Zack

Foto saya
be better than yesterday..

Senin, Februari 23, 2009

Agamamu, Agamaku, Agama-Agama Kita

God is too Big
to be contained in one single container.

Apa yang dirasakan oleh sekuntum bunga yang baru saja mekar? Bahagia….
Kebahagiaan yang tak terjelaskan lewat kata-kata. Itulah pertama kalinya ia
mengalami sesuatu yang luar biasa. Sesuatu yang tak akan dialaminya lagi.
Sesuatu yang terjadi hanya “sekali” saja. Ia bersuka-cita, ia menari dan
menyanyi riang….. Ia mengumpulkan para sahabat dan kerabat untuk berbagi
berita baik itu dengan mereka: “Lihat, lihat…. Aku telah mekar!”

Apa yang terjadi, How did it happen?
Entah apa yang terjadi, entah bagaimana….. Ia berusaha untuk mejelaskan,
tetapi tidak mampu. Ketika Kabir, mistik sufi asal India Utara itu ditanya,
“Apa yang kau rasakan saat itu?” Ia menjawab, “Kulihat sungai Ganga yang
berbadan lebar itu terbakar, dan ikan-ikannya memanjat pohon!”

Nanak, yang kelak akan dikaitkan dengan agama Sikh, salah satu diantara
agama-agama baru yang berusia dibawah enam abad, menjawab dengan cara lain:
“Aku melihat langit terbelah, dan turun hujan cahaya….. Cahaya Murni!”

Namun, mereka pun menyadari bahwa pengalaman mistik mereka tidak berarti
apa-apa jika tidak bermanfaat bagi orang lain. Maka, terpaksa, mereka berusaha
untuk meng-“akal”-kan sesuatu yang sungguhnya berada diluar akal, supaya
kita dapat memahaminya. Supaya “masuk-akal” kita!

“Agama, dan kitab-kitab suci,” kata Murshidku, Sheikh Baba, seorang tukang
es di Lucknow (Pusat Peradaban Islam di India Utara), “adalah hasil upaya
seperti itu.”

Ia melanjutkan, “Agama dan kitab-suci adalah sarana, bukan tujuan. Gunakan
mereka sebagai pemicu untuk memicu kesadaran di dalam dirimu. Untuk memicu
kehausan dan kerinduan di dalam dirimu. Untuk apa? Untuk mengalamai sendiri apa
yang dialami oleh para rasul, para sufi, juga para yogi, para suci dan mistik
dari semua agama, semua tradisi.

“Jika kau menganggap agama dan kitab suci sebagai tujuan, kau akan menduakan
Allah. Itulah yang dilakukan banyak orang saat ini. Tujuan adalah Allah.
Dari-Nya kita berasal, kepada-Nya kita kembali.”

Pemahaman tentang agama seperti inilah yang menjadikan agama Berkah atau Rahmat
bagi Alam Semesta. Tafsir ini menjadikan agama Jalan Raya, Jalan Tol yang dapat
dilalui siapa saja, kapan saja…. Jalan bebas hambatan.

Berbicara atau menulis tentang agama, atau tepatnya “pemahamanku tentang
agama”, aku tidak dapat tidak mengutip Guruku, Murshidku, Sheikhku. Segala apa
yang kumiliki saat ini hanyalah karena berkahmu, Guru!

Ia adalah penjual es, miskin materi, berpakaian compang-camping, robek sana,
robek sini yang kemudian disulam dengan rapi oleh keponakannya….. Tidak
seperti para ustad muda jaman kita yang sering muncul di layar teve. Tata Rias
oleh ……. Busana oleh …….. Tepuk Tangan!

Sayang, setting panggung dan busana penuh gemerlap itu jarang menunjukkan
kegemerlapan hati sebagaimana pernah kusaksikan dalam diri Murshidku. Seorang
tukang es, penjual es balok.

Ketika seorang remaja dari keluarga Hindu menyampaikn niatnya untuk “masuk
Islam”, ia pun tertawa: “Kata siapa kau belum masuk Islam? Ingat, Penyerahan
Diri dan Kedamaian Hati itulah Islam. Penyerahan Diri terhadap Kehendak Ilahi
dan Kedamaian Hatimu sendiri – dan, kau, nak, memiliki keduanya. Kau sudah
menyatakan niatmu untuk masuk Islam, dan Allah telah mendengar niatmu itu.

“Tetapi,” nah ini yang luar biasa, yang barangkali jarang didengar di
negeri kita, “janganlah sekali-kali menymbongkan dirimu sebagai Muslim.
Biarlah Allah yang menentukan apakah Penyerahan Dirimu sudah sampurna atau
tidak.”

“Aku ingin lebih dekat denganmu, Guru!” remaja itu masih ngotot.

“Kau sudah dekat dengan Allah.
Tugasku selesai sudah. Dengar nak, aku pun, hingga saat ini masih ber-jihad
untuk menjadi seorang Muslim. Aku pun masih menunggu fatwa-Nya apakah aku
diterima sebagai Muslim atau tidak.”

Jihad, bagi Guruku, berarti Koshish dalam bahasa Urdu, To Strive, To Struggle,
bukan To Fight, “Jihad berarti ‘Berupaya dengan Sungguh-Sungguh’. Jihad
bukan berantam, bukan berkelahi,bukan mencaci-maki, apalagi membunuh.”

Ia menggunakan bahasa sederhana, bahasa populer, bahasa gaul untuk jaman
itu….. maklum, umunya para murid adalah remaja, anak-anak muda….. dan, yang
termuda, yang baru berusia 11-12 tahun, seorang anak yang berasal dari Solo,
Jawa-Tengah, Indonesia.

“Tetapi, ada juga ayat yang mengatakan bahwa di yang diridhai Allah hanyalah
Agama Islam.” Murid yang paling tua, berusia 30-an tahun, mengingatkan sang
Guru akan satu ayat dari kita yang memang bunyinya kurang-lebih begitu.

Sang Guru tersenyum, “Bukan diridhai, tidak ada istilah ridha dalam ayat itu.
Ridha itu bahasa Arab, dan Al-Qur’an dalam bahasa Arab. Jika memang Allah
ingin menggunakan istilah ridha, Ia akan menggunakannya. Aku memaknai, memahami
ayat itu seperti ini: Bagi Allah yang ada hanyalah Islam.”

Beliau tidak pernah meng-klaim sebagai penafsir Kitab Suci, “Siapakah kita
ini hingga dapat menafsirkan Firman Allah? Kita hanya dapat memahami Firman-Nya
sesuai dengan tingkar kesadaran kita masing-masing.

“Sebab itu,” ia pun selalu menasihati kita, “janganlah sekali-kali merasa
sudah ‘khatam’, sudah selesai dengan kitab-sucimu. Kitab-kitab suci bukan
untuk dibaca seperti buku-buku umum lainnya. Kita-kitab suci harus diulangi.
Terus-menerus, sepanjang hidupmu….. karena, setiap kali kau membacanya, jika
kesadaranmu telah meningkat, kau akan memperoleh makna baru.”

Sebab itu pula, beliau selalu menganjurkan kita untuk membaca kitab-suci,
bahkan mengaji dalam bahasa Urdu, salah satu dari sekian banyak bahasa nasional
India, “Karena, dengan cara itu kalian dapat lebih memahami arti kitab
suci.”

Majelis-majelis ulama di India maupun Pakistan tidak mengharamkan pengajian
dalam bahasa Urdu, bahkan bahasa daerah lainnya. Sehingga, seperti yang
dikatakan oleh Guru, “Kalian tidak seperti burung beo, hanya menghafal
saja!”

Wah, Guru, untung kau lahir di India.
Kalau lahir di Indonesia, barangkali sudah diperkarakan oleh mereka yang merasa
lebih tahu dan memonopoli ajaran agama.

Kembali pada beliau, “Ya, di mata Allah yang ada hanyalah satu, yaitu Islam.
Dan, semua Nabi adalah Muslim. Hazrat Isa yang ajarannya menjadi inspirasi bagi
agama Masihi, Hazrat Musa yang syariatnya menjadi agama Yahudi – mereka semua
adalah Muslim. Tanpa kecuali. Bahkan, nabi-nabi lain, dari tradisi-tradisi lain
yang tidak disebut dalam Al-Qur’an. Karena, Allah pun berfirman bahwa tidak
semua nabi dijelaskan lewat Al-Qur’an.”

