan orang lain yang jauh lebih rendah kualitasnya dibanding istri dan anaknya karena takut dianggap nepotisme.

Untung saja saya tidak peduli dengan pendapat orang kalau ada yang menuduh saya nepotisme.
Saya tidak ragu menunjuk istri atau anak saya kalau mereka lebih qualified dari yang lain.
Sebaliknya, saya juga tidak ragu memilih orang lain jika orang lain tersebut jika lebih qualified.
Saya percaya pada profesionalisme proporsional.
Profesionalisme tidak mengenal batas keluarga atau bukan keluarga.
Profesionalisme adalah profesionalisme.
Nepotisme adalah memilih seseorang karena dia keluarga kita,
tapi kalau dia profesional sekalipun dia keluarga kita itu juga profesional.

Bekerja sama dengan keluarga bisa profesional.
Bekerja sama dengan non keluarga bisa juga tidak selalu menjamin profesional
Jadi ukuran profesionalisme adalah kerja dan dedikasi, bukan apakah dia keluarga atau bukan.

Belajarlah dari orang Italy, dan banyak negara maju.
Mereka bisa bangga mengatakan “Ini karya keluarga saya sendiri”
Karena mereka tahu yang mereka banggakan adalah karya berkualitas.
Jadi banggalah pada diri sendiri, karena diri berkualitas
Banggalah pada keluarga kita sendiri, jika keluarga berkualitas.
Kalau Anda melihat ada orang menunjuk anaknya atau keluarganya menjabat sesuatu,
maka pertanyaannya adalah “Apakah mereka qualified?”
jangan langsung menuduh nepotisme.
Kalau hubungan keluarga yang jadi pertimbangan, maka itu nepotisme.

Tapi ingat, istilah nepotisme hanya berlaku untuk perusahaan atau lembaga publik,
sedangkan untuk perusahaan sendiri (perusahaan keluarga), bebas bernepotisme ria.
Jadi tempatkan segalanya pada proporsi yang tepat.

Budaya “profesional - proporsional” akan memberi kesempatan untuk maju bagi siapa saja.

Silakan tidur di ruangan saya

Isa Alamsyah

Sepasang suami istri setengah baya datang ke lobby sebuah hotel kecil di Philadelphia.
Sudah beberapa hotel mereka datangi dan nampaknya ini harapan terakhir.
Apalagi saat itu hujan turun deras, jadi tak banyak lagi pilihan untuk mereka berteduh.

"Semua hotel besar di kota ini telah terisi, bisakah kau memberi kami satu kamar saja..?" tanya pria itu pada petugas hotel, setengah memelas.
"Semua kamar telah penuh karena ada 3 event besar yang bersamaan diadakan di kota ini," jawab petugas hotel,
"tapi saya tidak mungkin meminta Anda berdua pergi untuk kehujanan di luar sana pada pukul satu dini hari seperti ini," lanjutnya.
Lalu petugas itu bertanya, "Bersediakah Anda berdua tidur di kamar saya? Tidak mewah, tapi cukup baik untuk istirahat."
Akhirnya kedua pasangan itu tidur semalam di ruang tidur sang pegawai, dan sang pegawai tidur sedapatnya.

Pasangan itu sangat berterima kasih pada sang pegawai.
Keesokan harinya, sebelum berpisah, pria tua itu berkata pada si pegawai hotel, "Orang seperti kamu seharusnya menjadi pimpinan hotel terbaik di Amerika. Karena kamu melakukan pekerjaanmu dengan hati yang mau melayani. Mungkin suatu hari saya akan membangunkan sebuah hotel untukmu".
Pegawai hotel itu hanya tersenyum lebar mendengar ocehan orang tua itu, dan mereka pun berpisah.

Kira-kira dua tahun kemudian, pegawai tersebut menerima surat yang berisi tiket ke New York permintaan agar dia menjadi tamu pasangan setengah baya yang pernah ditolongnya.
Setelah tiba di New York, pria setengah baya tersebut mengajak pegawai hotel itu ke sudut jalan antara 5th Avenue dan 34th Street. Di sana pria itu menunjuk sebuah bangunan baru yang luar biasa megah dan mengatakan,
"Itulah hotel yg saya bangun untuk kamu kelola".

Tahukah siapa pegawai tersebut?
Pegawai hotel itu adalah George Charles Boldt, yang kini dikenal sebagai pebisnis perhotelan ternama.
Karirnya melesat sejak ia dipercaya mengelola hotel milik pria yang pernah diizinkan menginap di kamarnya.
Tahukah siapa pria setengah baya yang ditolongnya?
Ia adalah William Waldorf Astor, pemilik jaringan hotel Waldorf-Astoria, yang merupakan salah satu jaringan hotel terbaik di dunia.

Kisah ini menunjukkan pada kita, sebuah kebaikan kecil bisa mengubah masa depan.

No Excuse! untuk tidak berbuat baik
Seringkali kita menganggap kita tidak punya modal untuk berbisnis tapi apakah benar demikian?Modal tidak hanya uang, tapi kepercayaan dan kredibilitas adalah modal yang tidak bisa diremehkan.
Bahkan lebih besar daripada modal uang.

Kisah seperti di atas bisa kita lihat pada kisah Christopher pada buku No Excuse! halaman 11.
Sebuah kebaikan adalah investasi.
Sekalipun jangan berharap pamrih, karena setiap kebaikan akan dibalas oleh Allah SWT,
akan tetapi tidak jarang kebaikan juga langsung berbuah manis di dunia.

Kredibilitas juga modal yang penting.
kita bisa juga lihat kisah Conrad Hilton.
Setelah dipecat dari pekerjaaannya, ia bisa membangun hotel karena ia punya kredibilitas.
Orang percaya padanya sehingga ia dengan mudah bisa meminjam uang yang nilainya 4 kali lipat dari kekayaannya.
Jika ia tidak berinvestasi menjadi orang yang bisa dipercaya, mana mungkin orang mau invest pada Hilton yang baru kehilangan sumber penghasilan.

Sering kita dengar orang mengeluh:"Cari modal susah!""Mana ada orang mau investasi ke saya!"
Pertanyaannya:
Apakah selama ini ia telah membangun image sebagai orang yang bisa terpercaya mengelola modal?

Jadi jangan hanya mengeluh ketika tidak ada modal.
Investasi kebaikan sebanyak-banyaknya dari sekarang.
Bangun kredibilitas dan kepercayaan.Karena kebaikan sebesar biji zarah pun ada balasannya.
Kita tidak pernah tahu bagaimana kebaikan akan menolohng kita di masa depan,
tapi bisa dipastikan setiap kebaikan ada nilainya.

Investasilah dalam kebaikan. No Excuse!

Apakah Anda berada di Habitat yang Tepat?

