Ini merupakan curahan hatinya Zack, pemikiran-pemikirannya Zack, pertimbangan-pertimbangannya Zack dan Konsep rencana ke depannya Zack
Jumat, Juni 19, 2009
SEMUANYA KARENA ALLAH
Salam Hikmah
Assalaamu 'alaikum wa rahmatullaahi wa barakaatuh
Salam Sejahtera untuk kita semua
Sahabat Hikmah...
Dulu kita TIDAK ADA...
Terus Allah pertemukan sperma ayah kita dan telur ibu kita...
Allah jadikan itu segumpal darah,segumpal daging
dan terbentuklah raga...
Dia memberi kehidupan kita di perut ibu dan menjaganya selama 9 bulan 10 hari
Dari perut ibu, lahirlah bayi mungil yang tak berdaya...
Hari demi hari ...bayi yang tak berdaya itu menjadi kuat karena-Nya
Akhirnya kita hidup di Bumi...
Berkembang biak dan membuat peradaban...
Bumi ini pun dulunya tanah gersang...
Lalu Allah turunkan hujan, sehingga tumbuhlah kehidupan...
Semua kehidupan di langit dan bumi ada dalam genggaman-Nya
Sahabat Hikmah...
Karena-Nya kita ADA....
Karena-Nya kita HIDUP...dan ada KEHIDUPAN...
Karena-Nya kita mendapat RIZKI...harta, keluarga dan saudara....
SEMUANYA karena-Nya...
Tiada yang lain...hanya satu..
Semuanya karena Allah
Maka sudah selayaknya...sahabatku...
KITA SERAHKAN SEMUANYA KEPADA ALLAH...
Itulah yang diperintahkannya kepada kita, Allah berfirman:
Katakanlah (Hai Muhammad) : "Sesungguhnya SHALATKU, IBADAHKU, HIDUPKU dan MATIKU HANYAlah untuk Allah, Tuhan semesta alam, TIADA SEKUTU bagi-Nya; dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri kepada Allah (Muslim) ".
(QS 6:162-163)
Wassalam
OFA
Melipatgandakan Pahala Sedekah
Pada suatu saat ketika para Sahabat menyembelih seekor kambing, Rasulullah SAW bertanya kepada Ummul Mu’minin, Aisyah, r.a., “Apakah masih ada yang tersisa dari kambing itu?” Aisyah menjawab, “Ya, tinggal sampil mukanya saja.” Mendengar jawaban ini Rasulullah SAW berkata, “Semuanya masih tersisa, kecuali sampil mukanya.” Kisah ini diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi.
Begitulah harta yang disedekahkan tidaklah berkurang, ia akan tetap tinggal di akhirat kelak. Harta yang kita makanlah yang akan habis, bersamaan dengan habisnya keseluruhan dunya ini. Maka, dalam haditsnya yang lain, Rasul SAW mengatakan, ”Dunia adalah rumah bagi orang yang tidak mempunyai rumah di akhirat, dan harta dunia adalah harta bagi yang tidak memiliki harta di akhirat.” Bukankah sangat jelas diterangkan di sini, agar kita dapat memiliki rumah dan harta di akhirat, jalannya adalah lewat sedekah?
Tetapi tidak semua sedekah sama derajat dan pahalanya. Sedekah yang diberikan di kala seseorang dalam kesempitan memiliki nilai lebih besar ketimbang sedekah yang diberikan saat seseorang itu berada dalam kelonggaran. Harta yang disedekahkan untuk sesuatu yang sekali habis dipakai, juga mendapatkan pahala yang sekali-waktu saja. Harta yang disedekahkan untuk sesuatu yang memberikan manfaat lestari, akan mendapatkan pahala yang abadi pula. Inilah perbedaan antara sedekah dan sedekah jariah.
Rasulullah SAW menegaskan bahwa sedekah jariah, kita mengenalnya dalam istilah wakaf, tak akan putus pahalanya, karena kamatian para pemberinya. Dengan kata lain, rumah dan harta akhirat yang dibangun oleh para wakif, terus berlangsung bahkan ketika mereka telah meninggalkan dunia ini. Dalam penalaran kita, yang sudah barang tentu masih teramat jauh dari kemurahan janji Allah SWT sendiri, adalah bahwa pahala sedekah dapat dilipatgandakan katika diniatkan dan dilaksanakan sebagai sedekah jariah, sebagai wakaf, dan bukan sekadar sebagai sedekah-sesaat untuk kegiatan konsumtif.
Maka, ketika bersedekah, ubahlah niat dan akad yang Anda lakukan. Sebab (akad) perbuatan tergantung kepada niatnya. Ketika seseorang bersedekah, katakanlah Rp 1 juta, sebagai sumbangan konsumtif mengobati seorang fakir yang sakit, pahala yang diperolehnya adalah sebatas nilai konsumsi itu. Tetapi, ketika Rp 1 juta itu, diniatkan dan diakadkan sebagai wakaf, yang kelak bersama dengan sedekah-sedekah lainnya telah sampai pada jumlah yang cukup, dan dibelikan aset produktif dengan surplus yang dialirkan kepada para fakir yang sakit, pahalanya akan terus mengalir. Sepanjang aset itu tetap produktif, dan surplusnya dialirkan sebagai jariah, selama itu pula tabungan akhirat Anda, sebagai seoraang wakif, terus bertambah.
Berwakaf tidak perlu menunggu sampai seseorang memiliki harta besar hingga cukup untuk membeli aset secara sendirian. Tentu, kalau ia mampu, perbuatan ini akan menjadikannya sampai pada ”puncak kebajikan”, sebagaimana dijanjikan oleh Allah SWT (Ali Imran 92). Tetapi, Rasulullah SAW dan para Sahabatnya, memberikan teladan tentang wakaf gotong royong (wakaf syuyu’i), harta wakaf yang diadakan atau dibeli secara patungan. Tugas para nadzirlah untuk menghimpun dan mengelola sedekah-sedekah yang relatif kecil ini menjadi aset produktif yang cukup signifikan, hingga dapat menghasilkan surplus yang lestari.
Karena itu, sebagai nadzir Tabung Wakaf Indonesia (TWI) merancang berbagai program wakaf gotong royong tersebut, dalam berbagai bentuk: sarana pendidikan (seperti Sekolah Ekselensia), sarana kesehatan (seperti Klinik LKC), sarana sosial (Wisma Muallaf), sarana ekonomi (pertokoan dan ruko), dan sebagainya. Sejauh mungkin aset-aset wakaf ini pun dikelola secara terpadu, ada kesatuan antara aset produktifnya dengan jasa layanan sosialnya. Hingga manfaatnya lestari, dan pahalanya abadi.
Tabung Wakaf Indonesia
Komplek Perkantoran Margaguna No.11
Jl.Radio Dalam Raya Jakarta Selatan
Phone.021-7211035
Fax.021-7211005
SHOLAT WITIR
Oleh Dr. Sa’id bin Ali bin Wahf Al-Qahthani
Hukum Shalat Witir
Shalat sunnah witir adalah sunnah muakkad [1]. Dasarnya adalah hadits Abu Ayyub Al-Anshaari Radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.
“Witir adalah hak atas setiap muslim. Barangsiapa yang suka berwitir tiga raka’at hendaknya ia melakukannya. Dan barangsiapa yang berwitir satu raka’at, hendaknya ia melakukannya” [2]
Demikian juga dengan hadits Ali Radhiyallahu ‘anhu ketika ia berkata : “Witir tidaklah wajib sebagaimana shalat fardhu. Akan tetapi ia adalah sunnah yang ditetapkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam” [3]
Di antara yang menunjukkan bahwa witir termasuk sunnah yang ditekankan (bukan wajib) adalah riwayat shahih dari Thalhah bin Ubaidillah, bahwa ia menceritakan :” Ada seorang lelaki dari kalangan penduduk Nejed yang datang menemui Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan rambut acak-acakan. Kami mendengar suaranya, tetapi kami tidak mengerti apa yang diucapkannya, sampai dekat, ternyata ia bertanya tentang Islam. Ia berkata “ Wahai Rasulullah, beritahukan kepadaku shalat apa yang diwajibkan kepadaku?” Beliau menjawab: “Shalat yang lima waktu, kecuali engkau mau melakukan sunnah tambahan”. Lelaki itu bertanya lagi : “Beritahukan kepadaku puasa apa yang diwajibkan kepadaku?” Beliau menjawab ; “Puasa di bulan Ramadhan, kecuali bila engkau ingin menambahkan”. Lelaki itu bertanya lagi : “Beritahukan kepadaku zakat apa yang diwajibkan kepadaku?” Beliau menjawab : (menyebutkan beberapa bentuk zakat). Lelaki itu bertanya lagi : ‘Apakah ada kewajiban lain untuk diriku?” Beliau menjawab lagi : “Tidak, kecuali bila engkau mau menambahkan’. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memberitahukan kepadanya syariat-syariat Islam. Lalu lelaki itu berbalik pergi, sambil berujar : “Semoga Allah memuliakan dirimu. Aku tidak akan melakukan tambahan apa-apa, dan tidak akan mengurangi yang diwajibkan Allah kepadaku sedikitpun. Maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Sungguh ia akan beruntung, bila ia jujur, atau ia akan masuk Surga bila ia jujur” [4]
Juga berdasarkan hadits Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhuma bahwa Nabi pernah mengutus Muadz ke Yaman. Dalam perintahnya : “Beritahukan kepada mereka bahwa Allah mewajibkan kepada mereka shalat lima waktu sehari semalam [5]. Kedua hadits ini menunjukkan bahwa witir bukanlah wajib. Itulah madzhab mayoritas ulama [6]. Shalat witir adalah sunnah yang ditekankan sekali. Oleh sebab itu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah meninggalkan shalat sunnah witir dengan sunnah Shubuh ketika bermukim atau ketika bepergian. [7]
Keutamaan Witir
Witir memiliki banyak sekali keutamaan, berdasarkan hadits Kharijah bin Hudzafah Al-Adwi. Ia menceritakan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah keluar menemui kami. Beliau bersabda
“Sesungguhnya Allah Ta’ala telah menambahkan kalian dengan satu shalat, yang shalat itu lebih baik untuk dirimu dari pada unta yang merah, yakni shalat witir. Waktu pelaksanaannya Allah berikan kepadamu dari sehabis Isya hingga terbit Fajar” [8]
Di antara dalil yang menujukkan keutamaan dan sekaligus di sunnahkannya shalat witir adalah hadits Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu ‘anhu bahwa menceritakan :”Rasulullah pernah berwitir, kemudian bersabda : “Wahai ahli Qur’an lakukanlah shalat witir, sesungguhnya Allah itu witir (ganjil) dan menyukai sesuatu yang ganjil” [9]
Penulis pernah mendengar guru kita Imam Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz menyatakan ketika menjelaskan hadits ini : “Ini menujukkan bahwa hendaknya Ahli Ilmu itu memiliki perhatian yang lebih besar daripada selain mereka terhadap shalat tersebut, meskipun shalat itu disyariatkan untuk semuanya, sehingga mereka layak dijadikan contoh oleh orang-orang yang hidup di sekitar mereka dan mengetahui hal ihwal dan amal perbuatan mereka. Witir paling sedikit adalah satu rakaat, antara Isya dan Fajar. Allah bersifat “ganjil” dan menyukai yang ganjil. Allah menyukai sesuatu yang bersesuaian dengan sifat-Nya. Allah Maha Penyabar, dan menyukai orang-orang yang sabar. Lain halnya dengan keagungan dan keperkasaan. Para hamba mengambil dari sifat-sifat Allah yang sesuai.dengan seorang hamba, seperti sifat pemurah, pengasih dan pemberi” [10]
[Disalin dari kitab Shalatut Tathawwu’ Mafhumun, wa Fadhailun, wa Aqsamun, wa Anwa’un, wa Adabun fi Dhauil Kitabi was Sunnah, edisi Indonesia Kumpulan Shalat Sunnah & Keutamaannya, oleh Dr. Sa’id bin Ali bin Wahf Al-Qahthani, Penerjemah Abu Umar Basyir, Penerbit Darul Haq]
__________
Foote Note
[1]. Witir termasuk shalat malam, bahkan termasuk penutup shalat malam. Satu raka’at yang dikerjakan oleh Rasulullah untuk menutup shalat malamnya. Lihat Al-Mughni oleh Ibnu Qudamah.