Beliau mengartikan Islam sebagai “sifat dari agama”. Dan, “sifat”-nya
itu satu. “Seperti,” Beliau jelaskan, “gula hanya memiliki satu sifat,
‘Manis’. Itu saja. Apapun bahan baku yang digunakan untuk membuat gula, jika
tidak manis, ya bukan gula.

“Din adalah sifat Mazhab.
Din adalah Keagamaan, inti sari agama, agama yang dilakoni, dijalankan. Mazhab
adalah wahananya, alirannya. Yang mengalir adalah Air Kehidupan Din. Mazhab
adalah agama, aliran. Din adalah keagamaan, air yang mengalir.

“Apapun Mazhabmu,
Jika kau menjalankannya dengan baik, maka kau telah menemukan Din. Dan, Din
itulah yang diperhatikan oleh Allah.

“Agak tidak tepat jika Din diartikan sebagai agama.
Karena, ketika Al-Qur’an diterima oleh Kekasihku,” Ya, ‘Kekasihku’,
atau Mere Mehboob dalam bahasa Urdu, dengan julukan itulah beliau sering
menyebut Rasul Allah, Muhammad yang kumuliakan…… “saat itu sudah ada agama
Masihi, ada agama Yahudi, ada kelompok-kelompok lain pula. Kendati demikian,
Firman Allah jelas dan tegas bahwa Isa yang dijunjung tinggi oleh kelompok
Masihi, dan Musa yang dijunjung tinggi oleh kelompok Yahudi, adalah Muslim,
Nabi. Tidak ada yang lebih tinggi, tidak ada yang rendah. Semua Nabi, semua
Rasul sama adanya.

“Din adalah ‘laku-agama’, perilaku yang sesuai dengan ajaran agama. Dan,
ajaran agama sungguh sangat luas, tidak dapat dijadikan monopoli salah satu
kelompok. Maka, Allah pun menasihati kita supaya melakoni agama sesuai degan
kesadaran kita, dan membiarkan orang lain melakoninya sesuai dengan kesadaran
dia.

“Sungguh sangat tidak bijak jika kita mengharuskan seorang anak yang baru
berusia 5 tahun untuk melakoni agama dan memahami ajaran agama sebagaimana
dilakoni dan dipahami oleh seorang dewasa.”

Saat itu, pemahaman agama seperti itu terasa “oke-oke” saja. Masuk akal
sih, walau usia saya baru 11-12 tahun. Beberapa tahun kemudian, kembali ke
Indonesia, saya baru sadar betapa revolusionernya pemahaman Guruku, Murshiduku,
Sheikhku…. Waheguru, Wah Guru, Engkau sungguh hebat!

Di lain kesempatan ia merestui perkawinan antara dua orang muridnya yang beda
agama. Perkawinan seperti itu memang tidak dilarang oleh konstitusi negara
India, kendati sebagian masyarakat masih belum dapat menerimanya. Saat itu,
seorang murid lain berkomentar, “Baba, bagaimana jika kelompok fundamental
menyerangmu?”

“Ah, kelompok fundamental….
Apa benar mereka fundamental? Jika benar fundamental, mereka tidak akan
menyerang. Karena mereka tahu persis ketika Mere Mehboob kawin dengan Khadija,
ritual Agama Islam pun belum ada. Perkawinan mereka itu sesuai dengan ritual
agama yang mana? Apakah perkawinan mereka tidak sah?

“Tidak, yang dapat menyerang saya bukanlah kelompok fundamental. Tetapi,
segerombolan orang-orang yang belum memahami agama. Kasihan. Ya, mereka patut
dikasihani. Aku akan menerima serangan mereka, dan akan berusaha untuk
menjelaskan sebatas kemampuanku.”

Ia bukanlah seorang Guru yang suka memasang senyuman plastik. Ketika gusar, ia
tidak berusaha untuk menyembunyikan kegusarannya. Seperti ketika ia menghadapi
teman-teman dari kelompok Wahabi yang meneruskan sekte Hambali yang alot, keras,
kaku. Mereka mengaku sebagai satu-satunya kelompok dalam Islam yang masih setia
pada Al-Qur’an dan Hadis. Mereka tidak relah jika ada yang melakukan ijtihad
dan berusaha untuk memahami ayat-ayat suci sesuai dengan kesadarannya.

Mereka adalah kelompok yang selalu berseberangan dengan Cak Nur, Gus Dur, Cak
Nun, Dawam, Ma’rif. Mereka selalu membela para penjahat dan teroris seperti
Amrozi, Samudra dan lain-lain.

Kepada mereka, Sang Guru mengatakan , “Janganlah hidup dalam ilusi seolah
dengan memelihara janggut seperti nabi, atau berjubah seperti beliau – kalian
sudah cukup Islam. Berakhlaklah seperti beliau.

“Nabi mengangkat pedang hanya untuk melawan kezaliman, demi kebebasan dan
kemerdekaan….. Apa yang kalian lakukan? Setiap tahun mengejar teman-teman kita
dari kelompok Shi’a. Tidak pernah berhenti sebelum jatuhnya korban, sebelum
ada nyawa yang melayang. Mencaci-maki kelompok-kelompok lain. Kalian adalah Daag
pada wajah Islam.” Daag dalam bahasa Urdu berarti “Noda”.

Sekitar tahun 1960-an memang masih sering terjadi pertikaian antara kelompok
Shi’a dan Sunni, khususnya menjelang hari berkabung bagi kelompok Shi’a
dimana mereka memperingati kematian Hassan dan Hussein, cucu Nabi, Mere Mehboob,
Kekasihku.

Beliau, Guruku, sungguh merupakan ensiklopedi kebijakan. Suatu ketika ia
menjelaskan, “Nabi kita begitu rendah hati, begitu sopan, santun, sehingga
siapapun yang datang kepada-Nya, ia akan berkata, ‘Doakanlah diriku,
keluargaku, sahabatku’…. Padahal, bukanlah beliau yang membutuhkan doa kita.
Kitalah yang membutuhkan doa beliau.

“Sekarang, apa yang terjadi?
Telah menjadi kebiasaan kita untuk setiap kali mendoakan beliau. Tidak apa,
baik-baik saja. Asal kita tidak menjadi sombong, tidak menjadi angkuh seolah
beliau membutuhkan doa kita.

“Tisak, beliau tidak membutuhkan doa kita.
Kitalah yang membutuhkan doa beliau!”

Tetapi, kemudian, ia pun selalu mengingatkan kita, “Janganlah kalian
membingungkan teman-teman yang belum siap untuk pelajaran ini. Mereka yang belum
siap dengan materi yang kita dapatkan disini.

“Dalam setiap tradisi, dalam agama manapun, kita selalu diingatkan supaya
tidak melemparkan mutiar kepada kawanan babi. Bhagavad Gita pun mengatakan,
janganlah menyebarluaskan ajaran ini di tengah masyarakat yang belum siap.

“Babi diberi mutiara, apa yang terjadi?
Ia tidak tahu nilai mutiara, ia memakannya, keselek, dan ia tidak dapat
benapas. Ia gusar dan akan menyerangmu kembali.

“Berikan mutiara kepada mereka yang mengerti nilai mutiara. Kepada mereka
yang mengapresiasinya. Kepada mereka yang akan menghargainya.

“Seorang yang memiliki pengetahuan dan tidak berbagi dengan orang lain yang
siap untuk menerimanya, adalah seorang kikir, pelit. Berbagilah dengan mereka
yang siap.

“Tuhan ada dimana-mana, di Barat dan di Timur, di Selatan dan di Utara.
Wajah-Nya ada dimana-mana, tetapi untuk pemusatan kesadaran kita membutuhkan
kiblat…. maka, dalam setiap agama ada kiblat.