Isa Alamsyah

Pernahkah Anda melihat Singa?
Sebagian besar mungkin pernah.
Di mana? Di kebun binatang?
Ya sebagian besar melihat singa di kebun binatang, betul?
Apakah Anda takut ketika melihat singa di kebun binatang? Tidak.
Kenapa? Karena Singa sudah dalam kerangkeng.
Kalaupun ada yang dilepas, singanya sudah jinak,
kita bisa menyentuh bisa berfoto ria.

Bagaimana jika Anda bertemu singa di habitatnya alam bebas?
Menakutkan bukan?
Seandainya saja kita melihat singa 50 m jaraknya dari kita di alam bebas,
jantung kita sudah terasa copot.
Lemas, karena hampir tidak mungkin bisa lepas dari mangsanya.

Apa yang membedakan singa di padang Afrika dengan singa
di kebun binatang di kebun binatang? Atau di sirkus?
Kenapa singa di sirkus jadi bahan hiburan, tetapi singa di padang rumput menakutkan?
Singa menakutkan di padang rumput, karena padang rumput adalah habitatnya.
Ketika singa berada di habitatnya mereka mempunyai segala kemampuannya dan menjadi mahluk menakutkan.

Ikan piranha sungguh menakutkan.
Tapi ketika ditaruh di dalam aquarium ikan ganas itu menjadi hiasan yang menarik.
Ikan hiu juga ganas, tetepi ketika ada di aquarium raksasa menjadi totonan.
Jika ikan hiu diletakkan di tengah lapangan, mungkin 1 jam pertama mungkin menggelepar dengan taring terbuka, menakutkan, tapi setelah itu lemas menuju ajal.
Semua mahluk ketika diluar habitatnya maka mereka menjadi lemah.

Bagaimana dengan kita?
Setiap kita juga mempunyai habitatnya (boleh di baca jati diri) masing-masing, apabila kita keluar dari habitat tersebut maka kita akan lemah.

Habitat atau jati diri kemuliaan manusia terletak pada akal dan hatinya, ketika manusia kehilangan ini maka ia kehilangan kemuliaannya.

Seorang pemimpin habitatnya adalah amanah dan kapabilitas. Kalau mereka kehilangan amanah dan tidak punya kapabilitas maka segala yang dipimpinnya akan menuju kehancuran.


Seorang muslim (mohon maaf bagi yang beragama lain jika tidak terlalu familiar dengan bagian ini), habitatnya adalah Al Quran dan hadits. Jika muslim ada dalam habitat ajaran Quran dan hadist maka mereka akan menjadi umat terhormat, punya harga diri, berperestasi dan menyejukkan bagi lingkungan dan masyarakat(rahmat bagi sekalian alam). Jika Muslim keluar dari habitat Quran dan hadits (sebagaimana sebagian besar muslim di dunia saat ini) maka mereka kehilangan harga diri, jadi cemoohan, tertawaan, dan direndahkan.

Fenomena musholah yang ditempatkan di lokasi yang tidak strategis dan sulit dijangkau di sebagian besar mall (padahal ruang merokok ada di tempat strategis dan terkesan mewah) atau fenomena aksi main hakim sendiri atau perusakan atas nama agama, adalah sedikit contoh yang terjadi akibat muslim sudah keluar dari habitat aslinya Quran dan hadits. Karena tidak berpegang dengan ajarannya, maka Muslim tidak punya kekuatan bargain dan menjadi silent majority, tetapi di sisi lain ada juga yang memaksakan kehendaknya jadi bertindak belebihan atau anarkis. Jadi tidak proporsional (tidak tawazun).

Orang sukses habitatnya adalah berkumpul dengan orang sukses, membaca buku-buku positif dan bergaul dengan orang yang berpikiran positif, ikut fan page positif, dan aktif di website yang memberi energi positif.

Pelajar dan ilmuwan, habitatnya di dunia buku, pustaka, dan diskusi.

Intinya, pada setiap individu, pada setiap profesi ada tempat atau atmosfer yang paling ideal untuk mencapai puncak.
Temukan atmosfer tersebut, cari habitat terbaik dan Anda akan sukses.
Insya Allah.

Rabu, Mei 18, 2011

TOLERANSI ISLAM MENURUT PANDANGAN AL-QUR'AN DAN AS-SUNNAH

[1] Islam Adalah Agama Yang Mudah dan Penuh Toleransi Allah Ta'ala berfirman. "Artinya : ... Allah menghendaki kemudahan bagimu dan tidak menghendaki kesukaran bagimu ..." [Al-Baqarah : 185]
Allah menghendaki untuk membersihkan umat Islam yang dirahmati ini dari segala bentuk kesulitan dan belenggu, maka Allah tidak menjadikan untuk mereka kesempitan pada agama ini. Allah Jalla Tsamauh berfirman. "Artinya : Dan berjihadlah kamu dijalan Allah dengan jihad sebenar-benarnya. Dia telah memilih kamu dan Dia sekali-kali tidak akan menjadikan untukmu dalam agama suatu kesempitan. (Ikutilah) agama orang tuamu, Ibrahim. Dia (Allah) telah menamai kamu sekalian orang-orang muslim dari dahulu ...." [Al-Hajj : 78]

[2] Allah Mengutus Muhammad صلی الله عليه وسلم Dengan Membawa Al-Hanifiyah (agama yang Lurus) As-Samhah (yang Mudah) Dari Aisyah رضي الله عنها dia menceritakan : "Rasulullah صلی الله عليه وسلم memanggilku sementara anak-anak Habasyah bermain tombak di masjid pada hari raya, beliau menawariku : "Wahai Humairo ! Apakah engkau suka melihat permainan mereka ?" Jawabku : Ya !. Maka beliau menyuruhku berdiri di belakangnya, lalu beliau menundukkan kedua pundaknya supaya aku dapat melihat mereka, akupun meletakkan daguku di atas pundak beliau dan menyandarkan wajahku pada pipi beliau, lalu akupun melihat dari atas kedua pundak beliau, sementara itu beliau mengatakan : "Bermainlah wahai bani Arfadah !" Kemudian selang setelah itu beliau bertanya : "Wahai Aisyah ! Engkau sudah puas ?" Kataku : "Belum" Supaya aku melihat kedudukanku disisi beliau, hingga akupun puas. Kata beliau : "Cukup?" Jawabku : "Ya". Beliau berkata : "Kalau begitu pergilah!". Aisyah berkata : "Lalu Umar muncul, maka orang-orang dan anak-anak tadi berhamburan meninggalkan mereka (Habasyah), Nabi صلی الله عليه وسلم bersabda : "Saya melihat para syaithan manusia dan jin lari dari Umar". Aisyah mengatakan : Rasulullah صلی الله عليه وسلم ketika itu bersabda. "Artinya : Supaya orang Yahudi tahu bahwa pada agama kita ada keleluasaan, aku diutus dengan Al-Hanifiyah (agama yang lurus) As-Samhah (yang mudah)". [Muttafaq 'Alaihi, kecuali lafadh yang dijadikan dalil yang diriwayatkan oleh Ahmad 6/116 dan 233 dan Al-Humaidi 254 dengan sanad yang shahih]