[2]. Diriwayatkan oleh Abu Daud dalam kitab Al-Witr, bab : Jumlah Witir, no. 1422. Diriwayatan oleh An-Nasaa’i dalam kitab Al-Lail, bab : Pembahasan Tentang Ikhtilaf Terhadap Az-Zuhri Tentang Hadits Abu Ayyub dalam Witir, no. 712. diriwayatkan oleh Ibnu Majah dalam kitab Iqamatush Shalah, bab : Witir Dengan Tiga atau Lima Raka’at no 1190, dishahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih Sunan Abu Daud I : 267
[3]. Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dalam kitab Al-Witr, bab : Riwayat Tentang Witr Yang Bukan Wajib no. 454. Diriwayatkan oleh An-Nasa’i dalam kitab Qiyamul Lail, bab ; Perintah Untuk Berwitir, no. 1677, diriwayatkan juga oleh Al-Hakim, I : 300, 301. Diriwayatkan pula oleh Ahmad I : 148, dishahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih Sunan An-Nasaa’i, I : 368
[4]. Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan muslim. Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dalam kitab Al-Iman, bab : Zakat dalam Islam, no. 46 dan Kitabush Shaum, bab : Wajibnya puasa Ramadhan, no. 1891. Diriwayatkan oleh Muslim dalam kitab Al-Iman, bab : Shalat yang Merupakan Salah Satu Rukun Islam, no 1
[5]. Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim. Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dalam kitab Al-Maghazi, bab : Diutusnya Abu Musa dan Muadz ke Yaman, no. 347. Diriwayatkan oleh Muslim dalam kitab Al-Iman, bab : Ajakan Menuju Dua Kalimat Syahadat Dan Syari’at Islam, no. 19
[6]. Yang berpendapat bahwa witir itu wajib adalah Abu Hanifah rahimahullah, berdasarkan zhahir hadits-hadits ahad yang mengesankan bahwa itu wajib. Akan tetapi ada hadits-hadits lain yang mengeluarkannya dari indikasi mewajibkan. Lihat “Nailul Authar” II : 205-206. Itu juga pendapat yang dipilih oleh Ibnu Taimiyah rahimahullah bahwa witir itu wajib bagi orang-orang yang Tahajjud di malam hari. Beliau mengatakan :”Itu adalah madzhab sebagian orang yang mewajibkannya secara mutlak” (Al-Ikhtiyaarat Al-Fiqhiyyah oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, oleh Al-Ba’li hal. 96). Penulis mendengarnya sendiri dari guru kita Imam Abdul Aziz bin Baz berkali-kali ketika menjelaskan Bulughul Maram hadits no. 393 dan juga ketika menjelaskan Ar-Raudhatul Murbi II : 183. Beliau menyebutkan bahwa witir itu tidak wajib, namun sunnah yang ditekankan. Lihat Al-Mughni karya Ibnu Qudamah II : 591, II : 595.
[7]. Lihat Zaadul Ma’aad, I : 315 dan Al-Mughni, III : 196, dan II : 240
[8]. Dikeluarkan oleh Abu Daud dalam kitab Al-Witr, bab : Dianjurkannya Shalat Witr, dengan no. 1418. Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dalam Sunan-nya dalam kitab Al-Witr bab : Riwayat Tentang Keutamaan Witir dengan no. 452. Diriwayatkan oleh Ibnu Majah dalam kitab Iqamatush Shalah, bab : Riwayat Tentang Witr, dengan no, 1168. Diriwayatkan juga oleh Al-Hakim dan dishahihkan oleh beliau serta disetujui oleh Adz-Dzahabi I: 306. Hadits ini memiliki penguat diriwayatkan oleh Ahmad, I : 148. Dishahihkan oleh Al-Albani, tanpa tambahan kalimat : Yang shalat itu lebih baik untuk dirimu dari pada unta yang merah. Lihat Irwaaul Ghalil II : 156
[9]. Dikeluarkan oleh An-Nasaa’i dengan lafazhnya dalam kitab Qiyamul Lail, bab : Perintah Melakukan Witir, no. 1676. Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dalam kitab Al-Witr, bab : Riwayat Bahwa Witr Itu Bukan Wajib no 453. Diriwayatkan oleh Abu Daud dalam kitab Al-Witr, bab : Dianjurkannya Shalat Witr, no. 1416. Diriwayatkan oleh Ibnu Majah dalam kitab Iqamatush Shalah, bab : Riwayat Tentang Witir, no. 1169. Diriwayatkan oleh Ahmad, I : 86, dishahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih Sunan Ibni Majah I : 193.
[10]. Penulis langsung mendengarnya dari beliau rahimahullah ketika beliau menjelaskan Bulughul Maram hadits no. 405
5 KUNCI PENGOKOH JIWA PENENANG BATHIN DALAM MENGARUNGI PERSOALAN HIDUP
DALAM MENGARUNGI PERSOALAN HIDUP
Oleh KH. Abdullah Gymnastiar (AA Gym)
Salam Hikmah
Assalaamu'alaikum wa rahmatullahi wa barakaatuh
Salam sejahtera untuk kita semua
Sahabat Hikmah...
Hidup ini sebenarnya bukan kehidupan yang sebenarnya...
Hidup ini hanyalah ARENA UJIAN diri,
agar Allah memilih untuk KEHIDUPAN YANG SEBENARNYA,
siapa-siapa yang menjadi HAMBA ALLAH dan menjadi penghuni Surga serta bertemu dengan Tuhannya,
dan siapa-siapa yang menjadi HAMBA IBLIS dan menjadi penghuni Neraka serta bertemu dengan Tuhannya,
Sehingga dalam mengarungi ujian ini kita akan menghadapi berbagai persoalan hidup...
Tidak mungkin hidup di dunia tanpa persoalan...
" Allah Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia MENGUJI kamu, siapa di antara kamu yang LEBIH BAIK perbuatannya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun." (QS 67:2)
Agar jiwa kita tenang dan kokoh menghadapi persoalan hidup, berikut ini ada tips dari Aa Gym yang layak untuk diikuti:
1. AKU HARUS SIAP MENGHADAPI HIDUP INI, APAPUN YANG TERJADI
• Hidup di dunia ini hanya satu kali, aku tak boleh gagal dan sia-sia tanpa guna
• Tugasku adalah menyempurnakan niat dan ikhtiar, perkara apapun yang terjadi kuserahkan kepada Allah Yang Maha Tahu yang terbaik bagiku
• Aku harus selalu sadar sepenuhnya bahwa yang terbaik menurutku belum tentu yang terbaik menurut Allah SWT. Bahkan sangat mungkin aku terkecoh oleh keinginan dan harapanku sendiri
• Pengetahuan tentang diriku atau tentang apapun amat terbatas sedangkan pengetahuan Allah menyelimuti segalanya, Dia tahu awal, akhir dan segala-galanya
• Sekali lagi betapapun aku sangat menginginkan sesuatu, tetap hatiku harus kupersiapkan untuk menghadapi kenyataan yang tak sesuai dengan harapanku. Karena mungkin itulah yang terbaik bagiku
2. AKU HARUS RELA DENGAN KENYATAAN YANG TERJADI
• Bila sesuatu terjadi, yaa….. inilah kenyataan dan episode hidup yang harus kujalani
• Aku harus menikmatinya, dan aku tak boleh larut dalam kekecewaan berlama-lama, kecewa, dongkol, sakit hati tak akan merobah apapun selain menyengsarakan diriku sendiri, dongkol begini, tak dongkol juga tetap begini
• Hatiku harus realistis menerima kenyataan yang ada, namun tubuh serta pikiranku harus tetap bekerja keras mengatasi dan menyelesaikan masalah ini
• Bila nasi telah menjadi bubur, maka aku harus mencari ayam, cakweh, kacang polong, kecap, seledri, bawang goreng dan sambal agar bubur ayam spesial tetap dapat kunikmati
3. AKU TAK BOLEH MEMPERSULIT DIRI
• Aku harus yakin bahwa hidup ini bagai siang dan malam pasti silih berganti. Tak mungkin siang terus-menerus dan tak mungkin juga malam terus-menerus, pasti setiap kesenangan ada ujungnya begitupun masalah yang menimpaku pasti ada akhirnya, aku harus sangat sabar menghadapinya
• Akupun harus yakin bahwa setiap musibah terjadi dengan ijin Allah Yang Maha Adil, pasti sudah diukur dengan sangat cermat oleh-Nya tak mungkin melampaui batas kemampuanku, karena Dia tak pernah mendzolimi hamba-hamba-Nya
• Aku tak boleh mendzolimi diriku sendiri, dengan pikiran buruk yang mempersulit dan menyengsarakan diri, pikiranku harus tetap jernih, terkendali, tenang dan proporsional, aku tak boleh terjebak mendramatisir masalah
• Aku harus berani menghadapi persoalan demi persoalan, tak boleh lari dari kenyataan, karena lari sama sekali tak menyelesaikan bahkan sebaliknya hanya akan menambah masalah. Semua harus dengan tegar kuhadapi dengan baik, aku tak boleh menyerah, aku tak boleh kalah
• Mesti segala sesuatu akan ada akhirnya, begitupun persoalan yang kuhadapi seberat apapun seperti yang dijanjikan Allah " Fainnama’al usri yusron innama’al ’usri yusron" dan sesungguhnya bersama kesulitan itu pasti ada kemudahan, bersama kesulitan itu pasti ada kemudahan. Janji yang tak pernah mungkin dipungkiri oleh Allah SWT
4. EVALUASI DIRI
• Segala yang terjadi mutlak adalah ijin Allah SWT, dan Allah tak mungkin berbuat sesuatu yang sia-sia
• Pasti ada hikmah dibalik setiap kejadian, sepahit apapun pasti ada kebaikan yang terkandung didalamnya, bila disikapi dengan sabar dan benar
• Harus kurenungkan mengapa Allah menakdirkan semua ini menimpaku, bisa jadi peringatan atas dosa-dosa kita, kelalaianku atau mungkin, saat kenaikan kedudukanku disisi Allah
• Mungkin aku harus berpikir keras untuk menemukan kesalahan yang kuperbaiki
• Setiap kejadian bagai cermin pribadiku, aku tak boleh gentar dengan kekurangan dan kesalahan yang telah terjadi, yang penting kini aku mengetahui diriku yang sebenarnya dan aku bertekad sekuat tenaga untuk memperbaikinya, Allah Maha Pengampun dan Maha Penerima Taubat
5. ALLAH LAH SATU-SATUNYA PENOLONGKU
• Aku harus yakin kalaupun bergabung seluruh manusia dan jin untuk menolongku tak mungkin terjadi apapun tanpa ijin-Nya
• Hatiku harus bulat total dan yakin seyakin-yakinnya, bahwa hanya Allahlah satunya-satunya yang dapat menolong memberi jalan keluar terbaik dari setiap urusan
• Tidak ada yang mustahil bagi-Nya, karena segala-galanya adalah milik-Nya, dan sepenuhnya dalam kekuasaan-Nya
• Tak ada yang dapat menghalangi jikalau Dia akan menolong hamba-hamba-Nya, Dialah yang mengatur segala sebab datangnya pertolongan-Nya
• Oleh karena itu aku harus benar-benar berjuang, berikhtiar untuk mendekati-Nya dengan mengamalkan apapun yang disukai-Nya dan melepaskan hati ini dari ketergantungan selain-Nya, karena selain Dia hanyalah sekedar makhluk yang tak berdaya tanpa kekuatan dari-Nya
• Ingatlah selalu janji-Nya :
"Barangsiapa yang bertaqwa kepada Allah, niscaya Ku beri jalan keluar dari setiap urusannya dan Kuberi rizki/ pertolongan dari tempat yang tak terduga, dan barangsiapa yang bertawakal kepada-Ku, Niscaya akan Kucukupi segala kebutuhannya". ( At-Thalaq : 2-3 )
" Dan barangsiapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Allah menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya." (At-Thalaq :4)
Semoga 5 kunci diatas dapat menenangkan hati yang sedang galau, cemas, was-was, khawatir yang berlebihan dan pengobat stress.
Ingat hanya dengan dzikrullah / mengingat Allah hati akan menjadi tenang.
Wassalam
OFA
MEMAHAMI ARTI SEBUAH PENGORBANAN
Salam Hikmah...
Assalaamu'alaikum wa rahmatullahi wa barakaatuh
Salam Sejahtera untuk kita semua
Sahabat Hikmah...
Berikut ini ada sebuah kisah penuh hikmah tentang ARTI SEBUAH PENGORBANAN, dan keyakinan kepada kita bahwa KEBAIKAN AKAN DIBALAS DENGAN KEBAIKAN...
TANGIS UNTUK ADIKKU
Aku dilahirkan di sebuah dusun pegunungan yang sangat terpencil. Hari demi hari , orangtuaku membajak tanah kering kuning, dan punggung mereka menghadap ke langit. Aku mempunyai seorang adik, tiga tahun lebih muda dariku. Yang mencintaiku lebih dari aku mencintainya.