“Jagalah tali persahabatan dengan sesama manusia….. ya, dengan mereka yang
berjiwa manusia, bukan berbadan manusia saja……” Beliau selalu menasihati
kita untuk menjauhi mereka yang hanya berbadan manusia. Tidak perlu membenci
mereka, hanya menjauhi saja, “Karena, kehewanian mereka bagaikan penyakit
menular. Nanti, pada suatu ketika, jika kau sudah memiliki kemampuan untuk
mengobati mereka, silakan mendekati mereka…. Tetapi, jangan dulu, jangan
sekarang…. Kemampuan seperti itu belum ada dalam diri kita.”

Din, atau melakoni agama, menjalani ajaran agama, bagi beliau adalah proses
seumur hidup, “Jika kau menganggap dirimu sudah menjadi Ulama, sudah memiliki
Ilmu – maka kau akan mati dengan ilmumu itu. Segitu-gitu saja yang kau miliki.
Kau tidak akan berkembang lebih lanjut.

“Seorang Ulama Sejati tidak pernah berhenti menggali diri…. Ia menemukan
pemahaman-pemahaman baru dalam dirinya, bukan saja dengan membaca ulang kitab
suci, tetapi dengan memahami ayat-ayat Allah yang bertebaran di alam semesta.
Dimana-mana.”

Ya, Ayat-Ayat Allah bertebaran dimana-mana, “Ada yang dirangkum dan ditulis,
dicetak…. Kita menyebutnya Al-Qur’an, Bacaan Mulia. Ada yang menyebutnya
Bhagavad Gita, Nyanyian Mulia. Ada pula yang menyebutnya Injil, Berita Mulia.
Semuanya mulia.

“Aku percaya,” lanjut Guruku, “bahwa semua itu berasal dari Satu, dari
Allah. Semuanya, tanpa kecuali, berasal dari Yang Maha Kuasa, Yang Maha Esa.

“Dulu, aku pun sering mempersoalkan teman-teman Hindu yang kuanggap memuja
berhala….. Tetapi, kemudian kupahami bahwa apa yang kuanggap berhala, adalah
kiblat mereka. Mereka menggunakan semua itu sebagai sarana untuk memusatkan
kesadaran mereka, sebagaimana aku menggunakan kaligrafi, bahkan gambar Mekah
Shariff sebagai sarana untuk pemusatan kesadaranku.”

Dengan bekal pemahaman agama seperti inilah aku kembali ke negeri asalku, ke
tanah air, ke Indonesia….. dan, awal-awalnya masih oke….. tetapi,
lambat-laun, pemahaman agama yang berkembang disini sungguh membingungkan aku.

Agama tidak lagi menjadi sarana.
Agama disejajarkan dengan Tuhan, dianggap absolut. Begitu pula dengan kitab
suci…. Dan, yang lebih celaka lagi, Manusia Indonesia, oleh lembaga yang
merasa paling kompeten, tidak lagi diperkenankan untuk memahami aajaran agama
sesuai dengan kesadarannya. Ia tidak diperkenankan untuk berijtihad. Pemahaman
agama dibungkus rapi dalam kapsul, di pak, dan diberi tanda, “Sesuai dengan
…..” Dan, hanyalah pak atau botol bertanda “Sesuai dengan ……” itulah
yang diperjual-belikan.

Agama menjadi komoditas. Mereka yang merasa memiliki monopoli terhadap agama,
menjajahnya di pasar untuk diperjualbelikan. Para politisi menggunakannya dengan
cermat. Para pengusaha pun idak mau kalah.

Sementara itu, Lia Aminuddin diperkerakan, Ahmadiyah dikejar-kejar….. Jika
Guruku disini, barangkali darahnya sudah dinyatakan halal. Terlepas dari setuju
atau tidaknya kita terhadap apa yang dikatakan oleh Lia dan apa yang didakwahkan
oleh Ahamadiyah, jangan lupa apa yang kita katakan dan dakwahkan pun tidak
diseutujui semua orang. Ya, kebetulan saja kita mayoritas, sehingga minoritas
mati kutu.

Agama, sebagaimana kita pahami dan praktekkan saat ini, jelas tidak menjadi
Rahmat bagi Alam Semesta. Jangankan Alam Semesta, bagi negara kita pun tidak
bisa.

Agama sebagaimana dipraktekkan oleh kelompok-kelompok militan di Timur Tengah
misalnya, menyebabkan penderitaan dan kesengsaraan bagai seluruh rakyat
Palestina dan Lebanon. Saat ini, silakan berpihak pada mereka – kelak, jika
Bangsa Palestina dan Lebanon bangkit, namamu akan dimasukkan dalam daftar para
pengkhianat bangsa dan negara. Kewarasan kita tidak setuju dengan serangan
agresor Israel, tetapi kewarasan kita juga tidak setuju dengan kekerasan yang
dilakukan oleh kelompok-kelompok militan sehingga selalu memicu perang di
kawasan itu.

Palestina, Lebanon, Irak….. negara-negara di Teluk yang merasa tertindas saat
ini, harus mengupayakan kelahiran seorang Gandhi. Jangan membalas kejahatan
dengan kejahatan, dan kejahatan yang menyerangmu akan kehabisan energi. Mereka
akan berhenti sendiri. Saat ini, kejahatan Israel malah mendapatkan energi dari
kelompok-kelompok militan di Timur Tengah. Mereka memperoleh alasan untuk
melakukan agresi militer.

Adalah suatu kemalangan bahwa kelompok-kelompok militan seperti itu, ada juga
di tanah-air kita. Ada juga tokoh-tokoh yang menyebarluaskan kebencian dengan
menggunakan dalih agama. Ayat-ayat suci diselewengkan artinya, dan penyelewengan
itu disebut ilmiah. Baru keluar dari penjara, sudah berkarya kembali. Seribu
orang menghadiri Tabligh Akbar yang digelarnya. Tepuk Tangan!!

Agama adalah Berkah.
Ia menjadi Rahmat yang menyebarkan Kasih, atau menjadi Laknat yang penuh
Kebencian – karen ulah manusia, karena kita. Karena pemahaman kita, karena
laku kita.

Agama merupakan Rahmat bagi Alam Semesta.
Agama-agama, setiap agama, agamaku dan agamaku, agama kita semua – yang
intinya adalah satu, Penyerahan Diri pada Kehendak Ilahi – tanpa kecuali
merupakan Berkah dan berpotensi sebagai Rahmat bagi Alam Semesta. Berpotensi.
Benih Potensi itu mau ditanam, disiriami air kehidupan, dipupuki dengan
cinta…… atau dibiarkan jatuh diatas tanah yang gersang, dan mati dalam
kekeringan…… semuanya kembali pada kita.

Agama adalah sesuatu yang bersifat sangat individu, dalam pengertian setiap
orang harus menjalaninya sendiri. Ia tidak dapat diwakilkan. Tidak ada yang
menjadi perantara antara khalaq, ciptaan Allah, dan Khaaliq, Gusti Allah., Sang
Maha Cipta. Institusi-institusi yang saat ini berperan sebagai perantara tak
akan bertahan lama.

Kebangkitan Manusia Indonesia, bangkitnya kesadaran dalam diri kita – akan
mengakhiri peran institusi-institusi tersebut. Dan, institusi-institusi tersebut
pun menyadari hal ini. Mereka memahaminya betul. Mereka tahu bahwa
institusi-institusi mereka melanggar Hukum Alam, bertentangan dengan Firman
Allah.

Berkah dan Rahmat adalah dari Allah.
Berkah tidak dapat diinstitusikan. Rahmat tidak dapat dilembagakan. Segala
upaya ke arah itu hanya membuktikan ketololan kita.

Lalu, bagaimana agama yang konon diakui sebagai rahmat bagi seluruh alam, dapat
diinstitusikan? Bagaimana dapat dilembagakan?

Namun, kenyataan di lapangan, ground facts, membenarkan bahwa setiap agama
telah diinstitusikan, dilembagakan…… Apa iya? Jika memang demikian,
bagaimana dengan Firman Allah bahwa Agama adalah Rahmat bagi Seluruh Alam? Apa
iya, Rahmat Allah dapat diinstitusikan?

Saya tidak tahu.
Yang jelas, pelembagaan semacam itu telah menyusahkan banyak orang.
Memecah-belah umat, memicu pertikaian, pertengkaran, bahkan perang atas nama
agama.