[3] Agama Yang Paling Allah Cintai Adalah Yang Lurus dan Mudah Hukum-hukum Islam dibangun di atas kemudahan dan tidak menyulitkan, norma-norma agama ini seluruhnya dicintai (oleh Allah) namun yang mudah dari itu semualah yang paling dicintai oleh Allah. Oleh sebab itu, tidak boleh mempersulit diri dalam menjalankan agama Allah dan tidak boleh pula membuat sulit hamba-hamba Allah. Tiada seorangpun yang mempersulit agama ini melainkan dia pasti akan kalah. Lihatlah perbuatan Bani Israil, tatkala mereka mempersulit diri, Allah-pun mempersulit mereka. Kalau seandainya mereka mempermudahnya, niscaya mereka akan diberi kemudahan, perhatikan kisah 'Al-Baqarah!'
[1] Dari Ibnu Abbas رضى الله عنهما, Rasulullah صلی الله عليه وسلم pernah ditanya : "Agama apa yang paling dicintai oleh Allah Azza wa Jalla ? Beliau menjawab : "Al-Hanifiyah As-Samhah" (yang mudah dan yang lurus)
[2]. Oleh karena itu, Ibnu Abbas meriwayatkan, beliau ditanya tentang seorang lelaki yang meminum susu murni, apakah dia harus berwudlu ?. Beliau menjawab : "Bermudahlah niscaya engkau akan diberi kemudahan"
[3]. Yakni gampangkanlah nicaya Allah akan memberi keringanan untukmu dan atasmu. [Lisanul Arab 2/498]
4. Toleransi Adalah Keimanan Yang Paling Utama Rasulullah صلی الله عليه وسلم bersabda. "Artinya : Seutama-utama keimanan adalah sabar dan toleransi" [Shahih Al-Jami' As-Shaghir 1108]
[5] Toleransi Adalah Amalan yang Paling Ringan dan Paling Utama Pernah datang seorang laki-laki kepada Rasulullah صلی الله عليه وسلم sembari bertanya : "Wahai Rasulullah ! Amalan apakah yang paling utama ?" Jawab beliau : "Iman kepada Allah, membenarkan-Nya, dan berjihad di jalan-Nya". Orang tadi berkata : "Aku ingin yang lebih ringan daripada itu wahai Rasulullah ?" Kata beliau : "Sabar dan toleransi" Kata orang itu : "Aku ingin yang lebih ringan lagi".
Beliau bersabda : "Janganlah engkau menuduh Allah Tabaraka wa Ta'ala dalam sesuatu yang telah Allah putuskan untukmu" [Dikeluarkan oleh Ahmad 5/319 dari hadits Ubadah bin Ash-Shamit رضي الله عنه dan 4/385 dari 'Amr bin Arbasah رضي الله عنه dia berkata : 'Apa itu Iman ?" Beliau menjawab : "Sabar dan toleransi", Dia punya penguat dari hadits Jabir رضي الله عنه, maka hadits ini pun shahih dengan jalan-jalan dan penguatnya] [6]
Beberapa Contoh Toleransi
(a) Termasuk toleransi dalam Islam adalah bahwa Islam merupakan agama Allah untuk seluruh umat manusia. Allah berfirman. "Artinya : Dan tidak Kami mengutusmu melainkan untuk menebarkan rahmat di seluruh alam ...." [Al-Anbiya : 107] Allah juga berfirman. "Artinya : Dan tidaklah Kami mengutusmu melainkan kepada seluruh umat manusia sebagai pembawa berita gembira dan pemberi peringatan ..." [Saba : 28]
(b) Toleransi Islam menolak sikap fanatisme dan perbedaan ras Islam telah menyucikan diri dari ikatan dan belenggu jahiliyyah, maka Islam-pun menghapus pengaruh fanatisme yang merupakan sumber hukum yang dibangun di atas hawa nafsu. Islam tidak meridhoi kebathilan fanatisme dan perbedaan ras yang mengukur keutamaan dan kebenaran dengan darah fanatisme dan tanah. Thagut itu benar-benar ada pada syari'at jahiliyah, oleh sebab itu, Islam menghinakannya karena mencekik kemulian insan. Dengan demikian, Islam telah menghidupkan hati dan memakmurkannya dengan iman yang benar dan menghasungnya kepada kebajikan, petunjuk dan keadilan. Serta menghapus perbedaan jenis, bahasa, ras, nasab dan harta benda, menjadikan segenap keutamaan dan kemuliaan untuk ketaqwaan yang merupakan mata air sikap toleransi, puncak tertinggi dan muara keistimewaan dan kelebihannya.

Allah Ta'ala berfirman. "Artinya : Wahai sekalian manusia ! Sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal- mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di sisi Allah diantara kamu adalah orang-orang yang paling bertawqa di antara kamu. Sesunguhnya Allah Maha Mengatahui dan Maha Mengenal" [Al-Hujurat : 13] [Disalin dari kitabToleransi Islam Menurut Pandangan Al-Qur'an dan As-Sunnah, oleh Syaikh Salim bin 'Ied Al-Hilali, terbitan Maktabah Salafy Press, hal. 17-24, penerjemah Abu Abdillah Mohammad Afifuddin As-Sidawi]

MALU pertanda iman

Dari Abu Mas'ud, 'Uqbah bin 'Amr Al Anshari Al Badri
"Sesungguhnya diantara yang didapat manusia dari kalimat kenabian yang pertama ialah : Jika engkau tidak malu, berbuatlah sekehendakmu."
HR. Bukhari

Penjelasan:
Sabdanya "kalimat kenabian yang pertama", maksudnya ialah bahwa rasa malu selalu terpuji dan dipandang baik, selalu diperintahkan oleh setiap nabi dan tidak pernah dihapuskan dari syari'at para nabi sejak dahulu. Sabda beliau : "berbuatlah sekehendakmu", mengandung dua pengertian, yaitu : pertama, berarti ancaman dan peringatan keras, bukan merupakan perintah, sebagaimana sabda beliau : "Lakukanlah sesuka kamu" Yang juga berarti ancaman, sebab kepada mereka telah diajarkan apa yang harus ditinggalkan.

Demikian juga sabda Nabi SAW : "Barang siapa yang menjual khamr maka hendaklah dia memotong-motong daging babi". Tidak berarti bahwa beliau membenarkan melakukan hal semacam itu. Pengertian kedua ialah hendaklah melakukan apa saja yang kamu tidak malu melakukannya, seperti halnya sabda Nabi صلی الله عليه وسلم : "Malu itu sebagian dari Iman". Maksud malu di sini adalah malu yang dapat menjauhkan dirinya dari perbuatan keji dan mendorongnya berbuat kebajikan. Demikian juga bila malu dapat mendorong seseorang meninggalkan perbuatan keji kemudian melakukan perbuatan-perbuatan baik, maka malu semacam ini sederajat dengan iman karena kesamaan pengaruhnya pada seseorang. Wallaahu a'lam.