Suatu ketika, untuk membeli sebuah sapu tangan yang mana semua gadis di sekelilingku kelihatan membawanya, aku mencuri lima puluh sen dari laci ayahku. Ayah segera menyadarinya. Beliau membuat adikku dan aku berlutut di depan tembok, dengan sebuah tongkat bambu ditangannya.
“Siapa yang mencuri uang ayah?”Beliau bertanya. Aku terpaku terlalu takut untuk berbicara. Ayah tidak mendengar siapapun mengaku. Beliau mengatakan lagi “ Baiklah kalau begitu kalian berdua layak dipukul!”
Dia mengangkat tongkat bambu itu tinggi-tinggi. Tiba-tiba, adiku mencengkeram tangannya dan berkata, Ayah, aku yang melakukannya!”
Tongkat panjang itu menghantam punggung adikku bertubi-tubi. Ayah begitu marahnya sehingga ia terus menerus mencambukinya sampai beliau kehabisan nafas. Sesudah itu beliau duduk di ranjang dan memarahi kami.”Kamu sudah belajar mencuri dari rumah, hal memalukan apalagi yang akan kamu lakukan di masa mendatang ? kamu layak dipukul, kamu pencuri tidak tahu malu.”
Malam itu, ibu dan aku memeluk adikku dalam pelukan kamu, tubuhnya luka, tetapi ia tidak menitikan airmata setetespun. Dipertengahan malam itu, saya tiba-tiba menangis meraung-raung.. Adikku menutup mulutku dengan tangan kecilnya dan berkata, ”Kak, jangan menangis lagi sekarang, semuanya sudah terjadi.”
Aku masih terus membenci diriku karena tidak memiliki cukup keberanian untuk maju mengaku. Bertahun-tahun telah lewat, tapi insiden tersebut masih kelihatan baru seperti kemarin. Aku tidak pernah lupa tampang adikku ketika melindungiku. Waktu itu, adiku berusia 8 tahun. Aku berusia 11 tahun.
Ketika adikku berada pada tahun terakhirnya di SMP, ia lulus untuk masuk SMA di pusat kabupaten. Pada saat yang sama, saya diterima untuk masuk sebuah universitas propinsi. Malam itu, ayah berjongkok di halaman, menghisap rokok tembakaunya, bungkus demi bungkus. Saya mendengar dia berkata lirih ” Kedua anak kita memberikan hasil yang begitu baik, hasil yang begitu baik”. Ibu mengusap airmatanya yang mengalier dan menghela nafas ” Apa gunanya?bagaimana mungkin kita bisa membiayai keduanya sekaligus?”
Saat itu juga adikku berjalan ke hadapan ayah dan berkata, ”Ayah, saya tidak mau melanjutkan sekolah lagi, aku telah cukup membaca banyak buku”
Ayah marah besar dan berkata : ” mengapa kamu mempunyai jiwa yang begitu lemah!!!Bahkan kalau aku harus mengemis di jalanan akan aku lakukan, kamu berdua harus sekolah sampai selesai.”
Siapa sangka keesokan harinya, sebelum subuh datang adikku meninggalkan rumah dengan beberapa helai pakaian lusuh dan sedikit makanan. Dia menyelinap di samping ranjangku dan meninggalkan secarik kertas di atas bantalku:”Kak, masuk ke universitas tidaklah mudah. Saya akan pergi mencari kerja dan mengirimmu uang.”
Aku memegang kertas tersebut di atas tempat tidurku dan menangis dengan air mata bercucuran sampai suaraku hilang. Tahun itu adiku berusia 17 tahun dan aku 20 tahun.
Dengan uang yang ayahku pinjam dan uang dari adiku hasilkan dari mengangkut semen pada lokasi konstruksi, akhirnya aku sampai akhir tahun ketiga kuliah.
Suatu hari, aku sedang belajar di kamarku, ketika teman sekamarku masuk memberitahukan,” Ada seorang penduduk dusun menunggumu di luar sana!”
Mengapa ada seorang penduduk dusun mencariku? aku berjalan keluar, dan melihat adikku dari jauh, seluruh badannya kotor tertutup debu semen dan pasir. Aku menanyakannya,”Mengapa kamu tidak bilang pada temanku kamu adalah adikku?”
Dia tersenyum dan menjawab”Lihat bagaimana penampilanku. Apa yang akan mereka pikir jika mereka tahu saya adalah adikmu?Apa mereka tidak akan mentertawakanmu?”
Aku merasa terenyuh dan airmata memenuhi mataku. Aku menyapu debu-debu dari badan adiku dan sambil tersekat aku berkata”Aku tidak peduli omongan siapapun!Kamu adalah adikku apapun juga Kamu adalah adikku bagaimanapun penampilanmu...”
Dari sakunya, ia mengeluarkan sebuah jepit rambut berbentuk kupu-kupu. Ia memakaikannya kepadaku dan terus menjelaskan, ”Saya melihat semua gadis kota memakainya. Jadi saya pikir kakak harus memilikinya...”
Aku tidak dapat menahan diri lebih lama lagi. Menariknya ke dalam pelukanku dan menangis....Tahun itu ia berusia 20 aku 23
Pertama kali aku membawa teman-teman kuliahku ke rumahku, kaca jendela yang pecah telah diganti dan semuanya kelihatan bersih..Setelah teman-temanku pulang..aku menari seperti gadis kecil di depan ibuku.”Bu, ibu tidak perlu menghabiskan banyak waktu untuk membersihkan rumah kita...Tetapi katanya sambil tersenyum”Itu adalah pekerjaan adikmu..dia pulang lebih awal untuk membersihkan rumah ini. Tidakkkah kamu melihat luka ditangannya.?ia terluka ketika memasang kaca jendela baru itu.
Aku masuk ke dalam ruangan kecil adikku. Melihat mukanya yang kurus , seratus jarum terasa menusuk hatiku.Aku mengoleskan sedikit salep pada lukanya dan membalut lukanya..”Apakah sakit?..
”Tidak kok Kak...Aku biasa biasa kena batu-batu kak..”Ditengah kalimatnya aku membalikan punggungku karena air mata mulai menggenang dimataku....Tahun itu adikku 23 tahun dan aku berusia 26 tahun.
Ketika aku menikah, aku tinggal di kota. Aku berkali-kali mengundang orangtuaku datang dan tinggal dirumahku..tetapi mereka tidak pernah mau. Mereka sudah merasa dibesarkan didusun dan tidak tahu harus berbuat apa kalau seandainya keluar dari dusun. Adikku juga mengatakan ”Kak jagalah mertuamu saja, saya yang akan menjaga ibu dan ayah disini..”
Suamiku menjadi direktur pabrik..Kami menginginkan adiku kerja di pabrik, akan tetapi adiku tak pernah mau...dia pingin tetap menjaga ayah ibu.
Suatu hari adiku jatuh dari sebuah tangga untuk memperbaiki kabel, ketika dia terkena sengatan listrik dan dia masuk ke rumah sakit...Aku dan suamiku menjenguknya..dan melihat gips putih dikakinya..Aku berkata ”Mengapa kamu menolak kerja menjadi manajer pabrik di tempat kakakmu...Coba kalau kau terima, tentu kamu tidak akan mengalami seperti ini..”
Dengan tanpang serius dia menjawab”Kak, pikirkan nama baik kakak ipar kak. Ia baru saja menjadi Direktur, sedangkan saya tidak berpendidikan..nanti apa kata orang kalau saya menjadi manajer? Kasihan kakak ipar..
Mata suamiku dipenuhi airmata, dan kemudian aku berkata ” Tapi kamu kurang berpendidikan itu juga karena aku, kakakmu...
Mengapa kakak membicarakan masa lalu?” adikku menggenggam tanganku. Tahun itu ia berusia 26 tahun dan aku 29 tahun
Adikku kemudian menikahi seorang gadis pada usia 30 tahun. Dalam acara itu pembawa acara perayaan bertanya kepadanya,”Siapa yang paling kamu hormati dan kasihi?” tanpa berpikir panjang adikku menjawab”Kakakku.’
Ia melanjutkan dengan menceritakan kembali sebuah kisah yang bahkan tidak dapat kuingat lagi.
” Ketika kami sekolah SD. Saya dan kakakku sekolah SD di tempat yang cukup jauh dari tempat tinggal kami..di sebuah dusun yang berbeda..Setiap hari aku dan kakakku berjalan selama kurang lebih dua jam untuk pergi dan pulang ke sekolah..Suatu hari aku kehilangan satu sarung tanganku...Kakakku memberikan satu dari kepunyaannya. Ia hanya memakai sebuah sarung tangan di tangannya..padahal kami berjalan sangat jauh dan cuaca sedang musim sangat dingin...Ketika kami tiba dirumah, tangan kakakku begitu gemetaran..sehingga ketika makan dia tidak bisa memegang sendoknya.......Sejak hari itu aku bersumpah..selama saya masih hidup aku akan menjaga kakakku dan...aku akan selalu baik kepadanya..
Tepuk tangan membanjiri ruangan itu. Semua tamu memalingkan perhatiannya kepadaku
Kemudian kata-kata begitu susah keluar dari bibirku”Dalam hidupku..orang yang paling berjasa padaku adalah adikku..orang yang paling aku berterima kasih adalah adikku...
Dan dalam kesempatan yang paling berbahagia itu..di depan kerumunan perayaan itu..air mata bercucuran turun dari wajahku seperti sungai....
Semoga kisah tersebut memberikan pelajaran kepada kita semua. Amin
Wassalam
OFA
Kamis, April 30, 2009
BENTENG DUNIA
Di desa pertama dia melihat rumah kosong yang penuh dengan emas.Kemudian iblis menggodanya,"Ayo curi! Itulah yang akan membuatmu kaya!"
Tapi si hamba Allah menjawab ,"Tidak sebab rumahku sangat dekat!"
Didesa kedua , hamba Allah itu melihat seorang wanita penghibur sedang duduk
diatas sebuah batu sambil tersenyum menggoda.Iblis lalu membujuk, "Ayo dekati! Itulah yang akan menyenangkan tubuhmu!"
Tapi, sihamba Allah menjawab, "Tidak sebab rumahku sangat dekat!"
Didesa ketiga , hamba Allah itu melihat perselisihan antara dua kelompok.
Kemudian hamba Allah itu diminta untuk menjadi saksi atas mereka.Iblis kembali menggodanya, "Ayo dusta! Tidak ada kerugian bagimu kalaupun engkau berdusta atas mereka!"
Tapi si hamba Allah menjawab, "Tidak, sebab rumahku sudah dekat!"
Begitu seterusnya sampai desa keseratus hingga membuat iblis heran,katanya, "Engkau selalu menolak godaanku dan mengatakan kalau rumahmu sudah dekat. Tapi aku sudah mengikutimu sampai desa yang keseratus dan engkau masih juga berkelana. Sesungguhnya dimana rumahmu?"
Lalu hamba Allah itu menjawab, "Ketahuilah, RUMAHKU adalah KUBUR dan GERBANGNYA adalah KEMATIAN. Aku katakan dia sangat dekat karena aku tidak pernah tahu kapan
aku akan masuk kedalam rumahku itu. Boleh jadi saat aku berbuat dosa, kematian
datang menjemput. Oleh karena itu, aku selalu ingat pada kematian dan takut untuk
mengikuti godaanmu."
Iman Al-Ghazali pernah bertanya kepada muridnya, "Apakah yang paling dekat dalam
hidup ini? Ternyata jawabnya adalah kematian karena kita tidak pernah tahu kapan
kematian itu datang.Tidak ada yang bisa menjamin kalau diri kita masih hidup besok pagi, atau bahkan 5 menit kedepan.Kematian datangnya tiba-tiba tanpa permisi. Tidak sedikit orang meninggal diatas perut wanita penghibur saat sedang berzina , meninggal saat minum minuman keras dan saat mengkonsumsi narkoba.
Naudzubillahi minzalik.
Rasulullah SAW bersabda, "Orang paling cerdas adalah orang yang selalu ingat akan
kematian. "mengapa?" Karena ingat pada kematian inilah yang akan membuat seseorang takut melakukan perbuatan dosa.Inilah benteng didunia dari berbuat dosa karena takut jika kematian ternyata datang menjemput dirinya saat dia sedang berbuat dosa.
Seperti cerita hamba Allah tersebut yang enggan mengikuti godaan iblis karena dia
tahu bahwa malaikat Izrail (malaikat maut) senantiasa mengintai dirinya, diapun
senantiasa menjaga dirinya dari berbuat dosa.
Oleh Elvi Zulhailina
Rabu, April 29, 2009
Resep Obat Penyembuh Dosa
Orang badui itu bertanya."Apakah dokter punya resep obat untuk menyembuhkan penyakit dosa?"
Dokter menundukkan kepalanya sejenak sambil berpikir lalu menjawab,
"Dengarkan resep ini. Jika kamu kerjakan maka kamu dapat penyembuhan dari Allah".