Jangan-jangan, dalam kegagapanku aku berpikir, jangan-jangan yang mereka anggap
agama dan dilembagakan itu bukan agama….. ini memang pemikiranku yang sangat
bodoh dan tidak ilmiah….. Jangan-jangan yang mereka lembagakan dan
institusikan itu hanyalah “ego” mereka, kesombongan mereka, keakuan mereka
yang merasa sudah tahu segala sesuatu tentang agama.

“Manusia yang masih merupakan konsep, masih harus berjuang untuk menjadi
final,” kata seorang teman, “malah berusaha untuk menciptakan konsep tentang
Tuhan.” Inilah kesia-siaan kita. Inilah kekacauan pikiran kita.

Lembaga-lembaga dan institusi-institusi kita hanya menyandang nama agama.
Identitas agama digunakan oleh pengusaha dan pedagang bagi usaha mereka, warung
mereka. Digunakan oleh para politisi sebagai asas partai mereka. Bahkan pembela
para penjahat pun menggunakannya secara bebas. Tidak ada yang menegur mereka?
Kenapa? Karena, kita semua melakukan kesalahan yang sama. Kita semua, sama-sama
gila!

Agama adalah Rahmat bagi seluruh Alam.
Alas, sayang, kita belum beragama…. Kita belum merasakan Rahmat-Nya…..
Turunnya Hujan Berkah tidak memberi manfaat apa-apa kepada kita, karena kita
berdiri tegak seperti gunung, bukit. Kita tetap gundul.

“Jadilah Lembah,” kata Lao Tze, “rendahkan dirimu, dan kau akan menjadi
subur….. Air hujan akan menggenang, kau dapat menampungnya!” Kemudian, agama
pun betul-betul menjadi Rahmat bagi Alam Semesta.

Agama manapun,
Agamamu dan Agamaku, Agama-Agama kita….. Agama yang merupakan jalan, dan
setiap jalan menuju tujuan yang satu dan sama – Allah! Kau menyebutnya Allah,
ada yang menyebutnya Bapa di Surga, Hyang Widhi, Tao, Buddha, Satnaam, Ahura
Mazda, Gusti – apa saja – Ia Satu dan Sama.

Banyak Jalan, Satu Tujuan.
Namun, jangan pula berhenti di pinggir jalan sembari mengagung-agungkan semua
jalan. Pilihlah salah satu diantaranya, dan mulailah berjalan…… Saat itu,
Agama sunggu menjadi Rahmat bagimu. Bagiku. Bagi kita semua!

ANAND KRISHNA
“Dibuat khusus untuk Jurnal Edukasi - Alternatif Wacana Pendidikan, Volume
IV, Nomor 1, April 2007 ”
- Sebuah Renungan Spiritual, Bukan Tulisan Ilmiah -
_______________-
ini sebuah tulisan yang menarik sebagai referensi menyikapi perbedaan.

Rabu, Januari 21, 2009

Suara (ku Berharap)

by Hijau daun

Disini aku masih sendiri
Merenungi hari-hari sepi
Aku tanpamu
Masih tanpamu

Bila esok hari datang lagi
Ku coba untuk hadapi semua ini
Meski tanpamu meski tanpamu

Bila aku dapat bintang yang berpijar
Mentari yang tenang bersamaku disini
Ku dapat tertawa menangis merenung
Di tempat ini aku bertahan

*
Suara dengarkanlah aku
Apa kabarnya pujaan hatiku
Aku di sini menunggunya
Masih berharap di dalam hatinya

Suara dengarkanlah aku
Apakah aku slalu dihatinya
Aku di sini menunggunya
Masih berharap di dalam hatinya

Kalau ku masih tetap disini
Ku lewati semua yang terjadi
Aku menunggumu Aku menunggu

Suara dengarkanlah aku
Apa kabarnya pujaan hatiku
Aku di sini menunggunya
Masih berharap di dalam hatinya

Suara dengarkanlah aku
Apakah aku ada dihatinya
Aku di sini menunggunya
Masih berharap di dalam hatinya

Back to *
Suara dengarkanlah aku

--------------------------
ni lagu menarik perhatianku pada saat pentas idola cilik yang dinyanyiin ma Irsyad.. kereeeeeeeeen abiz hehehhe

Selasa, Desember 30, 2008

Izinkan ku bermaksiat

Pada suatu hari, ibrahim bin Adham didatangi seorang lelaki yang gemar melakukan maksiat bernama Jahdar bin Rabiah. Ia meminta basehat kepada dirinya agar ia dapat menghentikan perbuatan maksiatnya. Ia berkata “ ya Aba ishak, aku ini seorang yg suka melakukan maksiat. Tolong berikan cara yang ampuh untuk menghentikannya”

Setelah merenung sejenak, ibrahim berkata, “jika kau mampu melaksanakan 5 syarat yang kuajukan, maka aku tidak keberatan kau berbuat dosa”

Tentu saja dengan penuh rasa ingin tahu yang besar, Jahdar berkata, “apa saja syarat-syarat itu, ya aba ishak?
Syarat pertama, jika kau melaksanakan perbuatan maksiat, janganlah kau memakan rizki Alah “ ucap ibrahim

Lelaki itu mengeryitkan dahinya lalu berkata : “lalu aku makan dari mana? Bukankah segala sesuatu yang berada di bumi ini adalah rizki Allah ?”

“benar”, jawab Ibrahim dgn tegas. “Bila kau telah mengetahuinya, masih pantaskah kau memakan rizki-Nya sementara ka uterus melakukan maksiat dan melanggar perintah-perintah – Nya ?”

“Baiklah… “, jawab lelaki itu tampak menyerah. “Kemudian apa syarat yang kedua?”
“Kalau kau bermaksiat kepada Allah, janganlah Kau tinggal di bumi- Nya”, kata Ibrahim lebih tegas lagi.

Syarat kedua itu mmbuat Jahdar lebih kaget lagi . “Apa? Syarat ini lebih hebat lagi. Lalu aku harus tinggal dimana? Bukankah bumi dengan segala isinya ini milik Allah ?“
“Benar Abdallah. Karena itu pikirkanlah baik-baik. Apakah kau masih pantas memakan rizki-Nya dan tinggal di bumi-Nya sementara ka uterus bermaksiat?” Tanya Ibrahim.

“Kau benar Aba Ishak”, ucap Jahdar kemudian. “Lalu apa syarat ketiga?” Tanya dengan penasaran. “Kalau kau masih juga bermaksiat kepada Allah, tetapi masih ingin memakan rizki-Nya dan tinggal di bumi-Nya, maka carilah tempat yang tersembunyi agar tidak terlihat oleh-Nya”.

Syarat ini membuat lelaki itu terkesima. “Ya Aba Ishak, nasehat macam apakah semua ini? Mana mungkin Allah tidak melihat kita ?”

“Bagus! Kalau kau yakin Allah selalu melihat kita, tetapi kau masih terus memakan rizki-Nya, tinggal di bumi-Nya dan terus melakukan maksiat kepada-Nya. Pantaskah kau melakukan semua itu?”, Tanya Ibrahim kepada lelaki yang masih tampak bengong itu. Semua ucapan itu membuat Jahdar bin Rabiah tidak berkutik dan membenarkannya.

“Baiklah, ya Aba ishak, lalu katakan sekarang syarat yang ke empat?”
“jika malaikatul maut hendak mencabut nyawamu, katakanlah kepadanya bahwa engkau belum mau mati sebelum bertaubat dan melakukan amal saleh”.

Jahdar termenung. Tampaknya ia mulai menyadari semua perbuatan yang dilakukan selama ini. Ia kemudian berkata, “tidak mungkin… tidak mungkin semua itu kulakukan”.

“Ya Abdallah, bila kau tidak sanggup mengundurkan hari kematianmu, lalu dengan cara apa kau dapat menghindari murka Allah ?”

Tanpa banyak komentar lagi, ia bertanya syarat yang kelima, yang merupakan syarat terakhir. Ibrahim bin Adham untuk kesekian kalinya memberi nasehat kepada lelaki itu. “Yang terakhir, bila malaikat Zabaniyah hendah menggiringmuke neraka di hari kiamat, janganlah kau bersedia ikut dengannya dan menjauhlah!”