Selasa, Agustus 11, 2009

Doa Untuk Bangsa: Kesyahduan dalam Dzikir dan Doa

Ratusan ribu kaum muslimin memadati pelataran Monumen Nasional (Monas) pada Rabu (05/08/09), mereka datang dari berbagai wilayah di Jabodetabek untuk menghadiri acara yang digagas oleh Majelis Rasulullah SAW pimpinan Habib Munzir Bin Fuad Al Musawa. Acara yang digelar bertepatan dengan malam Nisfu Syaban tersebut bertujuan untuk menghidupkan salah satu malam mulia dengan doa dan munajat juga untuk memohon keselamatan dan kesejahteraan bagi seluruh bangsa, hingga kemudian acara tersebut diberi tajuk “Doa Untuk Bangsa”.

Beberapa Pejabat tampak hadir, seperti Wakil Presiden RI, Jusuf Kalla. juga Gubernur DKI Jakarta, Fauzi Bowo. Serta para Habaib dan Ulama. Juga beberapa tamu undangan dari Negara tetangga.

Acara dimulai dengan pembacaan Surah Yasiin sebanyak tiga kali, dan setiap selesai satu kali pembacaan Surah Yasiin tersebut, Habib Munzir memimpin doa khusus malam nisfu syaban. Suara Habib muda berusia 36 tahun itu begitu lantang dan syahdu membuat ratusan ribu jamaah larut dalam kekhusukan, terasa betul suasana khidmat memenuhi lapangan monas. Setelah pembacaan Surah Yasiin, acara dilanjutkan dengan pembacaan Maulid Adhiyya Ul’lami, Riwayat hidup Manusia Termulia Rasulullah SAW yang ditulis oleh Al Musnid Al Habib Umar Bin Hafidz itu seolah sudah begitu lekat dengan jamaah yang rata-rata berusia muda, terbukti dengan gemuruh suara jamaah yang mengikuti pembacaan bait demi bait syair riwayat tersebut. Air mata kerinduan pada Manusia Termulia Rasulullah SAW menitik saat prosesi yang dikenal dengan Mahallul Qiyam, kerinduan makin terasa di tengah banyak jamaah yang histeris meneriakan kerinduan mereka.

Setelah beberapa rangkaian acara, Wakil Presiden RI, Jusuf Kalla berkesempatan memberikan sambutannya. Inti dari sambutan Beliau, yaitu dukungan beliau untuk perkumpulan-perkumpulan yang mendatangkan kesejukan dan kedamaian melaui dzikir dan doa bersama.

Tiba kemudian waktunya Habib Munzir Al Musawa memberikan Tausyiahnya, selain mengungkapkan perihal keutamaan Malam Nisfu Syaban. Habib Munzir juga mengungkapkan soal kelembutan Rasulullah SAW. Hal ini seolah menjawab berbagai tindak kekerasan atas nama agama yang belakangan terjadi di tanah air. “Islam adalah kesatria, bukan pengecut, jika musuh memerangi dengan senjata maka perangi dengan senjata, jika dengan siasat maka perangi dengan siasat. jika mereka memerangi dengan harta maka perangilah juga dengan harta”, Ungkap Beliau dengan penuh semangat.

Kemudian Habib Munzir juga mengemukakan salah satu bukti kelembutan Rasulullah SAW melalui salah satu riwayat tentang pemuda yahudi yang ingin berkhidmat di rumah Rasulullah SAW . Rasulullah SAW menerimanya dengan tangan terbuka, beliau tidak menghardik dan mengusirnya atau memaksanya masuk islam. Habib Munzir terdiam sesaat kemudian dengan suara keras bertanya “Adakah orang yang lebih benci pada kekufuran melebihi Muhammad SAW?” . Namun begitu Beliau SAW menerima pemuda kafir yahudi tersebut, bahkan tinggal di rumah Beliau SAW, sampai kemudian pemuda itu sakit, Rasul SAW menjenguknya dan di sakaratul maut pemuda kafir yahudi itupun memeluk islam, demikian dalam Shahih Bukhari.

Menjelang akhir tausyiahnya, Habib Munzir juga mengangkat sebuah kisah tentang Abdullah bin Ubay bin Salul, gembong munafik di Madinah yang berhati kufur, Islam hanyalah kedok baginya, ia selalu mengabarkan rahasia muslimin pada kuffar quraisy, jika Rasulullah SAW berangkat berjihad maka ia berusaha menghalangi dengan kata kata fitnah, namun diam diam ia kabarkan bahwa jumlah pasukan muslimin dan seluruh rahasia kepada kuffar quraisy, jika Rasul SAW pulang selamat maka ia menyambut Rasulullah SAW dengan sambutan hangat, menangis gembira, dan mohon ampunan karena tak ikut peperangan, namun ia tetap dalam kemunafikannya. Saat ia sakaratul maut dan wafat maka Rasulullah SAW datang menyolatinya, menguburkannya, dan anaknya yang juga bernama Abdullah adalah orang yang beriman, dia meminta baju Rasulullah SAW untuk menjadi kain kafan ayahnya yang munafik itu, Rasulullah SAW memberikannya, lalu turun ayat bahwa Allah tak akan mengampuni Abdullah bin Ubay bin Salul, Rasul SAW berkata pada Umar RA “Allah melarangku memohonkan pengampunan untuknya, walau tujuh puluh kali ku istighfari pun dia tetap tak akan diampuni Allah, namun jika seandainya Allah akan mengampuninya jika kuistighfari lebih dari tujuh puluh kali , maka akan kuistighfari ia lebih agar diampuni Allah, namun aku mengetahui memang Allah tak mau memaafkannya" (Shahih Bukhari). Demikian akhlak penuh kelembutan yang ditunjukkan Idola termulia kaum muslimin, Rasulullah SAW.

Di penghujung acara, Habib Munzir kembali memimpin Dzikir Lafdhal Jalallah sebanyak seribu kali. Suasana khusuk dan syahdu kembali memenuhi udara malam di sekitar lapangan monas, ratusan ribu kaum muslimin menyebut nama ALLAH SWT secara serentak. Menumpahkan segala hajat dan kerinduan pada Sang Maha Pencipta, air mata tak terbendung lagi malam itu. air mata penyesalan, air mata memohon pengampunan dan juga air mata penuh harapan. Semoga acara semacam ini menjadi oase penyejuk di tengah gersangnya keadaan negeri muslimin terbesar di dunia ini, dan juga Allah SWT mempercepat datangnya kemakmuran di negeri ini.