Ambillah AKAR-AKAR KEMELARATANmu dan JIWA KESABARAN...
Lalu campurkan dengan BUBUK PIKIRAN,dan dicampur (kadarnya sama) dengan RENDAH HATI dan KEKHUSYYUKAN,kemudian ditumbuk semua dalam lumpang TAUBAT dan dibasahi dengan AIR MATA, lalu ditempatkan dalam tempat RENDAH DIRI kepada Allah dan dimasak dengan api TAWAKKAL kepadanya.
Setelah itu aduk dengan sendok ISTIGHFAR sehingga tampak TAUFIQ dan KEHORMATAN
DIRI.Kemudian , pindahkan kemangkok CINTA dan dinginkan dengan udara KASIH SAYANG.
Sesudah disaring dengan saringan KESUSAHAN dan ditambah dengan hakikat IMAN serta
campurkan dengan TAKUT kepada Allah.Terus minum obat itu SELAMA HIDUPMU dan HATIMU akan SEMBUH dari segala keluhan dan akan hilang rasa sakit dan dosa.
(Oleh ELVI ZUHAILINA)
PASANGAN HIDUP
Bertahun-tahun yang lalu,
seorang Anak Berdoa kepada Tuhan untuk Memberikan Pasangan Hidup,
"Engkau Tidak Memiliki Pasangan karena engkau Tidak Memintanya",
Tuhan menjawab.
"Tidak Hanya aku Meminta Kepada Tuhan,
aku Menjelaskan KRITERIA PASANGAN yang KUINGINKAN,
aku Menginginkan Pasangan yang BAIK HATI, LEMBUT,
MUDAH MENGAMPUNI, HANGAT, JUJUR, PENUH dengan DAMAI
dan SUKACITA, MURAH HATI, PENUH PENGERTIAN, PINTAR, HUMORIS,
PENUH PERHATIAN."
Aku bahkan Memberikan Kriteria Pasangan Tersebut Secara FISIK
yang Selama ini Kuimpikan.
Sejalan dengan berlalunya Waktu,
aku menambahkan DAFTAR Kriteria yang Kuinginkan dalam Pasanganku.
Suatu malam, dalam doa,
Tuhan berkata dalam HATIKU,
"Hamba-Ku, Aku Tidak Dapat Memberikan Apa yang engkau Inginkan."
Aku bertanya,
"Mengapa Tuhan?"
dan
Ia menjawab,
"Karena Aku adalah TUHAN dan Aku adalah ADIL.
Aku adalah KEBENARAN dan Segala yang Aku lakukan adalah BENAR."
Aku bertanya lagi,
"Tuhan, Aku Tidak Mengerti Mengapa aku Tidak Dapat
Memperoleh Apa yang aku Pinta dari-Mu?"
Jawab Tuhan,
"Aku Akan MENJELASKANNYA kepada-Mu,
adalah SUATU KE-TIDAK ADIL-AN dan KE-TIDAK BENAR-AN BAGI-KU
Untuk MEMENUHI KEINGINANMU karena Aku Tidak Dapat
Memberikan Sesuatu yang BUKAN Seperti engkau.
TIDAKLAH ADIL Bagi-Ku untuk MEMBERIKAN SESEORANG
yang Penuh dengan Cinta dan Kasih Kepadamu JIKA
TERKADANG engkau MASIH KASAR
atau Memberikan Seseorang yang Pemurah tetapi
engkau MASIH KEJAM
atau Seseorang yang Mudah Mengampuni tetapi
engkau sendiri MASIH SUKA MENYIMPAN DENDAM,
Seseorang yang Sensitif, namun engkau SENDIRI TIDAK..."
Kemudian Ia berkata kepadaku,
"Adalah LEBIH BAIK Jika Aku Memberikan Kepadamu
Seseorang yang Aku Tahu Dapat Menumbuhkan Segala KUALITAS
yang engkau CARI Selama Ini Daripada Membuat engkau
Membuang Waktu Mencari Seseorang yang Sudah
Mempunyai Ssemuanya itu.
PASANGANMU AKAN BERASAL DARI TULANGMU dan DAGINGMU
dan engkau AKAN MELIHAT DIRIMU SENDIRI DI DALAM DIRINYA
dan KALIAN BERDUA AKAN MENJADI SATU."
PERNIKAHAN adalah
seperti SEKOLAH - Suatu Pendidikan Jangka Panjang.
PERNIKAHAN adalah
TEMPAT DIMANA engkau dan PASANGANMU Akan
Saling MENYESUAIKAN DIRI dan TIDAK HANYA BERTUJUAN untuk
MENYENANGKAN HATI SATU SAMA LAIN
tetapi Untuk MENJADIKAN Kalian Manusia yang Lebih Baik
dan Membuat Suatu KERJASAMA yang SOLID.
"AKU TIDAK MEMBERIKAN PASANGAN yang SEMPURNA Karena
engkau TIDAK SEMPURNA.
AKU MEMBERIKAN SESEORANG yang DAPAT TUMBUH BERSAMAMU."
Senin, Februari 23, 2009
Agamamu, Agamaku, Agama-Agama Kita
to be contained in one single container.
Apa yang dirasakan oleh sekuntum bunga yang baru saja mekar? Bahagia….
Kebahagiaan yang tak terjelaskan lewat kata-kata. Itulah pertama kalinya ia
mengalami sesuatu yang luar biasa. Sesuatu yang tak akan dialaminya lagi.
Sesuatu yang terjadi hanya “sekali” saja. Ia bersuka-cita, ia menari dan
menyanyi riang….. Ia mengumpulkan para sahabat dan kerabat untuk berbagi
berita baik itu dengan mereka: “Lihat, lihat…. Aku telah mekar!”
Apa yang terjadi, How did it happen?
Entah apa yang terjadi, entah bagaimana….. Ia berusaha untuk mejelaskan,
tetapi tidak mampu. Ketika Kabir, mistik sufi asal India Utara itu ditanya,
“Apa yang kau rasakan saat itu?” Ia menjawab, “Kulihat sungai Ganga yang
berbadan lebar itu terbakar, dan ikan-ikannya memanjat pohon!”
Nanak, yang kelak akan dikaitkan dengan agama Sikh, salah satu diantara
agama-agama baru yang berusia dibawah enam abad, menjawab dengan cara lain:
“Aku melihat langit terbelah, dan turun hujan cahaya….. Cahaya Murni!”
Namun, mereka pun menyadari bahwa pengalaman mistik mereka tidak berarti
apa-apa jika tidak bermanfaat bagi orang lain. Maka, terpaksa, mereka berusaha
untuk meng-“akal”-kan sesuatu yang sungguhnya berada diluar akal, supaya
kita dapat memahaminya. Supaya “masuk-akal” kita!
“Agama, dan kitab-kitab suci,” kata Murshidku, Sheikh Baba, seorang tukang
es di Lucknow (Pusat Peradaban Islam di India Utara), “adalah hasil upaya
seperti itu.”
Ia melanjutkan, “Agama dan kitab-suci adalah sarana, bukan tujuan. Gunakan
mereka sebagai pemicu untuk memicu kesadaran di dalam dirimu. Untuk memicu
kehausan dan kerinduan di dalam dirimu. Untuk apa? Untuk mengalamai sendiri apa
yang dialami oleh para rasul, para sufi, juga para yogi, para suci dan mistik
dari semua agama, semua tradisi.
“Jika kau menganggap agama dan kitab suci sebagai tujuan, kau akan menduakan
Allah. Itulah yang dilakukan banyak orang saat ini. Tujuan adalah Allah.
Dari-Nya kita berasal, kepada-Nya kita kembali.”
Pemahaman tentang agama seperti inilah yang menjadikan agama Berkah atau Rahmat
bagi Alam Semesta. Tafsir ini menjadikan agama Jalan Raya, Jalan Tol yang dapat
dilalui siapa saja, kapan saja…. Jalan bebas hambatan.
Berbicara atau menulis tentang agama, atau tepatnya “pemahamanku tentang
agama”, aku tidak dapat tidak mengutip Guruku, Murshidku, Sheikhku. Segala apa
yang kumiliki saat ini hanyalah karena berkahmu, Guru!
Ia adalah penjual es, miskin materi, berpakaian compang-camping, robek sana,
robek sini yang kemudian disulam dengan rapi oleh keponakannya….. Tidak
seperti para ustad muda jaman kita yang sering muncul di layar teve. Tata Rias
oleh ……. Busana oleh …….. Tepuk Tangan!
Sayang, setting panggung dan busana penuh gemerlap itu jarang menunjukkan
kegemerlapan hati sebagaimana pernah kusaksikan dalam diri Murshidku. Seorang
tukang es, penjual es balok.
Ketika seorang remaja dari keluarga Hindu menyampaikn niatnya untuk “masuk
Islam”, ia pun tertawa: “Kata siapa kau belum masuk Islam? Ingat, Penyerahan
Diri dan Kedamaian Hati itulah Islam. Penyerahan Diri terhadap Kehendak Ilahi
dan Kedamaian Hatimu sendiri – dan, kau, nak, memiliki keduanya. Kau sudah
menyatakan niatmu untuk masuk Islam, dan Allah telah mendengar niatmu itu.
“Tetapi,” nah ini yang luar biasa, yang barangkali jarang didengar di
negeri kita, “janganlah sekali-kali menymbongkan dirimu sebagai Muslim.
Biarlah Allah yang menentukan apakah Penyerahan Dirimu sudah sampurna atau
tidak.”
“Aku ingin lebih dekat denganmu, Guru!” remaja itu masih ngotot.
“Kau sudah dekat dengan Allah.
Tugasku selesai sudah. Dengar nak, aku pun, hingga saat ini masih ber-jihad
untuk menjadi seorang Muslim. Aku pun masih menunggu fatwa-Nya apakah aku
diterima sebagai Muslim atau tidak.”
Jihad, bagi Guruku, berarti Koshish dalam bahasa Urdu, To Strive, To Struggle,
bukan To Fight, “Jihad berarti ‘Berupaya dengan Sungguh-Sungguh’. Jihad
bukan berantam, bukan berkelahi,bukan mencaci-maki, apalagi membunuh.”
Ia menggunakan bahasa sederhana, bahasa populer, bahasa gaul untuk jaman
itu….. maklum, umunya para murid adalah remaja, anak-anak muda….. dan, yang
termuda, yang baru berusia 11-12 tahun, seorang anak yang berasal dari Solo,
Jawa-Tengah, Indonesia.
“Tetapi, ada juga ayat yang mengatakan bahwa di yang diridhai Allah hanyalah
Agama Islam.” Murid yang paling tua, berusia 30-an tahun, mengingatkan sang
Guru akan satu ayat dari kita yang memang bunyinya kurang-lebih begitu.
Sang Guru tersenyum, “Bukan diridhai, tidak ada istilah ridha dalam ayat itu.
Ridha itu bahasa Arab, dan Al-Qur’an dalam bahasa Arab. Jika memang Allah
ingin menggunakan istilah ridha, Ia akan menggunakannya. Aku memaknai, memahami
ayat itu seperti ini: Bagi Allah yang ada hanyalah Islam.”
Beliau tidak pernah meng-klaim sebagai penafsir Kitab Suci, “Siapakah kita
ini hingga dapat menafsirkan Firman Allah? Kita hanya dapat memahami Firman-Nya
sesuai dengan tingkar kesadaran kita masing-masing.
“Sebab itu,” ia pun selalu menasihati kita, “janganlah sekali-kali merasa
sudah ‘khatam’, sudah selesai dengan kitab-sucimu. Kitab-kitab suci bukan
untuk dibaca seperti buku-buku umum lainnya. Kita-kitab suci harus diulangi.
Terus-menerus, sepanjang hidupmu….. karena, setiap kali kau membacanya, jika
kesadaranmu telah meningkat, kau akan memperoleh makna baru.”
Sebab itu pula, beliau selalu menganjurkan kita untuk membaca kitab-suci,
bahkan mengaji dalam bahasa Urdu, salah satu dari sekian banyak bahasa nasional
India, “Karena, dengan cara itu kalian dapat lebih memahami arti kitab
suci.”
Majelis-majelis ulama di India maupun Pakistan tidak mengharamkan pengajian
dalam bahasa Urdu, bahkan bahasa daerah lainnya. Sehingga, seperti yang
dikatakan oleh Guru, “Kalian tidak seperti burung beo, hanya menghafal
saja!”
Wah, Guru, untung kau lahir di India.
Kalau lahir di Indonesia, barangkali sudah diperkarakan oleh mereka yang merasa
lebih tahu dan memonopoli ajaran agama.
Kembali pada beliau, “Ya, di mata Allah yang ada hanyalah satu, yaitu Islam.