Lelaki yang ada di hadapan Ibrahim bin Adham itu tampaknya tidak sangup lagi mendengar nasehatnya. Ia menangis penuh penyesalan. Dengan wajah penuh sesal ia berkata, “cukup… cukup ya Aba ishak!. Jangan kau teruskan lagi. Aku tidak sanggup mendengarnya. Aku berjanji, mulai saat ini aku akan beristgfar dan bertaubat nasuha kepada Allah”.

Apakah kita telah memenuhi syarat –syarat tersebut di atas, sehingga kita bisa berbuat maksiat terhadap Allah? ..........




Jangan pernah berubah - ST 12

Biarkan waktu teruslah berputar
Mencintai kamu penuh rasa sabar
Meski sakit hati ini kau tinggalkan
Ku ikhlas ‘tuk bertahan

Cintaku padamu begitu besar
Namun kau tak pernah bisa merasakan
Malah kini kau ucapkan selamat tinggal
Membuat keresahan

Reff:
Meninggalkanku tanpa perasaan
Hingga ku jatuhkan airmata
Kekecewaan ku sungguh tak berarah
Biarkan ku harus bertahan

Jangan pernah kau coba untuk berubah
Tak relakan yang indah hilanglah sudah
Jangan pernah kau coba untuk berubah
Tak relakan yang indah hilanglah sudah

Back to Reff:
---------
Lagu ini menggambarkan satu sisi hati yang hanya untuk seseorang yang jauh disana.. bagian dunia yang lain. tak tau kan sampai kapan slalu ada di sini. yang ku akui hanyalah saat ini, aku merindukannya, teramat sangat...
Mohon kepada Mu, Sang Pengasih Sayang, curahkan kasih sayang Mu kepada nya, Mohon izin Mu tuk menyayangi dia, tolong jaga dia, tolong sampaikan sayangku padanya.. tolong sampaikan rinduku padanya, dan tolong jaga hati ini menyayangi dia, sebagaimana yang Kau inginkan. amiin ..

Senin, Desember 15, 2008

THE POWER OF FAMILY

KEAJAIBAN BERKELUARGA

Orang yang menyambung silahturahmi karena Allah akan mendapatkan minimal 10 keajaiban, antara lain : rezeki yang melimpah. keberkahan hidup dan dimudahkan urusan jodohnya.


dzakarun (bhs. Arab) : berarti laki-laki atau kebenaran

Merupakan fitrah laki-laki adalah kebutuhan akan wanita. tetapi harus lah sesuai dengan Ismail (islamic making love)

Berdasarkan surat AR RUM : 21

" Dan diantara tanda-tanda kekuasaan-Nya, ialah diciptakan Nya untukmu pasangan hidup dari jenismu sendiri, supaya kamu mendapatkan ketenangan hat dan dijadikann Nya kasih sayang diantara kamu. Sesungguhnya yang demikian itu menjadi tanda-tanda kebesaran Nya, bagi orang-orang yangberfikir"

maka, orang yang menikah itu, mestinya hatinya tentram, lapang dsbnya. tapi apabila terjadi sebaliknya maka pasti ada yang salah.

Bagi yang menikah, ALLAH menjanjikan 3 hal :

1. Diperbaiki akhlaknya

2. Diluaskan rezekinya

3. Akan diangkat martabatnya

Kelebihan orang yang menikah :

Sholat sunat 2 rakaatnya lebih baik 70 rakaat dari orang yang belum menikah. Amalannya orang yang menikah nilainya 35.000 x dari yang belum menikah.

Orang yang menikah dengan orang yang baik adalah 1/2 dari agama telah disempurnakan oleh ALLAH , 1/2 nya lagi diisi dengan Taqwa


Jangan putus asa dengan rahmat ALLAH !!!


nerakanya pernikahan adalah perselingkuhan / perzinahan : maka tidak akan ada berkah dan ketentraman.

Bagi yang berselingkuh akan diberikan 6 azab, 3 didunia & 3 akhirat

1. Dicabut kharisma nya (tidak dihargai orang lain)

2. Dipendekkan umurnya

3. Dimiskinkan hidupnya

4. Dibikin bingung di akhirat

5. Dipersulit hisabnya

6. Masuk neraka


Tahun-tahun perkawinan

1-5 th : disebut degan mawaddah : yakni arsa cinta yang tumbuh dan keluar secara fisik

warrahmah setelah melewati masa mawaddah itu, merupakan rasa cinta yang keluar secara batin (adanya rasa setia dan rasa percaya)

Buat para suami : jangan perlakukan istri sebagai budak pada siang hari (yang mengerjakan segala urusan rumah tangga) sedangkan pada malam harinya 'dipakai' . Ini akan mengakibatkan tidak harmonisnya keluarga, karena tidak sejajarnya posisi dan hilangnya rasa saling menghargai antara suami-istri.


Tips Sukses Berumah Tangga

Buat suami

1. Setialah seperti merpati. usahakan jangan kalah dengan merpati

sifatnya merpati apabila terpisah dari pasangannya, dia akan segera mencari pasangannya, baru kemudian memikirkan makanannya, sarang dsbnya.

2. Sayangi istri seperti menyayangi diris endiri

jika tidak ingin dikasari, jangan mengasari

jika tidak ingin dikhianati,jangan mengkhianati

3. Berikan rezeki yang halal bagi istri dan anak (halallan toyyiban)

Jangan salahkan apabila istri dan anak- anak tidak bisa diatur karena rezeki yang diberikan tidak bersumber dari yang halal.


Orang yang tidak mencari rezeki yang halal / melakukan maksiat akan merasakan SKR, yaitu :

1. sibuk. selalu akan terasa sibuk, dikejar-kejar waktu, serasa 24 jam itu kurang baginya untuk mencari rezeki

2. Kurang. Rezeki yang didapatnya akan selalu terasa kurang, berapapun banyaknya bahkan habis tak menentu

3. rugi. Rezeki yang didapat malah lebih kecil adri modal yang dikeluarkan (waktu, tenaga, pikiran dan uang)


Buat istri

Bersikaplah SPD

1. Sulaplah rumah menjadi surga

rumah yang laksana surga syarat utamanya adalah halal untuk ditempati meski hanya rumah kontrakan. Dijaga kebersihannya, rapih dan terlihat indah. Pada saat suami pulang, sambut dengan senyum ramah, lap keringatnya dan sediakan minumannya.

2. 'Puaskan suami'

Tegakkan amar ma'ruf nahi munkar

3. Didik anak menjadi anak yang sholeh dan sholehah


Bagi yang belum nikah, perbaharuilah niat !!!!

niatkan karena ALLAH semata. Semoga kita semua dilimpahi rahmat dan karunia- Nya . amiin

Puisi Cinta Rabi'ah Al Adawiyah

Yaa Allah
Jika hamba mengabdi pada - Mu
karena takut api neraka - Mu
maka masukkanlah diriku ke dalamnya

Dan jika hamba mengabdi pada-Mu
karena mengharap surga-Mu
maka campakkanlah daku daripadanya

tetapi jika hamba mengabdi pada-Mu
karena cinta pada-Mu
maka karuniakanlah padaku
Cahaya Cinta-Mu

Izinkan hamba menatap wajah Mu
yang Maha MUlia dan Maha Agung itu

Rabi'ah Al Adawiyah
(713 M - 801 M)

Rabu, Desember 03, 2008

Aku, Kesehatanku dan Mahatma

Aku sudah menderita sakit maag sejak berumur 15 tahun yang semakin lama semakin parah meskipun telah melakukan berbagai usaha seperti berobat baik ke dokter dengan minum obat-obatan yang banyak hingga ke ke berbagai pengobatan alternatif. Dan pada tahun 2004 menjadi maag akut sehingga menyebabkan infeksi pada saluran pencernaan dari kerongkongan sampai dubur. Saat itu berat badan aku turun drastis, dari 53kg menjadi 44 kg dalam waktu kurang dari dua bulan, karena apapun yang aku makan sudah tidak bisa dicerna lagi oleh usus besar karena usus saya sudah meradang. Jadi saya hanya bisa makan bubur. Sangat tidak enak deh pokoknya.