Senin, Februari 23, 2009

Agamamu, Agamaku, Agama-Agama Kita

God is too Big
to be contained in one single container.

Apa yang dirasakan oleh sekuntum bunga yang baru saja mekar? Bahagia….
Kebahagiaan yang tak terjelaskan lewat kata-kata. Itulah pertama kalinya ia
mengalami sesuatu yang luar biasa. Sesuatu yang tak akan dialaminya lagi.
Sesuatu yang terjadi hanya “sekali” saja. Ia bersuka-cita, ia menari dan
menyanyi riang….. Ia mengumpulkan para sahabat dan kerabat untuk berbagi
berita baik itu dengan mereka: “Lihat, lihat…. Aku telah mekar!”

Apa yang terjadi, How did it happen?
Entah apa yang terjadi, entah bagaimana….. Ia berusaha untuk mejelaskan,
tetapi tidak mampu. Ketika Kabir, mistik sufi asal India Utara itu ditanya,
“Apa yang kau rasakan saat itu?” Ia menjawab, “Kulihat sungai Ganga yang
berbadan lebar itu terbakar, dan ikan-ikannya memanjat pohon!”

Nanak, yang kelak akan dikaitkan dengan agama Sikh, salah satu diantara
agama-agama baru yang berusia dibawah enam abad, menjawab dengan cara lain:
“Aku melihat langit terbelah, dan turun hujan cahaya….. Cahaya Murni!”

Namun, mereka pun menyadari bahwa pengalaman mistik mereka tidak berarti
apa-apa jika tidak bermanfaat bagi orang lain. Maka, terpaksa, mereka berusaha
untuk meng-“akal”-kan sesuatu yang sungguhnya berada diluar akal, supaya
kita dapat memahaminya. Supaya “masuk-akal” kita!

“Agama, dan kitab-kitab suci,” kata Murshidku, Sheikh Baba, seorang tukang
es di Lucknow (Pusat Peradaban Islam di India Utara), “adalah hasil upaya
seperti itu.”

Ia melanjutkan, “Agama dan kitab-suci adalah sarana, bukan tujuan. Gunakan
mereka sebagai pemicu untuk memicu kesadaran di dalam dirimu. Untuk memicu
kehausan dan kerinduan di dalam dirimu. Untuk apa? Untuk mengalamai sendiri apa
yang dialami oleh para rasul, para sufi, juga para yogi, para suci dan mistik
dari semua agama, semua tradisi.

“Jika kau menganggap agama dan kitab suci sebagai tujuan, kau akan menduakan
Allah. Itulah yang dilakukan banyak orang saat ini. Tujuan adalah Allah.
Dari-Nya kita berasal, kepada-Nya kita kembali.”

Pemahaman tentang agama seperti inilah yang menjadikan agama Berkah atau Rahmat
bagi Alam Semesta. Tafsir ini menjadikan agama Jalan Raya, Jalan Tol yang dapat
dilalui siapa saja, kapan saja…. Jalan bebas hambatan.

Berbicara atau menulis tentang agama, atau tepatnya “pemahamanku tentang
agama”, aku tidak dapat tidak mengutip Guruku, Murshidku, Sheikhku. Segala apa
yang kumiliki saat ini hanyalah karena berkahmu, Guru!

Ia adalah penjual es, miskin materi, berpakaian compang-camping, robek sana,
robek sini yang kemudian disulam dengan rapi oleh keponakannya….. Tidak
seperti para ustad muda jaman kita yang sering muncul di layar teve. Tata Rias
oleh ……. Busana oleh …….. Tepuk Tangan!

Sayang, setting panggung dan busana penuh gemerlap itu jarang menunjukkan
kegemerlapan hati sebagaimana pernah kusaksikan dalam diri Murshidku. Seorang
tukang es, penjual es balok.

Ketika seorang remaja dari keluarga Hindu menyampaikn niatnya untuk “masuk
Islam”, ia pun tertawa: “Kata siapa kau belum masuk Islam? Ingat, Penyerahan
Diri dan Kedamaian Hati itulah Islam. Penyerahan Diri terhadap Kehendak Ilahi
dan Kedamaian Hatimu sendiri – dan, kau, nak, memiliki keduanya. Kau sudah
menyatakan niatmu untuk masuk Islam, dan Allah telah mendengar niatmu itu.

“Tetapi,” nah ini yang luar biasa, yang barangkali jarang didengar di
negeri kita, “janganlah sekali-kali menymbongkan dirimu sebagai Muslim.
Biarlah Allah yang menentukan apakah Penyerahan Dirimu sudah sampurna atau
tidak.”

“Aku ingin lebih dekat denganmu, Guru!” remaja itu masih ngotot.

“Kau sudah dekat dengan Allah.
Tugasku selesai sudah. Dengar nak, aku pun, hingga saat ini masih ber-jihad
untuk menjadi seorang Muslim. Aku pun masih menunggu fatwa-Nya apakah aku
diterima sebagai Muslim atau tidak.”

Jihad, bagi Guruku, berarti Koshish dalam bahasa Urdu, To Strive, To Struggle,
bukan To Fight, “Jihad berarti ‘Berupaya dengan Sungguh-Sungguh’. Jihad
bukan berantam, bukan berkelahi,bukan mencaci-maki, apalagi membunuh.”

Ia menggunakan bahasa sederhana, bahasa populer, bahasa gaul untuk jaman
itu….. maklum, umunya para murid adalah remaja, anak-anak muda….. dan, yang
termuda, yang baru berusia 11-12 tahun, seorang anak yang berasal dari Solo,
Jawa-Tengah, Indonesia.

“Tetapi, ada juga ayat yang mengatakan bahwa di yang diridhai Allah hanyalah
Agama Islam.” Murid yang paling tua, berusia 30-an tahun, mengingatkan sang
Guru akan satu ayat dari kita yang memang bunyinya kurang-lebih begitu.

Sang Guru tersenyum, “Bukan diridhai, tidak ada istilah ridha dalam ayat itu.
Ridha itu bahasa Arab, dan Al-Qur’an dalam bahasa Arab. Jika memang Allah
ingin menggunakan istilah ridha, Ia akan menggunakannya. Aku memaknai, memahami
ayat itu seperti ini: Bagi Allah yang ada hanyalah Islam.”

Beliau tidak pernah meng-klaim sebagai penafsir Kitab Suci, “Siapakah kita
ini hingga dapat menafsirkan Firman Allah? Kita hanya dapat memahami Firman-Nya
sesuai dengan tingkar kesadaran kita masing-masing.

“Sebab itu,” ia pun selalu menasihati kita, “janganlah sekali-kali merasa
sudah ‘khatam’, sudah selesai dengan kitab-sucimu. Kitab-kitab suci bukan
untuk dibaca seperti buku-buku umum lainnya. Kita-kitab suci harus diulangi.
Terus-menerus, sepanjang hidupmu….. karena, setiap kali kau membacanya, jika
kesadaranmu telah meningkat, kau akan memperoleh makna baru.”