Dan, semua Nabi adalah Muslim. Hazrat Isa yang ajarannya menjadi inspirasi bagi
agama Masihi, Hazrat Musa yang syariatnya menjadi agama Yahudi – mereka semua
adalah Muslim. Tanpa kecuali. Bahkan, nabi-nabi lain, dari tradisi-tradisi lain
yang tidak disebut dalam Al-Qur’an. Karena, Allah pun berfirman bahwa tidak
semua nabi dijelaskan lewat Al-Qur’an.”
Beliau mengartikan Islam sebagai “sifat dari agama”. Dan, “sifat”-nya
itu satu. “Seperti,” Beliau jelaskan, “gula hanya memiliki satu sifat,
‘Manis’. Itu saja. Apapun bahan baku yang digunakan untuk membuat gula, jika
tidak manis, ya bukan gula.
“Din adalah sifat Mazhab.
Din adalah Keagamaan, inti sari agama, agama yang dilakoni, dijalankan. Mazhab
adalah wahananya, alirannya. Yang mengalir adalah Air Kehidupan Din. Mazhab
adalah agama, aliran. Din adalah keagamaan, air yang mengalir.
“Apapun Mazhabmu,
Jika kau menjalankannya dengan baik, maka kau telah menemukan Din. Dan, Din
itulah yang diperhatikan oleh Allah.
“Agak tidak tepat jika Din diartikan sebagai agama.
Karena, ketika Al-Qur’an diterima oleh Kekasihku,” Ya, ‘Kekasihku’,
atau Mere Mehboob dalam bahasa Urdu, dengan julukan itulah beliau sering
menyebut Rasul Allah, Muhammad yang kumuliakan…… “saat itu sudah ada agama
Masihi, ada agama Yahudi, ada kelompok-kelompok lain pula. Kendati demikian,
Firman Allah jelas dan tegas bahwa Isa yang dijunjung tinggi oleh kelompok
Masihi, dan Musa yang dijunjung tinggi oleh kelompok Yahudi, adalah Muslim,
Nabi. Tidak ada yang lebih tinggi, tidak ada yang rendah. Semua Nabi, semua
Rasul sama adanya.
“Din adalah ‘laku-agama’, perilaku yang sesuai dengan ajaran agama. Dan,
ajaran agama sungguh sangat luas, tidak dapat dijadikan monopoli salah satu
kelompok. Maka, Allah pun menasihati kita supaya melakoni agama sesuai degan
kesadaran kita, dan membiarkan orang lain melakoninya sesuai dengan kesadaran
dia.
“Sungguh sangat tidak bijak jika kita mengharuskan seorang anak yang baru
berusia 5 tahun untuk melakoni agama dan memahami ajaran agama sebagaimana
dilakoni dan dipahami oleh seorang dewasa.”
Saat itu, pemahaman agama seperti itu terasa “oke-oke” saja. Masuk akal
sih, walau usia saya baru 11-12 tahun. Beberapa tahun kemudian, kembali ke
Indonesia, saya baru sadar betapa revolusionernya pemahaman Guruku, Murshiduku,
Sheikhku…. Waheguru, Wah Guru, Engkau sungguh hebat!
Di lain kesempatan ia merestui perkawinan antara dua orang muridnya yang beda
agama. Perkawinan seperti itu memang tidak dilarang oleh konstitusi negara
India, kendati sebagian masyarakat masih belum dapat menerimanya. Saat itu,
seorang murid lain berkomentar, “Baba, bagaimana jika kelompok fundamental
menyerangmu?”
“Ah, kelompok fundamental….
Apa benar mereka fundamental? Jika benar fundamental, mereka tidak akan
menyerang. Karena mereka tahu persis ketika Mere Mehboob kawin dengan Khadija,
ritual Agama Islam pun belum ada. Perkawinan mereka itu sesuai dengan ritual
agama yang mana? Apakah perkawinan mereka tidak sah?
“Tidak, yang dapat menyerang saya bukanlah kelompok fundamental. Tetapi,
segerombolan orang-orang yang belum memahami agama. Kasihan. Ya, mereka patut
dikasihani. Aku akan menerima serangan mereka, dan akan berusaha untuk
menjelaskan sebatas kemampuanku.”
Ia bukanlah seorang Guru yang suka memasang senyuman plastik. Ketika gusar, ia
tidak berusaha untuk menyembunyikan kegusarannya. Seperti ketika ia menghadapi
teman-teman dari kelompok Wahabi yang meneruskan sekte Hambali yang alot, keras,
kaku. Mereka mengaku sebagai satu-satunya kelompok dalam Islam yang masih setia
pada Al-Qur’an dan Hadis. Mereka tidak relah jika ada yang melakukan ijtihad
dan berusaha untuk memahami ayat-ayat suci sesuai dengan kesadarannya.
Mereka adalah kelompok yang selalu berseberangan dengan Cak Nur, Gus Dur, Cak
Nun, Dawam, Ma’rif. Mereka selalu membela para penjahat dan teroris seperti
Amrozi, Samudra dan lain-lain.
Kepada mereka, Sang Guru mengatakan , “Janganlah hidup dalam ilusi seolah
dengan memelihara janggut seperti nabi, atau berjubah seperti beliau – kalian
sudah cukup Islam. Berakhlaklah seperti beliau.
“Nabi mengangkat pedang hanya untuk melawan kezaliman, demi kebebasan dan
kemerdekaan….. Apa yang kalian lakukan? Setiap tahun mengejar teman-teman kita
dari kelompok Shi’a. Tidak pernah berhenti sebelum jatuhnya korban, sebelum
ada nyawa yang melayang. Mencaci-maki kelompok-kelompok lain. Kalian adalah Daag
pada wajah Islam.” Daag dalam bahasa Urdu berarti “Noda”.
Sekitar tahun 1960-an memang masih sering terjadi pertikaian antara kelompok
Shi’a dan Sunni, khususnya menjelang hari berkabung bagi kelompok Shi’a
dimana mereka memperingati kematian Hassan dan Hussein, cucu Nabi, Mere Mehboob,
Kekasihku.
Beliau, Guruku, sungguh merupakan ensiklopedi kebijakan. Suatu ketika ia
menjelaskan, “Nabi kita begitu rendah hati, begitu sopan, santun, sehingga
siapapun yang datang kepada-Nya, ia akan berkata, ‘Doakanlah diriku,
keluargaku, sahabatku’…. Padahal, bukanlah beliau yang membutuhkan doa kita.
Kitalah yang membutuhkan doa beliau.
“Sekarang, apa yang terjadi?
Telah menjadi kebiasaan kita untuk setiap kali mendoakan beliau. Tidak apa,
baik-baik saja. Asal kita tidak menjadi sombong, tidak menjadi angkuh seolah
beliau membutuhkan doa kita.
“Tisak, beliau tidak membutuhkan doa kita.
Kitalah yang membutuhkan doa beliau!”
Tetapi, kemudian, ia pun selalu mengingatkan kita, “Janganlah kalian
membingungkan teman-teman yang belum siap untuk pelajaran ini. Mereka yang belum
siap dengan materi yang kita dapatkan disini.
“Dalam setiap tradisi, dalam agama manapun, kita selalu diingatkan supaya
tidak melemparkan mutiar kepada kawanan babi. Bhagavad Gita pun mengatakan,
janganlah menyebarluaskan ajaran ini di tengah masyarakat yang belum siap.
“Babi diberi mutiara, apa yang terjadi?
Ia tidak tahu nilai mutiara, ia memakannya, keselek, dan ia tidak dapat
benapas. Ia gusar dan akan menyerangmu kembali.
“Berikan mutiara kepada mereka yang mengerti nilai mutiara. Kepada mereka
yang mengapresiasinya. Kepada mereka yang akan menghargainya.
“Seorang yang memiliki pengetahuan dan tidak berbagi dengan orang lain yang
siap untuk menerimanya, adalah seorang kikir, pelit. Berbagilah dengan mereka
yang siap.
“Tuhan ada dimana-mana, di Barat dan di Timur, di Selatan dan di Utara.
Wajah-Nya ada dimana-mana, tetapi untuk pemusatan kesadaran kita membutuhkan
kiblat…. maka, dalam setiap agama ada kiblat.
“Jagalah tali persahabatan dengan sesama manusia….. ya, dengan mereka yang
berjiwa manusia, bukan berbadan manusia saja……” Beliau selalu menasihati
kita untuk menjauhi mereka yang hanya berbadan manusia. Tidak perlu membenci
mereka, hanya menjauhi saja, “Karena, kehewanian mereka bagaikan penyakit
menular. Nanti, pada suatu ketika, jika kau sudah memiliki kemampuan untuk
mengobati mereka, silakan mendekati mereka…. Tetapi, jangan dulu, jangan
sekarang…. Kemampuan seperti itu belum ada dalam diri kita.”
Din, atau melakoni agama, menjalani ajaran agama, bagi beliau adalah proses
seumur hidup, “Jika kau menganggap dirimu sudah menjadi Ulama, sudah memiliki
Ilmu – maka kau akan mati dengan ilmumu itu. Segitu-gitu saja yang kau miliki.
Kau tidak akan berkembang lebih lanjut.
“Seorang Ulama Sejati tidak pernah berhenti menggali diri…. Ia menemukan
pemahaman-pemahaman baru dalam dirinya, bukan saja dengan membaca ulang kitab
suci, tetapi dengan memahami ayat-ayat Allah yang bertebaran di alam semesta.
Dimana-mana.”
Ya, Ayat-Ayat Allah bertebaran dimana-mana, “Ada yang dirangkum dan ditulis,
dicetak…. Kita menyebutnya Al-Qur’an, Bacaan Mulia. Ada yang menyebutnya
Bhagavad Gita, Nyanyian Mulia. Ada pula yang menyebutnya Injil, Berita Mulia.
Semuanya mulia.
“Aku percaya,” lanjut Guruku, “bahwa semua itu berasal dari Satu, dari
Allah. Semuanya, tanpa kecuali, berasal dari Yang Maha Kuasa, Yang Maha Esa.
“Dulu, aku pun sering mempersoalkan teman-teman Hindu yang kuanggap memuja
berhala….. Tetapi, kemudian kupahami bahwa apa yang kuanggap berhala, adalah
kiblat mereka. Mereka menggunakan semua itu sebagai sarana untuk memusatkan
kesadaran mereka, sebagaimana aku menggunakan kaligrafi, bahkan gambar Mekah
Shariff sebagai sarana untuk pemusatan kesadaranku.”
Dengan bekal pemahaman agama seperti inilah aku kembali ke negeri asalku, ke
tanah air, ke Indonesia….. dan, awal-awalnya masih oke….. tetapi,
lambat-laun, pemahaman agama yang berkembang disini sungguh membingungkan aku.
Agama tidak lagi menjadi sarana.
Agama disejajarkan dengan Tuhan, dianggap absolut. Begitu pula dengan kitab
suci…. Dan, yang lebih celaka lagi, Manusia Indonesia, oleh lembaga yang
merasa paling kompeten, tidak lagi diperkenankan untuk memahami aajaran agama
sesuai dengan kesadarannya. Ia tidak diperkenankan untuk berijtihad. Pemahaman
agama dibungkus rapi dalam kapsul, di pak, dan diberi tanda, “Sesuai dengan
…..” Dan, hanyalah pak atau botol bertanda “Sesuai dengan ……” itulah
yang diperjual-belikan.
Agama menjadi komoditas. Mereka yang merasa memiliki monopoli terhadap agama,
menjajahnya di pasar untuk diperjualbelikan. Para politisi menggunakannya dengan
cermat. Para pengusaha pun idak mau kalah.
Sementara itu, Lia Aminuddin diperkerakan, Ahmadiyah dikejar-kejar….. Jika
Guruku disini, barangkali darahnya sudah dinyatakan halal. Terlepas dari setuju
atau tidaknya kita terhadap apa yang dikatakan oleh Lia dan apa yang didakwahkan
oleh Ahamadiyah, jangan lupa apa yang kita katakan dan dakwahkan pun tidak
diseutujui semua orang. Ya, kebetulan saja kita mayoritas, sehingga minoritas
mati kutu.
Agama, sebagaimana kita pahami dan praktekkan saat ini, jelas tidak menjadi
Rahmat bagi Alam Semesta. Jangankan Alam Semesta, bagi negara kita pun tidak
bisa.
Agama sebagaimana dipraktekkan oleh kelompok-kelompok militan di Timur Tengah
misalnya, menyebabkan penderitaan dan kesengsaraan bagai seluruh rakyat
Palestina dan Lebanon. Saat ini, silakan berpihak pada mereka – kelak, jika
Bangsa Palestina dan Lebanon bangkit, namamu akan dimasukkan dalam daftar para
pengkhianat bangsa dan negara. Kewarasan kita tidak setuju dengan serangan
agresor Israel, tetapi kewarasan kita juga tidak setuju dengan kekerasan yang
dilakukan oleh kelompok-kelompok militan sehingga selalu memicu perang di
kawasan itu.