Dan itu termasuk obat-obatan, terutama yang berbentuk kaplet. Ketika di rontgen, di usus aku itu, menumpuk berbagai obat-obatan sebagaimana bentuk asli nya hingga akhirnya aku memutuskan berhenti minum obat-obatan medis. Dan beralih ke pengobatan alternatif dengan terapi bedah ayam. Tetapi itupun tidak berangsur baik malah membuat saya makin lemah dan kurus. Hingga akhirnya saya memutuskan untuk pulang kampung untuk berobat dengan ayahku, yang memang bisa mengobati dengan pijit refleksi. eh beliau malah menyarankan aku untuk mengikuti olahraga ORP MAHATMA. Beliau hanya bilang bahwa kalau mau hasil maksimal ikut lah ORP MAHATMA. Berterimakasih sekali, kepada orang tua tercinta, meskipun awalnya enggan karena menurutku ORP MAHATMA itu aneh.

Kok latihan olahraga malam-malam? Pakai do’a segala. Dan kok hujan-hujan tetap harus latihan ? beribu pertanyaan ada di benak, tapi sebagai anak, aku gak membantah perintah orangtua. Ditambah lagi gak enak deh sakit lama-lama mah. Aku pun ikut sampai hari ke 10, meski hari 1 sampai hari ke -3 yang ada hanyalah rasa lelah yang luar biasa setiap selesai latihan. Tapi setiap bangun tidur besoknya merasa mulai segar. Wajah sudah tidak pucat lagi, makan sudah tidak bermasalah lagi. Bahkan aku yang dari kelas 2 SMA tidak bisa makan pedas karena masalah di lambung, seiring waktu sudah tidak bermasalah lagi. Alhamdulillah tanpa menunggu lama, pelan-pelan berat badan ku bertambah dan aku bisa segera kembali ke Jakarta untuk bekerja kembali.

Dan sampai sekarang aku sudah tidak merasakan masalah yang berat dengan lambungku. Makan apa aja selagi halal tidak ada pantangan apapun. Aku yang juga pernah mengalami vertigo, hepatitis B dan asma akut sekarang sudah enak makan, enak tidur, sehat bugar dan slalu bersemangat. Alhamdulillah ……..

Sungguh besar dampak mengikuti ORP MAHATMA bagi aku pribadi maupun keluarga. Biaya-biaya pengobatan yang dulu sampai menguras kantong sekarang hampir sudah tidak pernah dikeluarkan. Apalagi kalau diingat dulu aku berobat bukannya sembuh malah menambah penyakit dengan tumpukan obat-obat diusus. Obat mahal – mahal tapi tak bermanfaat.

Sedangkan dengan ikut ORP MAHATMA, biaya pendaftaran yang cuma 1 x seumur hidup itu, hampir sama dengan ongkos 1 x pemeriksaan ke dokter, selagi kita rajin latihan, penyakit Insya Allah tidak kambuh lagi.. Disamping itu aku juga mendapatkan banyak saudara, karena di ORP MAHATMA kita juga diajak untuk menjaga silahturahmi antar anggota dan pelatih bahkan teman-teman yang belum bergabung dengan ORP MAHATMA.

Banyak sekali manfaat mengikuti ORP MAHATMA. Sehat bukan hanya lahir nya tapi juga batin dan semua dengan biaya yang relatif murah. Jadi tidak ada alasan untuk tidak bergabung dengan ORP MAHATMA kan ?...

Terimakasih sekali kepada orang tua tercinta yang sudah mengajakaku bergabung dengan ORP MAHATMA dan para guru-guru dan para Pelatih yang sudah membina dan memotivasiku. Semoga Allah SWT memberkahi kita semua. Amiin…

Kamis, November 27, 2008

Perbedaan Persepsi

Ada seorang ayah yang menjelang ajalnya di hadapan sang Istri berpesan DUA hal kepada 2 anak laki-lakinya :

- Pertama : Jangan pernah menagih hutang kepada orang yg berhutang kepadamu.
- Kedua : Jika pergi ke toko jangan sampai mukanya terkena sinar matahari.

Waktu berjalan terus. Dan kenyataan terjadi, bahwa beberapa tahun setelah ayahnya meninggal anak yang sulung bertambah kaya sedang yang bungsu menjadi semakin miskin.

Pada suatu hari sang Ibu menanyakan hal itu kepada mereka.

Jawab anak yang bungsu :

"Ini karena saya mengikuti pesan ayah. Ayah berpesan bahwa saya tidak boleh menagih hutang kepada orang yang berhutang kepadaku, akibatnya modalku susut karena orang yang berhutang kepadaku tidak membayar sementara aku tidak boleh menagih".
"Juga Ayah berpesan supaya kalau saya pergi atau pulang dari rumah ke toko dan sebaliknya tidak boleh terkena sinar matahari. Akibatnya saya harus naik becak atau andong, padahal sebetulnya saya bisa berjalan kaki saja, tetapi karena pesan ayah itu, akibatnya pengeluaranku bertambah banyak".

Kepada anak yang sulung yang bertambah kaya, sang Ibu pun bertanya hal yang sama.
Jawab anak sulung :

"Ini semua adalah karena saya mentaati pesan ayah. Karena Ayah berpesan supaya saya tidak menagih kepada orang yang berhutang kepada saya, maka saya tidak pernah menghutangkan sehingga dengan demikian modal
tidak susut".

"Juga Ayah berpesan agar supaya jika saya berangkat ke toko atau pulang dari toko tidak boleh terkena sinar matahari, maka saya berangkat ke toko sebelum matahari terbit dan pulang sesudah matahari terbenam.
Karenanya toko saya buka sebelum toko lain buka, dan tutup jauh sesudah toko yang lain tutup."

"Sehingga karena kebiasaan itu, orang menjadi tahu dan tokoku menjadi laris, karena mempunyai jam kerja lebih lama".

MORAL CERITA :
Kisah diatas menunjukkan bagaimana sebuah kalimat di tanggapi dengan presepsi yang berbeda. Jika kita melihat dengan positive attitude maka segala kesulitan sebenarnya adalah sebuah perjalanan membuat kita sukses tetapi kita bisa juga terhanyut dengan adanya kesulitan karena rutinitas kita... pilihan ada di tangan anda.

'Berusahalah melakukan hal biasa dengan cara yang luar biasa'

Bahagialah sebagai Wanita

Masih menuntut persamaan gender? Better think twice ya after reading this one....
  1. Banyak wanita yang bilang bahwa susah menjadi wanita, lihat saja aturan-aturan di bawah ini : Wanita auratnya lebih susah dijaga dibanding lelaki
  2. Wanita perlu ijin suami apabila mau keluar rumah, tetapi tidak sebaliknya.
  3. Wanita saksinya (apabila menjadi saksi) kedudukannya tidak sekuat lelaki.
  4. Wanita menerima warisan lebih sedikit dibanding lelaki.
  5. Wanita harus menghadapi kesulitan yang teramat sangat ketika mengandung dan melahirkan.
  6. Wanita wajib taat kepada suami, sementara suami tidak perlu taat kepada istrinya.
  7. Talak terletak di tangan suami bukan di tangan istri.
  8. Wanita kurang nyaman dalam beribadah karena adanya masalah haid dan nifas setelah melahirkan
  9. Dan lain-lain,

Tetapi......PERNAHKAH KITA MELIHAT KENYATAANNYA?