Sebab itu pula, beliau selalu menganjurkan kita untuk membaca kitab-suci,
bahkan mengaji dalam bahasa Urdu, salah satu dari sekian banyak bahasa nasional
India, “Karena, dengan cara itu kalian dapat lebih memahami arti kitab
suci.”

Majelis-majelis ulama di India maupun Pakistan tidak mengharamkan pengajian
dalam bahasa Urdu, bahkan bahasa daerah lainnya. Sehingga, seperti yang
dikatakan oleh Guru, “Kalian tidak seperti burung beo, hanya menghafal
saja!”

Wah, Guru, untung kau lahir di India.
Kalau lahir di Indonesia, barangkali sudah diperkarakan oleh mereka yang merasa
lebih tahu dan memonopoli ajaran agama.

Kembali pada beliau, “Ya, di mata Allah yang ada hanyalah satu, yaitu Islam.
Dan, semua Nabi adalah Muslim. Hazrat Isa yang ajarannya menjadi inspirasi bagi
agama Masihi, Hazrat Musa yang syariatnya menjadi agama Yahudi – mereka semua
adalah Muslim. Tanpa kecuali. Bahkan, nabi-nabi lain, dari tradisi-tradisi lain
yang tidak disebut dalam Al-Qur’an. Karena, Allah pun berfirman bahwa tidak
semua nabi dijelaskan lewat Al-Qur’an.”

Beliau mengartikan Islam sebagai “sifat dari agama”. Dan, “sifat”-nya
itu satu. “Seperti,” Beliau jelaskan, “gula hanya memiliki satu sifat,
‘Manis’. Itu saja. Apapun bahan baku yang digunakan untuk membuat gula, jika
tidak manis, ya bukan gula.

“Din adalah sifat Mazhab.
Din adalah Keagamaan, inti sari agama, agama yang dilakoni, dijalankan. Mazhab
adalah wahananya, alirannya. Yang mengalir adalah Air Kehidupan Din. Mazhab
adalah agama, aliran. Din adalah keagamaan, air yang mengalir.

“Apapun Mazhabmu,
Jika kau menjalankannya dengan baik, maka kau telah menemukan Din. Dan, Din
itulah yang diperhatikan oleh Allah.

“Agak tidak tepat jika Din diartikan sebagai agama.
Karena, ketika Al-Qur’an diterima oleh Kekasihku,” Ya, ‘Kekasihku’,
atau Mere Mehboob dalam bahasa Urdu, dengan julukan itulah beliau sering
menyebut Rasul Allah, Muhammad yang kumuliakan…… “saat itu sudah ada agama
Masihi, ada agama Yahudi, ada kelompok-kelompok lain pula. Kendati demikian,
Firman Allah jelas dan tegas bahwa Isa yang dijunjung tinggi oleh kelompok
Masihi, dan Musa yang dijunjung tinggi oleh kelompok Yahudi, adalah Muslim,
Nabi. Tidak ada yang lebih tinggi, tidak ada yang rendah. Semua Nabi, semua
Rasul sama adanya.

“Din adalah ‘laku-agama’, perilaku yang sesuai dengan ajaran agama. Dan,
ajaran agama sungguh sangat luas, tidak dapat dijadikan monopoli salah satu
kelompok. Maka, Allah pun menasihati kita supaya melakoni agama sesuai degan
kesadaran kita, dan membiarkan orang lain melakoninya sesuai dengan kesadaran
dia.

“Sungguh sangat tidak bijak jika kita mengharuskan seorang anak yang baru
berusia 5 tahun untuk melakoni agama dan memahami ajaran agama sebagaimana
dilakoni dan dipahami oleh seorang dewasa.”

Saat itu, pemahaman agama seperti itu terasa “oke-oke” saja. Masuk akal
sih, walau usia saya baru 11-12 tahun. Beberapa tahun kemudian, kembali ke
Indonesia, saya baru sadar betapa revolusionernya pemahaman Guruku, Murshiduku,
Sheikhku…. Waheguru, Wah Guru, Engkau sungguh hebat!

Di lain kesempatan ia merestui perkawinan antara dua orang muridnya yang beda
agama. Perkawinan seperti itu memang tidak dilarang oleh konstitusi negara
India, kendati sebagian masyarakat masih belum dapat menerimanya. Saat itu,
seorang murid lain berkomentar, “Baba, bagaimana jika kelompok fundamental
menyerangmu?”

“Ah, kelompok fundamental….
Apa benar mereka fundamental? Jika benar fundamental, mereka tidak akan
menyerang. Karena mereka tahu persis ketika Mere Mehboob kawin dengan Khadija,
ritual Agama Islam pun belum ada. Perkawinan mereka itu sesuai dengan ritual
agama yang mana? Apakah perkawinan mereka tidak sah?

“Tidak, yang dapat menyerang saya bukanlah kelompok fundamental. Tetapi,
segerombolan orang-orang yang belum memahami agama. Kasihan. Ya, mereka patut
dikasihani. Aku akan menerima serangan mereka, dan akan berusaha untuk
menjelaskan sebatas kemampuanku.”

Ia bukanlah seorang Guru yang suka memasang senyuman plastik. Ketika gusar, ia
tidak berusaha untuk menyembunyikan kegusarannya. Seperti ketika ia menghadapi
teman-teman dari kelompok Wahabi yang meneruskan sekte Hambali yang alot, keras,
kaku. Mereka mengaku sebagai satu-satunya kelompok dalam Islam yang masih setia
pada Al-Qur’an dan Hadis. Mereka tidak relah jika ada yang melakukan ijtihad
dan berusaha untuk memahami ayat-ayat suci sesuai dengan kesadarannya.

Mereka adalah kelompok yang selalu berseberangan dengan Cak Nur, Gus Dur, Cak
Nun, Dawam, Ma’rif. Mereka selalu membela para penjahat dan teroris seperti
Amrozi, Samudra dan lain-lain.

Kepada mereka, Sang Guru mengatakan , “Janganlah hidup dalam ilusi seolah
dengan memelihara janggut seperti nabi, atau berjubah seperti beliau – kalian
sudah cukup Islam. Berakhlaklah seperti beliau.

“Nabi mengangkat pedang hanya untuk melawan kezaliman, demi kebebasan dan
kemerdekaan….. Apa yang kalian lakukan? Setiap tahun mengejar teman-teman kita
dari kelompok Shi’a. Tidak pernah berhenti sebelum jatuhnya korban, sebelum
ada nyawa yang melayang. Mencaci-maki kelompok-kelompok lain. Kalian adalah Daag
pada wajah Islam.” Daag dalam bahasa Urdu berarti “Noda”.