Palestina, Lebanon, Irak….. negara-negara di Teluk yang merasa tertindas saat
ini, harus mengupayakan kelahiran seorang Gandhi. Jangan membalas kejahatan
dengan kejahatan, dan kejahatan yang menyerangmu akan kehabisan energi. Mereka
akan berhenti sendiri. Saat ini, kejahatan Israel malah mendapatkan energi dari
kelompok-kelompok militan di Timur Tengah. Mereka memperoleh alasan untuk
melakukan agresi militer.
Adalah suatu kemalangan bahwa kelompok-kelompok militan seperti itu, ada juga
di tanah-air kita. Ada juga tokoh-tokoh yang menyebarluaskan kebencian dengan
menggunakan dalih agama. Ayat-ayat suci diselewengkan artinya, dan penyelewengan
itu disebut ilmiah. Baru keluar dari penjara, sudah berkarya kembali. Seribu
orang menghadiri Tabligh Akbar yang digelarnya. Tepuk Tangan!!
Agama adalah Berkah.
Ia menjadi Rahmat yang menyebarkan Kasih, atau menjadi Laknat yang penuh
Kebencian – karen ulah manusia, karena kita. Karena pemahaman kita, karena
laku kita.
Agama merupakan Rahmat bagi Alam Semesta.
Agama-agama, setiap agama, agamaku dan agamaku, agama kita semua – yang
intinya adalah satu, Penyerahan Diri pada Kehendak Ilahi – tanpa kecuali
merupakan Berkah dan berpotensi sebagai Rahmat bagi Alam Semesta. Berpotensi.
Benih Potensi itu mau ditanam, disiriami air kehidupan, dipupuki dengan
cinta…… atau dibiarkan jatuh diatas tanah yang gersang, dan mati dalam
kekeringan…… semuanya kembali pada kita.
Agama adalah sesuatu yang bersifat sangat individu, dalam pengertian setiap
orang harus menjalaninya sendiri. Ia tidak dapat diwakilkan. Tidak ada yang
menjadi perantara antara khalaq, ciptaan Allah, dan Khaaliq, Gusti Allah., Sang
Maha Cipta. Institusi-institusi yang saat ini berperan sebagai perantara tak
akan bertahan lama.
Kebangkitan Manusia Indonesia, bangkitnya kesadaran dalam diri kita – akan
mengakhiri peran institusi-institusi tersebut. Dan, institusi-institusi tersebut
pun menyadari hal ini. Mereka memahaminya betul. Mereka tahu bahwa
institusi-institusi mereka melanggar Hukum Alam, bertentangan dengan Firman
Allah.
Berkah dan Rahmat adalah dari Allah.
Berkah tidak dapat diinstitusikan. Rahmat tidak dapat dilembagakan. Segala
upaya ke arah itu hanya membuktikan ketololan kita.
Lalu, bagaimana agama yang konon diakui sebagai rahmat bagi seluruh alam, dapat
diinstitusikan? Bagaimana dapat dilembagakan?
Namun, kenyataan di lapangan, ground facts, membenarkan bahwa setiap agama
telah diinstitusikan, dilembagakan…… Apa iya? Jika memang demikian,
bagaimana dengan Firman Allah bahwa Agama adalah Rahmat bagi Seluruh Alam? Apa
iya, Rahmat Allah dapat diinstitusikan?
Saya tidak tahu.
Yang jelas, pelembagaan semacam itu telah menyusahkan banyak orang.
Memecah-belah umat, memicu pertikaian, pertengkaran, bahkan perang atas nama
agama.
Jangan-jangan, dalam kegagapanku aku berpikir, jangan-jangan yang mereka anggap
agama dan dilembagakan itu bukan agama….. ini memang pemikiranku yang sangat
bodoh dan tidak ilmiah….. Jangan-jangan yang mereka lembagakan dan
institusikan itu hanyalah “ego” mereka, kesombongan mereka, keakuan mereka
yang merasa sudah tahu segala sesuatu tentang agama.
“Manusia yang masih merupakan konsep, masih harus berjuang untuk menjadi
final,” kata seorang teman, “malah berusaha untuk menciptakan konsep tentang
Tuhan.” Inilah kesia-siaan kita. Inilah kekacauan pikiran kita.
Lembaga-lembaga dan institusi-institusi kita hanya menyandang nama agama.
Identitas agama digunakan oleh pengusaha dan pedagang bagi usaha mereka, warung
mereka. Digunakan oleh para politisi sebagai asas partai mereka. Bahkan pembela
para penjahat pun menggunakannya secara bebas. Tidak ada yang menegur mereka?
Kenapa? Karena, kita semua melakukan kesalahan yang sama. Kita semua, sama-sama
gila!
Agama adalah Rahmat bagi seluruh Alam.
Alas, sayang, kita belum beragama…. Kita belum merasakan Rahmat-Nya…..
Turunnya Hujan Berkah tidak memberi manfaat apa-apa kepada kita, karena kita
berdiri tegak seperti gunung, bukit. Kita tetap gundul.
“Jadilah Lembah,” kata Lao Tze, “rendahkan dirimu, dan kau akan menjadi
subur….. Air hujan akan menggenang, kau dapat menampungnya!” Kemudian, agama
pun betul-betul menjadi Rahmat bagi Alam Semesta.
Agama manapun,
Agamamu dan Agamaku, Agama-Agama kita….. Agama yang merupakan jalan, dan
setiap jalan menuju tujuan yang satu dan sama – Allah! Kau menyebutnya Allah,
ada yang menyebutnya Bapa di Surga, Hyang Widhi, Tao, Buddha, Satnaam, Ahura
Mazda, Gusti – apa saja – Ia Satu dan Sama.
Banyak Jalan, Satu Tujuan.
Namun, jangan pula berhenti di pinggir jalan sembari mengagung-agungkan semua
jalan. Pilihlah salah satu diantaranya, dan mulailah berjalan…… Saat itu,
Agama sunggu menjadi Rahmat bagimu. Bagiku. Bagi kita semua!
ANAND KRISHNA
“Dibuat khusus untuk Jurnal Edukasi - Alternatif Wacana Pendidikan, Volume
IV, Nomor 1, April 2007 ”
- Sebuah Renungan Spiritual, Bukan Tulisan Ilmiah -
_______________-
ini sebuah tulisan yang menarik sebagai referensi menyikapi perbedaan.
Rabu, Januari 21, 2009
Suara (ku Berharap)
Disini aku masih sendiri
Merenungi hari-hari sepi
Aku tanpamu
Masih tanpamu
Bila esok hari datang lagi
Ku coba untuk hadapi semua ini
Meski tanpamu meski tanpamu
Bila aku dapat bintang yang berpijar
Mentari yang tenang bersamaku disini
Ku dapat tertawa menangis merenung
Di tempat ini aku bertahan
*
Suara dengarkanlah aku
Apa kabarnya pujaan hatiku
Aku di sini menunggunya
Masih berharap di dalam hatinya
Suara dengarkanlah aku
Apakah aku slalu dihatinya
Aku di sini menunggunya
Masih berharap di dalam hatinya
Kalau ku masih tetap disini
Ku lewati semua yang terjadi
Aku menunggumu Aku menunggu
Suara dengarkanlah aku
Apa kabarnya pujaan hatiku
Aku di sini menunggunya
Masih berharap di dalam hatinya
Suara dengarkanlah aku
Apakah aku ada dihatinya
Aku di sini menunggunya
Masih berharap di dalam hatinya
Back to *
Suara dengarkanlah aku
--------------------------
ni lagu menarik perhatianku pada saat pentas idola cilik yang dinyanyiin ma Irsyad.. kereeeeeeeeen abiz hehehhe
Selasa, Desember 30, 2008
Izinkan ku bermaksiat
Setelah merenung sejenak, ibrahim berkata, “jika kau mampu melaksanakan 5 syarat yang kuajukan, maka aku tidak keberatan kau berbuat dosa”
Tentu saja dengan penuh rasa ingin tahu yang besar, Jahdar berkata, “apa saja syarat-syarat itu, ya aba ishak?
Syarat pertama, jika kau melaksanakan perbuatan maksiat, janganlah kau memakan rizki Alah “ ucap ibrahim
Lelaki itu mengeryitkan dahinya lalu berkata : “lalu aku makan dari mana? Bukankah segala sesuatu yang berada di bumi ini adalah rizki Allah ?”
“benar”, jawab Ibrahim dgn tegas. “Bila kau telah mengetahuinya, masih pantaskah kau memakan rizki-Nya sementara ka uterus melakukan maksiat dan melanggar perintah-perintah – Nya ?”
“Baiklah… “, jawab lelaki itu tampak menyerah. “Kemudian apa syarat yang kedua?”
“Kalau kau bermaksiat kepada Allah, janganlah Kau tinggal di bumi- Nya”, kata Ibrahim lebih tegas lagi.
Syarat kedua itu mmbuat Jahdar lebih kaget lagi . “Apa? Syarat ini lebih hebat lagi. Lalu aku harus tinggal dimana? Bukankah bumi dengan segala isinya ini milik Allah ?“
“Benar Abdallah. Karena itu pikirkanlah baik-baik. Apakah kau masih pantas memakan rizki-Nya dan tinggal di bumi-Nya sementara ka uterus bermaksiat?” Tanya Ibrahim.
“Kau benar Aba Ishak”, ucap Jahdar kemudian. “Lalu apa syarat ketiga?” Tanya dengan penasaran. “Kalau kau masih juga bermaksiat kepada Allah, tetapi masih ingin memakan rizki-Nya dan tinggal di bumi-Nya, maka carilah tempat yang tersembunyi agar tidak terlihat oleh-Nya”.
Syarat ini membuat lelaki itu terkesima. “Ya Aba Ishak, nasehat macam apakah semua ini? Mana mungkin Allah tidak melihat kita ?”
“Bagus! Kalau kau yakin Allah selalu melihat kita, tetapi kau masih terus memakan rizki-Nya, tinggal di bumi-Nya dan terus melakukan maksiat kepada-Nya. Pantaskah kau melakukan semua itu?”, Tanya Ibrahim kepada lelaki yang masih tampak bengong itu. Semua ucapan itu membuat Jahdar bin Rabiah tidak berkutik dan membenarkannya.
“Baiklah, ya Aba ishak, lalu katakan sekarang syarat yang ke empat?”
“jika malaikatul maut hendak mencabut nyawamu, katakanlah kepadanya bahwa engkau belum mau mati sebelum bertaubat dan melakukan amal saleh”.
Jahdar termenung. Tampaknya ia mulai menyadari semua perbuatan yang dilakukan selama ini. Ia kemudian berkata, “tidak mungkin… tidak mungkin semua itu kulakukan”.
“Ya Abdallah, bila kau tidak sanggup mengundurkan hari kematianmu, lalu dengan cara apa kau dapat menghindari murka Allah ?”
Tanpa banyak komentar lagi, ia bertanya syarat yang kelima, yang merupakan syarat terakhir. Ibrahim bin Adham untuk kesekian kalinya memberi nasehat kepada lelaki itu. “Yang terakhir, bila malaikat Zabaniyah hendah menggiringmuke neraka di hari kiamat, janganlah kau bersedia ikut dengannya dan menjauhlah!”
Lelaki yang ada di hadapan Ibrahim bin Adham itu tampaknya tidak sangup lagi mendengar nasehatnya. Ia menangis penuh penyesalan. Dengan wajah penuh sesal ia berkata, “cukup… cukup ya Aba ishak!. Jangan kau teruskan lagi. Aku tidak sanggup mendengarnya. Aku berjanji, mulai saat ini aku akan beristgfar dan bertaubat nasuha kepada Allah”.
Apakah kita telah memenuhi syarat –syarat tersebut di atas, sehingga kita bisa berbuat maksiat terhadap Allah? ..........
Jangan pernah berubah - ST 12
Mencintai kamu penuh rasa sabar
Meski sakit hati ini kau tinggalkan
Ku ikhlas ‘tuk bertahan
Cintaku padamu begitu besar
Namun kau tak pernah bisa merasakan
Malah kini kau ucapkan selamat tinggal
Membuat keresahan
Reff:
Meninggalkanku tanpa perasaan
Hingga ku jatuhkan airmata
Kekecewaan ku sungguh tak berarah
Biarkan ku harus bertahan
Jangan pernah kau coba untuk berubah
Tak relakan yang indah hilanglah sudah
Jangan pernah kau coba untuk berubah
Tak relakan yang indah hilanglah sudah
Back to Reff:
---------
Lagu ini menggambarkan satu sisi hati yang hanya untuk seseorang yang jauh disana.. bagian dunia yang lain. tak tau kan sampai kapan slalu ada di sini. yang ku akui hanyalah saat ini, aku merindukannya, teramat sangat...