  1. Benda yang mahal harganya akan dijaga sedemikian rupa dan disimpan ditempat yang teraman dan terbaik. Sudah pastilah itu intan permata bandingannya dengan seorang wanita.
  2. Wanita perlu taat kepada suami, tetapi tahukah lelaki wajib taat kepada ibunya 3x lebih utama daripada kepada bapaknya.?
  3. Wanita menerima warisan lebih sedikit dibandingkan lelaki, tetapi tahukah bahwa harta itu akan menjadi miliknya dan ridak perlu diserahkan kepada suami? Sementara suami apabila mendapat warisan ia wajib juga menggunakannya untuk istri dan anak-anaknya?
  4. Wanita perlu bersusah payah mengandung dan melahirkan anak, tetapi tahukah bahwa setiap saat ia didoakan oleh seluruh keluarga, malaikat dan segala makhluk Allah di muka bumi ini, dan tahukah jika ia meninggal karena melahirkan adalah syahid dan surga menantinya.
  5. Di akhirat kelak seorang lelaki akan dipertanggungjawabkan terhadap 4 wanita : Ibunya, Istrinya, Anak perempuannya dan Saudara perempuannya. Artinya : bagi seorang wanita tanggung jawab atas dirinya di tanggung oleh 4 lelaki yaitu suaminya, ayahnya, anak lelakinya dan saudara lelakinya.
  6. Seorang wanita boleh memasuki pintu syurga melalui pintu yang disukainya cukup dengan 4 syarat saja : Sholat 5 waktu, Puasa di bulan Ramadhan, taat kepada suaminya dan menjaga kehormatannya.
  7. Seorang lelaki wajib berjihad di jalan Allah, sementara bagi wanita jika taat kepada suami dan menunaikan tanggung jawabnya kepada Allah , maka ia akan turut menerima pahala setara seperti orang yang pergi berjihad di jalan Allah tanpa perlu mengangkat senjata.

Subhanallah......!! Demikian sayangnya Allah kepada wanita..... Yakinlah bahwa sebagai Zat Yang Maha Pencipta sudah pasti Allah Maha Tahu akan segala yang diciptakanNya sehingga peraturanNya adalah yang terbaik untuk manusia.

Senin, November 24, 2008

KEKUATAN SEDEKAH

Assalamu'alaikum warahmatullaahi wabarakatuh
Dikisahkan dalam sebuah hadist yang diriwayatkan oleh ATTirmidzi dan Ahmad,sbb :
" Tatkala Allah Ta’ala menciptakan bumi, maka bumipun bergetar. Lalu Allah menciptakan gunung dengan kekuatan yang telah diberikan kepadanya,ternyata bumipun terdiam.

Para malaikat terheran-heran akan penciptaan gunung tersebut. Kemudian mereka bertanya ”Ya Rabbi, adakah sesuatu dalam penciptaan-Mu yang lebih kuat daripada gunung ?”Allah menjawab, ”Ada, yaitu besi” (kita mafhum bahwa gunung batupun bisa menjadi rata ketika dibor dan diluluhlantakkan oleh buldozer atau sejenisnyayang terbuat dari besi),

Para malaikat bertanya lagi ”Ya Rabbi, adakah sesuatu dalam penciptaan-Mu yang lebih kuat daripada besi ?”Allah yang Maha Suci menjawab, ”Ada, yaitu api” (besi, bahkan bajapun bisa menjadi cair dan lumer setelah dibakar api),

Para malaikat kembali bertanya ”Ya Rabbi, adakah sesuatu dalam penciptaan-Mu yang lebih kuat daripada api ?”Allah yang Maha Agung menjawab, ”Ada, yaitu air” (api membara sedahsyat apapun niscaya akan padam jika disiram air),

Para malaikatpun bertanya kembali ”Ya Rabbi, adakah sesuatu dalam penciptaan-Mu yang lebih kuat daripada air ?”Allah yang Maha Tinggi dan Maha Sempurna menjawab, ”Ada, yaitu angin”(air di samudera luas akan serta merta terangkat, bergulung-gulung dan menjelma menjadi gelombang raksasa yang dahsyat, tiada lain karena kekuatan angin. Angin ternyata memiliki kekuatan yang teramat dahsyat),

Akhirnya para malaikatpun bertanya lagi ”Ya Allah, adakah sesuatu dalam penciptaan-Mu yang lebih dahsyat dari itu semua ?”Allah yang Maha Gagah dan Maha Dahsyat kehebatannya menjawab, ”Ada,yaitu amal anak Adam yang mengeluarkan sedekah dengan tangan kanannya sementara tangan kirinya tidak mengetahuinya”.

Artinya, yang paling hebat, paling kuat dan paling dahsyat sebenarnya adalah orang yang bersedekah tetapi tetap mampu menguasai dirinya, sehingga sedekah yang dilakukannya bersih, tulus dan ikhlas tanpa ada unsur pamer ataupun keinginan untuk diketahui orang lain.

Berkaitan dengan ikhlas ini, RasulAllah SAW mengingatkan dalam pidatonya ketika beliau sampai di Madinah pada waktu hijrah dari Makkah : ”Wahai segenap manusia ! Sesungguhnya amal itu tergantung kepada niat, dan seseorang akan mendapatkan (pahala) sesuai dengan apa yang diniatkannya”.

Oleh karena itu hendaknya kita selalu mengiringi sedekah kita dengan niat yang ikhlas hanya karena Allah semata, tanpa tendensi ingin dipuji, dianggap dermawan, dihormati, dll yang dapat menjadikan sedekah kita menjadi sia-sia. Ganjaran bersedekah RasulAllah Shollallahu Alaihi Wa Sallam menganjurkan kepada kita umatnya untuk memperbanyak sedekah, hal itu dimaksudkan agar rezeki yang Allah berikan kepada kita menjadi berkah.Allah memberikan jaminan kemudahan bagi orang yang berdekah, ganjaran yang berlipat ganda (700 kali) dan ganti, sebagaimana firman-Nya dan sabda RasuluAllah SAW, sbb :

Allah Ta’ala berfirman, ”Adapun orang yang memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertaqwa dan membenarkan adanya pahala yang terbaik(surga) maka Kami kelak akan menyiapkan baginya jalan yang mudah”.{Qs. Al Lail (92) : 5-8}

Allah Ta’ala berfirman, ”Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh)orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulirseratus biji. Allah melipatgandakan (ganjaran) bagi siapa yang Diakehendaki. Dan Allah maha luas (kurnia-Nya) lagi maha mengetahui”.{Qs. Al Baqarah (2) : 261}

RasulAllah SAW bersabda, ”Setiap awal pagi, semasa terbit matahari, ada dua malaikat menyeru kepada manusia dibumi. Yang satu menyeru, ”YaTuhan, karuniakanlah ganti kepada orang yang membelanjakan hartanya kepada Allah”.

Yang satu lagi menyeru ”musnahkanlah orang yang menahan hartanya”.Tolak Bala dengan Sedekah Orang-orang yang beriman sangat sadar dengan kekuatan sedekah untuk menolak bala, kesulitan dan berbagai macam penyakit, sebagaimana sabda RasulAllah SAW, sbb :
”Bersegeralah bersedekah, sebab yang namanya bala tidak pernah mendahului sedekah”.
”Belilah semua kesulitanmu dengan sedekah”.
”Obatilah penyakitmu dengan sedekah”.

Banyak dari kita yang sudah mengetahui dan memahami perihal anjuran bersedekah ini, namun persoalannya seringkali kita teramat susah untukmelakukannya karena kekhawatiran bahwa kita salah memberi, sebagai contoh kadang kita enggan memberi pengemis/pengamen yang kita temui dipinggirjalan dengan pemikiran bahwa mereka (pengemis/pengamen tsb) menjadikan meminta-minta sebagai profesinya, tidak mendidik, dll. Padahal sesungguhnya prasangka kita yang demikian adalah bisikan-bisikan setan laknatullah yangtidak rela melihat kita berbuat baik (bersedekah), sebaiknya mulai saat ini hendaknya kita hilangkan prasangka-prasangka yang demikian karena seharusnya sedekah itu kita niatkan sebagai bukti keimanan kita atas perintah Allah dan rasul-Nya yang menganjurkan umatnya untuk gemar bersedekah,

Masalah apabila ternyata kemudian bahwa sedekah yang kita beri kepada pengemis/pengamen tadi tidak tepat sasaran, bukan lagi urusan kita, karena sedekah hakekatnya adalah ladang amal bagi hamba-hamba Allah yang bertakwa. Pengemis/pengamen/fakir miskin lainnya adalah ladang amal bagi orang yang berkecukupan, dapat kita bayangkan andaikata tidak ada lagi orang-orang tersebut, kepada siapa lagi kita dapat beramal (bersedekah) ???