Sekitar tahun 1960-an memang masih sering terjadi pertikaian antara kelompok
Shi’a dan Sunni, khususnya menjelang hari berkabung bagi kelompok Shi’a
dimana mereka memperingati kematian Hassan dan Hussein, cucu Nabi, Mere Mehboob,
Kekasihku.

Beliau, Guruku, sungguh merupakan ensiklopedi kebijakan. Suatu ketika ia
menjelaskan, “Nabi kita begitu rendah hati, begitu sopan, santun, sehingga
siapapun yang datang kepada-Nya, ia akan berkata, ‘Doakanlah diriku,
keluargaku, sahabatku’…. Padahal, bukanlah beliau yang membutuhkan doa kita.
Kitalah yang membutuhkan doa beliau.

“Sekarang, apa yang terjadi?
Telah menjadi kebiasaan kita untuk setiap kali mendoakan beliau. Tidak apa,
baik-baik saja. Asal kita tidak menjadi sombong, tidak menjadi angkuh seolah
beliau membutuhkan doa kita.

“Tisak, beliau tidak membutuhkan doa kita.
Kitalah yang membutuhkan doa beliau!”

Tetapi, kemudian, ia pun selalu mengingatkan kita, “Janganlah kalian
membingungkan teman-teman yang belum siap untuk pelajaran ini. Mereka yang belum
siap dengan materi yang kita dapatkan disini.

“Dalam setiap tradisi, dalam agama manapun, kita selalu diingatkan supaya
tidak melemparkan mutiar kepada kawanan babi. Bhagavad Gita pun mengatakan,
janganlah menyebarluaskan ajaran ini di tengah masyarakat yang belum siap.

“Babi diberi mutiara, apa yang terjadi?
Ia tidak tahu nilai mutiara, ia memakannya, keselek, dan ia tidak dapat
benapas. Ia gusar dan akan menyerangmu kembali.

“Berikan mutiara kepada mereka yang mengerti nilai mutiara. Kepada mereka
yang mengapresiasinya. Kepada mereka yang akan menghargainya.

“Seorang yang memiliki pengetahuan dan tidak berbagi dengan orang lain yang
siap untuk menerimanya, adalah seorang kikir, pelit. Berbagilah dengan mereka
yang siap.

“Tuhan ada dimana-mana, di Barat dan di Timur, di Selatan dan di Utara.
Wajah-Nya ada dimana-mana, tetapi untuk pemusatan kesadaran kita membutuhkan
kiblat…. maka, dalam setiap agama ada kiblat.

“Jagalah tali persahabatan dengan sesama manusia….. ya, dengan mereka yang
berjiwa manusia, bukan berbadan manusia saja……” Beliau selalu menasihati
kita untuk menjauhi mereka yang hanya berbadan manusia. Tidak perlu membenci
mereka, hanya menjauhi saja, “Karena, kehewanian mereka bagaikan penyakit
menular. Nanti, pada suatu ketika, jika kau sudah memiliki kemampuan untuk
mengobati mereka, silakan mendekati mereka…. Tetapi, jangan dulu, jangan
sekarang…. Kemampuan seperti itu belum ada dalam diri kita.”

Din, atau melakoni agama, menjalani ajaran agama, bagi beliau adalah proses
seumur hidup, “Jika kau menganggap dirimu sudah menjadi Ulama, sudah memiliki
Ilmu – maka kau akan mati dengan ilmumu itu. Segitu-gitu saja yang kau miliki.
Kau tidak akan berkembang lebih lanjut.

“Seorang Ulama Sejati tidak pernah berhenti menggali diri…. Ia menemukan
pemahaman-pemahaman baru dalam dirinya, bukan saja dengan membaca ulang kitab
suci, tetapi dengan memahami ayat-ayat Allah yang bertebaran di alam semesta.
Dimana-mana.”

Ya, Ayat-Ayat Allah bertebaran dimana-mana, “Ada yang dirangkum dan ditulis,
dicetak…. Kita menyebutnya Al-Qur’an, Bacaan Mulia. Ada yang menyebutnya
Bhagavad Gita, Nyanyian Mulia. Ada pula yang menyebutnya Injil, Berita Mulia.
Semuanya mulia.

“Aku percaya,” lanjut Guruku, “bahwa semua itu berasal dari Satu, dari
Allah. Semuanya, tanpa kecuali, berasal dari Yang Maha Kuasa, Yang Maha Esa.

“Dulu, aku pun sering mempersoalkan teman-teman Hindu yang kuanggap memuja
berhala….. Tetapi, kemudian kupahami bahwa apa yang kuanggap berhala, adalah
kiblat mereka. Mereka menggunakan semua itu sebagai sarana untuk memusatkan
kesadaran mereka, sebagaimana aku menggunakan kaligrafi, bahkan gambar Mekah
Shariff sebagai sarana untuk pemusatan kesadaranku.”

Dengan bekal pemahaman agama seperti inilah aku kembali ke negeri asalku, ke
tanah air, ke Indonesia….. dan, awal-awalnya masih oke….. tetapi,
lambat-laun, pemahaman agama yang berkembang disini sungguh membingungkan aku.

Agama tidak lagi menjadi sarana.
Agama disejajarkan dengan Tuhan, dianggap absolut. Begitu pula dengan kitab
suci…. Dan, yang lebih celaka lagi, Manusia Indonesia, oleh lembaga yang
merasa paling kompeten, tidak lagi diperkenankan untuk memahami aajaran agama
sesuai dengan kesadarannya. Ia tidak diperkenankan untuk berijtihad. Pemahaman
agama dibungkus rapi dalam kapsul, di pak, dan diberi tanda, “Sesuai dengan
…..” Dan, hanyalah pak atau botol bertanda “Sesuai dengan ……” itulah
yang diperjual-belikan.

Agama menjadi komoditas. Mereka yang merasa memiliki monopoli terhadap agama,
menjajahnya di pasar untuk diperjualbelikan. Para politisi menggunakannya dengan
cermat. Para pengusaha pun idak mau kalah.

Sementara itu, Lia Aminuddin diperkerakan, Ahmadiyah dikejar-kejar….. Jika
Guruku disini, barangkali darahnya sudah dinyatakan halal. Terlepas dari setuju
atau tidaknya kita terhadap apa yang dikatakan oleh Lia dan apa yang didakwahkan
oleh Ahamadiyah, jangan lupa apa yang kita katakan dan dakwahkan pun tidak
diseutujui semua orang. Ya, kebetulan saja kita mayoritas, sehingga minoritas
mati kutu.

Agama, sebagaimana kita pahami dan praktekkan saat ini, jelas tidak menjadi
Rahmat bagi Alam Semesta. Jangankan Alam Semesta, bagi negara kita pun tidak
bisa.