Mohon kepada Mu, Sang Pengasih Sayang, curahkan kasih sayang Mu kepada nya, Mohon izin Mu tuk menyayangi dia, tolong jaga dia, tolong sampaikan sayangku padanya.. tolong sampaikan rinduku padanya, dan tolong jaga hati ini menyayangi dia, sebagaimana yang Kau inginkan. amiin ..
Senin, Desember 15, 2008
THE POWER OF FAMILY
Orang yang menyambung silahturahmi karena Allah akan mendapatkan minimal 10 keajaiban, antara lain : rezeki yang melimpah. keberkahan hidup dan dimudahkan urusan jodohnya.
dzakarun (bhs. Arab) : berarti laki-laki atau kebenaran
Merupakan fitrah laki-laki adalah kebutuhan akan wanita. tetapi harus lah sesuai dengan Ismail (islamic making love)
Berdasarkan surat AR RUM : 21
" Dan diantara tanda-tanda kekuasaan-Nya, ialah diciptakan Nya untukmu pasangan hidup dari jenismu sendiri, supaya kamu mendapatkan ketenangan hat dan dijadikann Nya kasih sayang diantara kamu. Sesungguhnya yang demikian itu menjadi tanda-tanda kebesaran Nya, bagi orang-orang yangberfikir"
maka, orang yang menikah itu, mestinya hatinya tentram, lapang dsbnya. tapi apabila terjadi sebaliknya maka pasti ada yang salah.
Bagi yang menikah, ALLAH menjanjikan 3 hal :
1. Diperbaiki akhlaknya
2. Diluaskan rezekinya
3. Akan diangkat martabatnya
Kelebihan orang yang menikah :
Sholat sunat 2 rakaatnya lebih baik 70 rakaat dari orang yang belum menikah. Amalannya orang yang menikah nilainya 35.000 x dari yang belum menikah.
Orang yang menikah dengan orang yang baik adalah 1/2 dari agama telah disempurnakan oleh ALLAH , 1/2 nya lagi diisi dengan Taqwa
Jangan putus asa dengan rahmat ALLAH !!!
nerakanya pernikahan adalah perselingkuhan / perzinahan : maka tidak akan ada berkah dan ketentraman.
Bagi yang berselingkuh akan diberikan 6 azab, 3 didunia & 3 akhirat
1. Dicabut kharisma nya (tidak dihargai orang lain)
2. Dipendekkan umurnya
3. Dimiskinkan hidupnya
4. Dibikin bingung di akhirat
5. Dipersulit hisabnya
6. Masuk neraka
Tahun-tahun perkawinan
1-5 th : disebut degan mawaddah : yakni arsa cinta yang tumbuh dan keluar secara fisik
warrahmah setelah melewati masa mawaddah itu, merupakan rasa cinta yang keluar secara batin (adanya rasa setia dan rasa percaya)
Buat para suami : jangan perlakukan istri sebagai budak pada siang hari (yang mengerjakan segala urusan rumah tangga) sedangkan pada malam harinya 'dipakai' . Ini akan mengakibatkan tidak harmonisnya keluarga, karena tidak sejajarnya posisi dan hilangnya rasa saling menghargai antara suami-istri.
Tips Sukses Berumah Tangga
Buat suami
1. Setialah seperti merpati. usahakan jangan kalah dengan merpati
sifatnya merpati apabila terpisah dari pasangannya, dia akan segera mencari pasangannya, baru kemudian memikirkan makanannya, sarang dsbnya.
2. Sayangi istri seperti menyayangi diris endiri
jika tidak ingin dikasari, jangan mengasari
jika tidak ingin dikhianati,jangan mengkhianati
3. Berikan rezeki yang halal bagi istri dan anak (halallan toyyiban)
Jangan salahkan apabila istri dan anak- anak tidak bisa diatur karena rezeki yang diberikan tidak bersumber dari yang halal.
Orang yang tidak mencari rezeki yang halal / melakukan maksiat akan merasakan SKR, yaitu :
1. sibuk. selalu akan terasa sibuk, dikejar-kejar waktu, serasa 24 jam itu kurang baginya untuk mencari rezeki
2. Kurang. Rezeki yang didapatnya akan selalu terasa kurang, berapapun banyaknya bahkan habis tak menentu
3. rugi. Rezeki yang didapat malah lebih kecil adri modal yang dikeluarkan (waktu, tenaga, pikiran dan uang)
Buat istri
Bersikaplah SPD
1. Sulaplah rumah menjadi surga
rumah yang laksana surga syarat utamanya adalah halal untuk ditempati meski hanya rumah kontrakan. Dijaga kebersihannya, rapih dan terlihat indah. Pada saat suami pulang, sambut dengan senyum ramah, lap keringatnya dan sediakan minumannya.
2. 'Puaskan suami'
Tegakkan amar ma'ruf nahi munkar
3. Didik anak menjadi anak yang sholeh dan sholehah
Bagi yang belum nikah, perbaharuilah niat !!!!
niatkan karena ALLAH semata. Semoga kita semua dilimpahi rahmat dan karunia- Nya . amiin
Puisi Cinta Rabi'ah Al Adawiyah
Jika hamba mengabdi pada - Mu
karena takut api neraka - Mu
maka masukkanlah diriku ke dalamnya
Dan jika hamba mengabdi pada-Mu
karena mengharap surga-Mu
maka campakkanlah daku daripadanya
tetapi jika hamba mengabdi pada-Mu
karena cinta pada-Mu
maka karuniakanlah padaku
Cahaya Cinta-Mu
Izinkan hamba menatap wajah Mu
yang Maha MUlia dan Maha Agung itu
Rabi'ah Al Adawiyah
(713 M - 801 M)
Rabu, Desember 03, 2008
Aku, Kesehatanku dan Mahatma
Dan itu termasuk obat-obatan, terutama yang berbentuk kaplet. Ketika di rontgen, di usus aku itu, menumpuk berbagai obat-obatan sebagaimana bentuk asli nya hingga akhirnya aku memutuskan berhenti minum obat-obatan medis. Dan beralih ke pengobatan alternatif dengan terapi bedah ayam. Tetapi itupun tidak berangsur baik malah membuat saya makin lemah dan kurus. Hingga akhirnya saya memutuskan untuk pulang kampung untuk berobat dengan ayahku, yang memang bisa mengobati dengan pijit refleksi. eh beliau malah menyarankan aku untuk mengikuti olahraga ORP MAHATMA. Beliau hanya bilang bahwa kalau mau hasil maksimal ikut lah ORP MAHATMA. Berterimakasih sekali, kepada orang tua tercinta, meskipun awalnya enggan karena menurutku ORP MAHATMA itu aneh.
Kok latihan olahraga malam-malam? Pakai do’a segala. Dan kok hujan-hujan tetap harus latihan ? beribu pertanyaan ada di benak, tapi sebagai anak, aku gak membantah perintah orangtua. Ditambah lagi gak enak deh sakit lama-lama mah. Aku pun ikut sampai hari ke 10, meski hari 1 sampai hari ke -3 yang ada hanyalah rasa lelah yang luar biasa setiap selesai latihan. Tapi setiap bangun tidur besoknya merasa mulai segar. Wajah sudah tidak pucat lagi, makan sudah tidak bermasalah lagi. Bahkan aku yang dari kelas 2 SMA tidak bisa makan pedas karena masalah di lambung, seiring waktu sudah tidak bermasalah lagi. Alhamdulillah tanpa menunggu lama, pelan-pelan berat badan ku bertambah dan aku bisa segera kembali ke Jakarta untuk bekerja kembali.
Dan sampai sekarang aku sudah tidak merasakan masalah yang berat dengan lambungku. Makan apa aja selagi halal tidak ada pantangan apapun. Aku yang juga pernah mengalami vertigo, hepatitis B dan asma akut sekarang sudah enak makan, enak tidur, sehat bugar dan slalu bersemangat. Alhamdulillah ……..
Sungguh besar dampak mengikuti ORP MAHATMA bagi aku pribadi maupun keluarga. Biaya-biaya pengobatan yang dulu sampai menguras kantong sekarang hampir sudah tidak pernah dikeluarkan. Apalagi kalau diingat dulu aku berobat bukannya sembuh malah menambah penyakit dengan tumpukan obat-obat diusus. Obat mahal – mahal tapi tak bermanfaat.
Sedangkan dengan ikut ORP MAHATMA, biaya pendaftaran yang cuma 1 x seumur hidup itu, hampir sama dengan ongkos 1 x pemeriksaan ke dokter, selagi kita rajin latihan, penyakit Insya Allah tidak kambuh lagi.. Disamping itu aku juga mendapatkan banyak saudara, karena di ORP MAHATMA kita juga diajak untuk menjaga silahturahmi antar anggota dan pelatih bahkan teman-teman yang belum bergabung dengan ORP MAHATMA.
Banyak sekali manfaat mengikuti ORP MAHATMA. Sehat bukan hanya lahir nya tapi juga batin dan semua dengan biaya yang relatif murah. Jadi tidak ada alasan untuk tidak bergabung dengan ORP MAHATMA kan ?...
Terimakasih sekali kepada orang tua tercinta yang sudah mengajakaku bergabung dengan ORP MAHATMA dan para guru-guru dan para Pelatih yang sudah membina dan memotivasiku. Semoga Allah SWT memberkahi kita semua. Amiin…
Kamis, November 27, 2008
Perbedaan Persepsi
- Pertama : Jangan pernah menagih hutang kepada orang yg berhutang kepadamu.
- Kedua : Jika pergi ke toko jangan sampai mukanya terkena sinar matahari.
Waktu berjalan terus. Dan kenyataan terjadi, bahwa beberapa tahun setelah ayahnya meninggal anak yang sulung bertambah kaya sedang yang bungsu menjadi semakin miskin.
Pada suatu hari sang Ibu menanyakan hal itu kepada mereka.
Jawab anak yang bungsu :
"Ini karena saya mengikuti pesan ayah. Ayah berpesan bahwa saya tidak boleh menagih hutang kepada orang yang berhutang kepadaku, akibatnya modalku susut karena orang yang berhutang kepadaku tidak membayar sementara aku tidak boleh menagih".
"Juga Ayah berpesan supaya kalau saya pergi atau pulang dari rumah ke toko dan sebaliknya tidak boleh terkena sinar matahari. Akibatnya saya harus naik becak atau andong, padahal sebetulnya saya bisa berjalan kaki saja, tetapi karena pesan ayah itu, akibatnya pengeluaranku bertambah banyak".
Kepada anak yang sulung yang bertambah kaya, sang Ibu pun bertanya hal yang sama.
Jawab anak sulung :
"Ini semua adalah karena saya mentaati pesan ayah. Karena Ayah berpesan supaya saya tidak menagih kepada orang yang berhutang kepada saya, maka saya tidak pernah menghutangkan sehingga dengan demikian modal
tidak susut".
"Juga Ayah berpesan agar supaya jika saya berangkat ke toko atau pulang dari toko tidak boleh terkena sinar matahari, maka saya berangkat ke toko sebelum matahari terbit dan pulang sesudah matahari terbenam.
Karenanya toko saya buka sebelum toko lain buka, dan tutup jauh sesudah toko yang lain tutup."
"Sehingga karena kebiasaan itu, orang menjadi tahu dan tokoku menjadi laris, karena mempunyai jam kerja lebih lama".
MORAL CERITA :
Kisah diatas menunjukkan bagaimana sebuah kalimat di tanggapi dengan presepsi yang berbeda. Jika kita melihat dengan positive attitude maka segala kesulitan sebenarnya adalah sebuah perjalanan membuat kita sukses tetapi kita bisa juga terhanyut dengan adanya kesulitan karena rutinitas kita... pilihan ada di tangan anda.
'Berusahalah melakukan hal biasa dengan cara yang luar biasa'
Bahagialah sebagai Wanita
- Banyak wanita yang bilang bahwa susah menjadi wanita, lihat saja aturan-aturan di bawah ini : Wanita auratnya lebih susah dijaga dibanding lelaki
- Wanita perlu ijin suami apabila mau keluar rumah, tetapi tidak sebaliknya.
- Wanita saksinya (apabila menjadi saksi) kedudukannya tidak sekuat lelaki.
- Wanita menerima warisan lebih sedikit dibanding lelaki.
- Wanita harus menghadapi kesulitan yang teramat sangat ketika mengandung dan melahirkan.
- Wanita wajib taat kepada suami, sementara suami tidak perlu taat kepada istrinya.
- Talak terletak di tangan suami bukan di tangan istri.
- Wanita kurang nyaman dalam beribadah karena adanya masalah haid dan nifas setelah melahirkan
- Dan lain-lain,
Tetapi......PERNAHKAH KITA MELIHAT KENYATAANNYA?
- Benda yang mahal harganya akan dijaga sedemikian rupa dan disimpan ditempat yang teraman dan terbaik. Sudah pastilah itu intan permata bandingannya dengan seorang wanita.
- Wanita perlu taat kepada suami, tetapi tahukah lelaki wajib taat kepada ibunya 3x lebih utama daripada kepada bapaknya.?
- Wanita menerima warisan lebih sedikit dibandingkan lelaki, tetapi tahukah bahwa harta itu akan menjadi miliknya dan ridak perlu diserahkan kepada suami? Sementara suami apabila mendapat warisan ia wajib juga menggunakannya untuk istri dan anak-anaknya?
- Wanita perlu bersusah payah mengandung dan melahirkan anak, tetapi tahukah bahwa setiap saat ia didoakan oleh seluruh keluarga, malaikat dan segala makhluk Allah di muka bumi ini, dan tahukah jika ia meninggal karena melahirkan adalah syahid dan surga menantinya.
- Di akhirat kelak seorang lelaki akan dipertanggungjawabkan terhadap 4 wanita : Ibunya, Istrinya, Anak perempuannya dan Saudara perempuannya. Artinya : bagi seorang wanita tanggung jawab atas dirinya di tanggung oleh 4 lelaki yaitu suaminya, ayahnya, anak lelakinya dan saudara lelakinya.
- Seorang wanita boleh memasuki pintu syurga melalui pintu yang disukainya cukup dengan 4 syarat saja : Sholat 5 waktu, Puasa di bulan Ramadhan, taat kepada suaminya dan menjaga kehormatannya.
- Seorang lelaki wajib berjihad di jalan Allah, sementara bagi wanita jika taat kepada suami dan menunaikan tanggung jawabnya kepada Allah , maka ia akan turut menerima pahala setara seperti orang yang pergi berjihad di jalan Allah tanpa perlu mengangkat senjata.
Subhanallah......!! Demikian sayangnya Allah kepada wanita..... Yakinlah bahwa sebagai Zat Yang Maha Pencipta sudah pasti Allah Maha Tahu akan segala yang diciptakanNya sehingga peraturanNya adalah yang terbaik untuk manusia.
Senin, November 24, 2008
KEKUATAN SEDEKAH
Dikisahkan dalam sebuah hadist yang diriwayatkan oleh ATTirmidzi dan Ahmad,sbb :
" Tatkala Allah Ta’ala menciptakan bumi, maka bumipun bergetar. Lalu Allah menciptakan gunung dengan kekuatan yang telah diberikan kepadanya,ternyata bumipun terdiam.
Para malaikat terheran-heran akan penciptaan gunung tersebut. Kemudian mereka bertanya ”Ya Rabbi, adakah sesuatu dalam penciptaan-Mu yang lebih kuat daripada gunung ?”Allah menjawab, ”Ada, yaitu besi” (kita mafhum bahwa gunung batupun bisa menjadi rata ketika dibor dan diluluhlantakkan oleh buldozer atau sejenisnyayang terbuat dari besi),
Para malaikat bertanya lagi ”Ya Rabbi, adakah sesuatu dalam penciptaan-Mu yang lebih kuat daripada besi ?”Allah yang Maha Suci menjawab, ”Ada, yaitu api” (besi, bahkan bajapun bisa menjadi cair dan lumer setelah dibakar api),
Para malaikat kembali bertanya ”Ya Rabbi, adakah sesuatu dalam penciptaan-Mu yang lebih kuat daripada api ?”Allah yang Maha Agung menjawab, ”Ada, yaitu air” (api membara sedahsyat apapun niscaya akan padam jika disiram air),
Para malaikatpun bertanya kembali ”Ya Rabbi, adakah sesuatu dalam penciptaan-Mu yang lebih kuat daripada air ?”Allah yang Maha Tinggi dan Maha Sempurna menjawab, ”Ada, yaitu angin”(air di samudera luas akan serta merta terangkat, bergulung-gulung dan menjelma menjadi gelombang raksasa yang dahsyat, tiada lain karena kekuatan angin. Angin ternyata memiliki kekuatan yang teramat dahsyat),
Akhirnya para malaikatpun bertanya lagi ”Ya Allah, adakah sesuatu dalam penciptaan-Mu yang lebih dahsyat dari itu semua ?”Allah yang Maha Gagah dan Maha Dahsyat kehebatannya menjawab, ”Ada,yaitu amal anak Adam yang mengeluarkan sedekah dengan tangan kanannya sementara tangan kirinya tidak mengetahuinya”.
Artinya, yang paling hebat, paling kuat dan paling dahsyat sebenarnya adalah orang yang bersedekah tetapi tetap mampu menguasai dirinya, sehingga sedekah yang dilakukannya bersih, tulus dan ikhlas tanpa ada unsur pamer ataupun keinginan untuk diketahui orang lain.
Berkaitan dengan ikhlas ini, RasulAllah SAW mengingatkan dalam pidatonya ketika beliau sampai di Madinah pada waktu hijrah dari Makkah : ”Wahai segenap manusia ! Sesungguhnya amal itu tergantung kepada niat, dan seseorang akan mendapatkan (pahala) sesuai dengan apa yang diniatkannya”.
Oleh karena itu hendaknya kita selalu mengiringi sedekah kita dengan niat yang ikhlas hanya karena Allah semata, tanpa tendensi ingin dipuji, dianggap dermawan, dihormati, dll yang dapat menjadikan sedekah kita menjadi sia-sia. Ganjaran bersedekah RasulAllah Shollallahu Alaihi Wa Sallam menganjurkan kepada kita umatnya untuk memperbanyak sedekah, hal itu dimaksudkan agar rezeki yang Allah berikan kepada kita menjadi berkah.Allah memberikan jaminan kemudahan bagi orang yang berdekah, ganjaran yang berlipat ganda (700 kali) dan ganti, sebagaimana firman-Nya dan sabda RasuluAllah SAW, sbb :
Allah Ta’ala berfirman, ”Adapun orang yang memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertaqwa dan membenarkan adanya pahala yang terbaik(surga) maka Kami kelak akan menyiapkan baginya jalan yang mudah”.{Qs. Al Lail (92) : 5-8}
Allah Ta’ala berfirman, ”Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh)orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulirseratus biji. Allah melipatgandakan (ganjaran) bagi siapa yang Diakehendaki. Dan Allah maha luas (kurnia-Nya) lagi maha mengetahui”.{Qs. Al Baqarah (2) : 261}
RasulAllah SAW bersabda, ”Setiap awal pagi, semasa terbit matahari, ada dua malaikat menyeru kepada manusia dibumi. Yang satu menyeru, ”YaTuhan, karuniakanlah ganti kepada orang yang membelanjakan hartanya kepada Allah”.
Yang satu lagi menyeru ”musnahkanlah orang yang menahan hartanya”.Tolak Bala dengan Sedekah Orang-orang yang beriman sangat sadar dengan kekuatan sedekah untuk menolak bala, kesulitan dan berbagai macam penyakit, sebagaimana sabda RasulAllah SAW, sbb :
”Bersegeralah bersedekah, sebab yang namanya bala tidak pernah mendahului sedekah”.
”Belilah semua kesulitanmu dengan sedekah”.
”Obatilah penyakitmu dengan sedekah”.
Banyak dari kita yang sudah mengetahui dan memahami perihal anjuran bersedekah ini, namun persoalannya seringkali kita teramat susah untukmelakukannya karena kekhawatiran bahwa kita salah memberi, sebagai contoh kadang kita enggan memberi pengemis/pengamen yang kita temui dipinggirjalan dengan pemikiran bahwa mereka (pengemis/pengamen tsb) menjadikan meminta-minta sebagai profesinya, tidak mendidik, dll. Padahal sesungguhnya prasangka kita yang demikian adalah bisikan-bisikan setan laknatullah yangtidak rela melihat kita berbuat baik (bersedekah), sebaiknya mulai saat ini hendaknya kita hilangkan prasangka-prasangka yang demikian karena seharusnya sedekah itu kita niatkan sebagai bukti keimanan kita atas perintah Allah dan rasul-Nya yang menganjurkan umatnya untuk gemar bersedekah,
Masalah apabila ternyata kemudian bahwa sedekah yang kita beri kepada pengemis/pengamen tadi tidak tepat sasaran, bukan lagi urusan kita, karena sedekah hakekatnya adalah ladang amal bagi hamba-hamba Allah yang bertakwa. Pengemis/pengamen/fakir miskin lainnya adalah ladang amal bagi orang yang berkecukupan, dapat kita bayangkan andaikata tidak ada lagi orang-orang tersebut, kepada siapa lagi kita dapat beramal (bersedekah) ???
Atau kalo kita termasuk orang yang tidak suka memberi sedekah (kepadapengemis/pengamen/fakir miskin) dengan berbagai alasan dan pertimbangan maka biasakanlah bersedekah dengan menyiapkan sejumlah uang sebelum sholat Jum’at dan memasukkan ke kotak-kotak amal yang tersedia danbiasakan dengan memberi sejumlah minimal setiap Jum’at, misalnyaJum’at ini kita menyumbang Rp. 10 ribu ke kotak amal maka sebaiknya Jum’at berikutnya harus sama, syukur-syukur bisa lebih dan terutama harus diiringi dengan keikhlasan.
Sedekah anda, walaupun kecil tetapi amat berharga disisi Allah Azza Wa Jalla.Orang yang bakhil dan kikir dengan tidak menyedekahkan sebagian hartanya akan merugi didunia dan akhirat karena tidak mendapat keberkahan. Jadi,sejatinya orang yang bersedekah adalah untuk untuk kepentingan dirinya.Sebab menginfakkan (belanjakan) harta akan memperoleh berkah dan sebaliknya menahannya adalah celaka. Tidak mengherankan jika orang yang bersedekah diibaratkan orang yang berinvestasi dan menabung disisi Allah dengan jalan meminjamkan pemberiannya kepada Allah. Balasan yang akan diperoleh berlipatganda. Mereka tidak akan rugi meskipun pada awalnya mereka kehilangan sesuatu.Sedekah yg pahalanya terus mengalir
Dari Abu Hurairah RA, bahwa sesungguhnya Rasulullah SAW, telah bersabda: ”Bila seorang hamba telah meninggal, segala amalnya terputus, kecuali tiga hal : amal jariyah, ilmu yang bermanfaat atau anak shalih yang mendo’akannya” (HR. Bukhari, dalam Adabul Mufrad).
Berikut contoh konkrit, sadaqah (amal) jariah, yang pahalanya terus mengalirwalaupun si pemberi sadaqah telah wafat :SADAQAH JARIAH
1. Berikan Al-Quran pada seseorang,setiap saat Al-Quran tersebut dibaca,anda mendapatkan kebaikan.
2. Ajarkan seseorang sebuah do'a.Pada setiap bacaan do'a itu, anda mendapatkan kebaikan.
3. Sumbangkan kursi roda ke RS dansetiap orang sakit menggunakannya,anda mendapatkan kebaikan.
4. Tanam sebuah pohon. Setiap seseorang atau hewan berlindung dibawahnya atau makan buahnya,anda dapat kebaikan.
5. Tempatkan pendingin air di tempatumum.
6. Berbagi bacaan yang membangun dengan seseorang.
7. Libatkan diri dalam pembangunan mesjid.
8. Berbagi CD Quran atau Do'a.
9. Bantulah pendidikan seoranganak.
10. Bagikan pengetahuan ini dengan orang lain.
Jika seseorangmenjalankan salah satu dari hal di atas, Anda dapat kebaikan sampai hari Qiamat.
Jadilah dai “sejuta artikel” dengan meneruskan artikel ini kepada saudarasaudarakita sesama muslim yang barangkali belum mengetahuinya, sehinggakita tidak dilaknat Allah dan seluruh mahluk karena tidak menyampaikan(menyembunyikan) apa yang telah kita ketahui, sebagaimana dinyatakan dalamAl-Quran surah Al-Baqarah Ayat 159 :”Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah Kamit urunkan dari keterangan-keterangan dan petunjuk hidayat, sesudah Kami terangkannya kepada manusia di dalam Kitab Suci, mereka itu dilaknat oleh Allah dan dilaknat oleh sekalian makhluk”.Dari Abdullah bin 'Amru ra, RasulAllah S.A.W bersabda: "Sampaikanlah pesanku walaupun hanya satu ayat”.Semoga Allah Ta'ala membalas 'amal Ibadah kita.Wassalamu'alaikum warahmatullaahi wabarakatuh.
Amin....