Agama sebagaimana dipraktekkan oleh kelompok-kelompok militan di Timur Tengah
misalnya, menyebabkan penderitaan dan kesengsaraan bagai seluruh rakyat
Palestina dan Lebanon. Saat ini, silakan berpihak pada mereka – kelak, jika
Bangsa Palestina dan Lebanon bangkit, namamu akan dimasukkan dalam daftar para
pengkhianat bangsa dan negara. Kewarasan kita tidak setuju dengan serangan
agresor Israel, tetapi kewarasan kita juga tidak setuju dengan kekerasan yang
dilakukan oleh kelompok-kelompok militan sehingga selalu memicu perang di
kawasan itu.

Palestina, Lebanon, Irak….. negara-negara di Teluk yang merasa tertindas saat
ini, harus mengupayakan kelahiran seorang Gandhi. Jangan membalas kejahatan
dengan kejahatan, dan kejahatan yang menyerangmu akan kehabisan energi. Mereka
akan berhenti sendiri. Saat ini, kejahatan Israel malah mendapatkan energi dari
kelompok-kelompok militan di Timur Tengah. Mereka memperoleh alasan untuk
melakukan agresi militer.

Adalah suatu kemalangan bahwa kelompok-kelompok militan seperti itu, ada juga
di tanah-air kita. Ada juga tokoh-tokoh yang menyebarluaskan kebencian dengan
menggunakan dalih agama. Ayat-ayat suci diselewengkan artinya, dan penyelewengan
itu disebut ilmiah. Baru keluar dari penjara, sudah berkarya kembali. Seribu
orang menghadiri Tabligh Akbar yang digelarnya. Tepuk Tangan!!

Agama adalah Berkah.
Ia menjadi Rahmat yang menyebarkan Kasih, atau menjadi Laknat yang penuh
Kebencian – karen ulah manusia, karena kita. Karena pemahaman kita, karena
laku kita.

Agama merupakan Rahmat bagi Alam Semesta.
Agama-agama, setiap agama, agamaku dan agamaku, agama kita semua – yang
intinya adalah satu, Penyerahan Diri pada Kehendak Ilahi – tanpa kecuali
merupakan Berkah dan berpotensi sebagai Rahmat bagi Alam Semesta. Berpotensi.
Benih Potensi itu mau ditanam, disiriami air kehidupan, dipupuki dengan
cinta…… atau dibiarkan jatuh diatas tanah yang gersang, dan mati dalam
kekeringan…… semuanya kembali pada kita.

Agama adalah sesuatu yang bersifat sangat individu, dalam pengertian setiap
orang harus menjalaninya sendiri. Ia tidak dapat diwakilkan. Tidak ada yang
menjadi perantara antara khalaq, ciptaan Allah, dan Khaaliq, Gusti Allah., Sang
Maha Cipta. Institusi-institusi yang saat ini berperan sebagai perantara tak
akan bertahan lama.

Kebangkitan Manusia Indonesia, bangkitnya kesadaran dalam diri kita – akan
mengakhiri peran institusi-institusi tersebut. Dan, institusi-institusi tersebut
pun menyadari hal ini. Mereka memahaminya betul. Mereka tahu bahwa
institusi-institusi mereka melanggar Hukum Alam, bertentangan dengan Firman
Allah.

Berkah dan Rahmat adalah dari Allah.
Berkah tidak dapat diinstitusikan. Rahmat tidak dapat dilembagakan. Segala
upaya ke arah itu hanya membuktikan ketololan kita.

Lalu, bagaimana agama yang konon diakui sebagai rahmat bagi seluruh alam, dapat
diinstitusikan? Bagaimana dapat dilembagakan?

Namun, kenyataan di lapangan, ground facts, membenarkan bahwa setiap agama
telah diinstitusikan, dilembagakan…… Apa iya? Jika memang demikian,
bagaimana dengan Firman Allah bahwa Agama adalah Rahmat bagi Seluruh Alam? Apa
iya, Rahmat Allah dapat diinstitusikan?

Saya tidak tahu.
Yang jelas, pelembagaan semacam itu telah menyusahkan banyak orang.
Memecah-belah umat, memicu pertikaian, pertengkaran, bahkan perang atas nama
agama.

Jangan-jangan, dalam kegagapanku aku berpikir, jangan-jangan yang mereka anggap
agama dan dilembagakan itu bukan agama….. ini memang pemikiranku yang sangat
bodoh dan tidak ilmiah….. Jangan-jangan yang mereka lembagakan dan
institusikan itu hanyalah “ego” mereka, kesombongan mereka, keakuan mereka
yang merasa sudah tahu segala sesuatu tentang agama.

“Manusia yang masih merupakan konsep, masih harus berjuang untuk menjadi
final,” kata seorang teman, “malah berusaha untuk menciptakan konsep tentang
Tuhan.” Inilah kesia-siaan kita. Inilah kekacauan pikiran kita.

Lembaga-lembaga dan institusi-institusi kita hanya menyandang nama agama.
Identitas agama digunakan oleh pengusaha dan pedagang bagi usaha mereka, warung
mereka. Digunakan oleh para politisi sebagai asas partai mereka. Bahkan pembela
para penjahat pun menggunakannya secara bebas. Tidak ada yang menegur mereka?
Kenapa? Karena, kita semua melakukan kesalahan yang sama. Kita semua, sama-sama
gila!

Agama adalah Rahmat bagi seluruh Alam.
Alas, sayang, kita belum beragama…. Kita belum merasakan Rahmat-Nya…..
Turunnya Hujan Berkah tidak memberi manfaat apa-apa kepada kita, karena kita
berdiri tegak seperti gunung, bukit. Kita tetap gundul.

“Jadilah Lembah,” kata Lao Tze, “rendahkan dirimu, dan kau akan menjadi
subur….. Air hujan akan menggenang, kau dapat menampungnya!” Kemudian, agama
pun betul-betul menjadi Rahmat bagi Alam Semesta.

Agama manapun,
Agamamu dan Agamaku, Agama-Agama kita….. Agama yang merupakan jalan, dan
setiap jalan menuju tujuan yang satu dan sama – Allah! Kau menyebutnya Allah,
ada yang menyebutnya Bapa di Surga, Hyang Widhi, Tao, Buddha, Satnaam, Ahura
Mazda, Gusti – apa saja – Ia Satu dan Sama.

Banyak Jalan, Satu Tujuan.
Namun, jangan pula berhenti di pinggir jalan sembari mengagung-agungkan semua
jalan. Pilihlah salah satu diantaranya, dan mulailah berjalan…… Saat itu,
Agama sunggu menjadi Rahmat bagimu. Bagiku. Bagi kita semua!

ANAND KRISHNA
“Dibuat khusus untuk Jurnal Edukasi - Alternatif Wacana Pendidikan, Volume
IV, Nomor 1, April 2007 ”
- Sebuah Renungan Spiritual, Bukan Tulisan Ilmiah -
_______________-
ini sebuah tulisan yang menarik sebagai referensi menyikapi perbedaan.