Atau kalo kita termasuk orang yang tidak suka memberi sedekah (kepadapengemis/pengamen/fakir miskin) dengan berbagai alasan dan pertimbangan maka biasakanlah bersedekah dengan menyiapkan sejumlah uang sebelum sholat Jum’at dan memasukkan ke kotak-kotak amal yang tersedia danbiasakan dengan memberi sejumlah minimal setiap Jum’at, misalnyaJum’at ini kita menyumbang Rp. 10 ribu ke kotak amal maka sebaiknya Jum’at berikutnya harus sama, syukur-syukur bisa lebih dan terutama harus diiringi dengan keikhlasan.

Sedekah anda, walaupun kecil tetapi amat berharga disisi Allah Azza Wa Jalla.Orang yang bakhil dan kikir dengan tidak menyedekahkan sebagian hartanya akan merugi didunia dan akhirat karena tidak mendapat keberkahan. Jadi,sejatinya orang yang bersedekah adalah untuk untuk kepentingan dirinya.Sebab menginfakkan (belanjakan) harta akan memperoleh berkah dan sebaliknya menahannya adalah celaka. Tidak mengherankan jika orang yang bersedekah diibaratkan orang yang berinvestasi dan menabung disisi Allah dengan jalan meminjamkan pemberiannya kepada Allah. Balasan yang akan diperoleh berlipatganda. Mereka tidak akan rugi meskipun pada awalnya mereka kehilangan sesuatu.Sedekah yg pahalanya terus mengalir

Dari Abu Hurairah RA, bahwa sesungguhnya Rasulullah SAW, telah bersabda: ”Bila seorang hamba telah meninggal, segala amalnya terputus, kecuali tiga hal : amal jariyah, ilmu yang bermanfaat atau anak shalih yang mendo’akannya” (HR. Bukhari, dalam Adabul Mufrad).

Berikut contoh konkrit, sadaqah (amal) jariah, yang pahalanya terus mengalirwalaupun si pemberi sadaqah telah wafat :SADAQAH JARIAH
1. Berikan Al-Quran pada seseorang,setiap saat Al-Quran tersebut dibaca,anda mendapatkan kebaikan.
2. Ajarkan seseorang sebuah do'a.Pada setiap bacaan do'a itu, anda mendapatkan kebaikan.
3. Sumbangkan kursi roda ke RS dansetiap orang sakit menggunakannya,anda mendapatkan kebaikan.
4. Tanam sebuah pohon. Setiap seseorang atau hewan berlindung dibawahnya atau makan buahnya,anda dapat kebaikan.
5. Tempatkan pendingin air di tempatumum.
6. Berbagi bacaan yang membangun dengan seseorang.
7. Libatkan diri dalam pembangunan mesjid.
8. Berbagi CD Quran atau Do'a.
9. Bantulah pendidikan seoranganak.
10. Bagikan pengetahuan ini dengan orang lain.

Jika seseorangmenjalankan salah satu dari hal di atas, Anda dapat kebaikan sampai hari Qiamat.

Jadilah dai “sejuta artikel” dengan meneruskan artikel ini kepada saudarasaudarakita sesama muslim yang barangkali belum mengetahuinya, sehinggakita tidak dilaknat Allah dan seluruh mahluk karena tidak menyampaikan(menyembunyikan) apa yang telah kita ketahui, sebagaimana dinyatakan dalamAl-Quran surah Al-Baqarah Ayat 159 :”Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah Kamit urunkan dari keterangan-keterangan dan petunjuk hidayat, sesudah Kami terangkannya kepada manusia di dalam Kitab Suci, mereka itu dilaknat oleh Allah dan dilaknat oleh sekalian makhluk”.Dari Abdullah bin 'Amru ra, RasulAllah S.A.W bersabda: "Sampaikanlah pesanku walaupun hanya satu ayat”.Semoga Allah Ta'ala membalas 'amal Ibadah kita.Wassalamu'alaikum warahmatullaahi wabarakatuh.
Amin....

INFORMASI PENERBANGAN GRATIS

AL-JENAZAH AIRLINES, LAYANAN PENUH 24 JAM
Bila kita akan 'berangkat" dari alam ini, ia ibarat penerbangan ke sebuah negara.
Dimana informasi tentangnya tidak terdapat dalam brosur penerbangan, tetapi melalui Al-Qur'an dan Al-Hadist..
Di mana penerbangan bukannya dengan Garuda Airlines, Singapore Airlines, atau US Airlines, tetapi Al-Jenazah Airlines.
Di mana bekal kita bukan lagi tas seberat 23Kg, tetapi amalan yang tak lebih dan tak kurang.
Di mana bajunya bukan lagi Pierre Cardin, atau setaraf dengannya, akan tetapi kain kafan putih.
Di mana pewanginya bukan Channel atau Polo, tetapi air biasa yang suci.
Di mana passport kita bukan Indonesia, British atau American, tetapi Al-Islam.
Di mana visa kita bukan lagi sekedar 6 bulan, tetapi 'Laailaahaillallah'
Di mana pelayannya bukan pramugari jelita, tetapi Izrail dan lain-lain.
Di mana servisnya bukan lagi kelas business atau ekonomi, tetapi sekedar kain yang diwangikan.
Di mana tujuan mendarat bukannya Bandara Cengkareng, Heathrow Airport atau Jeddah International, tetapi tanah pekuburan.
Di mana ruang menunggunya bukan lagi ruangan ber AC dan permadani, tetapi ruang 2x1 meter, gelap gulita.
Di mana pegawai imigrasi adalah Munkar dan Nakir, mereka hanya memeriksa apakah kita layak ke tujuan yang diidamkan.
Di mana tidak perlu satpam dan alat detector.
Di mana lapangan terbang transitnya adalah Al Barzah Di mana tujuan terakhir apakah Syurga yang mengalir sungai di bawahnya atau Neraka Jahannam.
Penerbangan ini tidak akan dibajak atau dibom, karena itu tak perlu bimbang.
Sajian tidak akan disediakan, oleh karena itu tidak perlu merisaukan masalah alergi atau halal haram makanan.
Jangan risaukan cancel pembatalan, penerbangan ini senantiasa tepat waktunya, ia berangkat dan tiba tepat pada masanya.
Jangan pikirkan tentang hiburan dalam penerbangan, karena anda telah hilang selera bersuka ria.
Jangan bimbang tentang pembelian tiket, karena tiket telah siap di booking sejak ruh anda ditiupkan di dalam rahim ibu.
YA!BERITA BAIK!! Jangan bimbangkan siapa yang duduk di sebelah anda..
Anda adalah satu-satunya penumpang penerbangan ini.
Oleh karena itu bergembiralah selagi bisa! Dan sekiranya anda bisa!
Hanya ingat! Penerbangan ini datang tanpa 'Pemberitahuan'.
Cuma perlu ingat!! Nama anda telah tertulis dalam tiket untuk Penerbangan. ...
Saat penerbangan anda berangkat... tanpa doa Bismillahi Tawakkaltu 'Alallah, atau ungkapan selamat jalan.
Tetapi Inalillahi Wa Inna ilaihi Rajiuun....
Anda berangkat pulang ke Rahmatullah. Mati.
ADAKAH KITA TELAH SIAP UNTUK BERANGKAT?
'Orang yang cerdas adalah orang yang mengingat kematian. Karena dengan kecerdasannya dia akan mempersiapkan segala perbekalan untuk menghadapinya.'
ASTAGHFIRULLAH, semoga ALLAH SWT mengampuni kita beserta keluarga...
Amiin
WALLAHU A'LAM

Catatan:
Penerbangan ini berlaku untuk segala umur... tanpa kecuali, maka perbekalan lebih baik dipersiapkan sejak dini..... sangat tidak bijak dan tidak cerdas bagi yang menunda-nunda mempersiapkan perbekalannya.
SUARA YANG DIDENGAR MAYAT
Yang Akan Ikut Mayat Adalah Tiga hal yaitu:
1. Keluarga
2. Hartanya
3. Amalnya

Ada Dua Yang Kembali Dan Satu akan Tinggal Bersamanya yaitu;
1. Keluarga dan Hartanya Akan Kembali
2. Sementara Amalnya Akan Tinggal Bersamanya..

Maka ketika Roh Meninggalkan Jasad...Terdengarla h Suara Dari Langit Memekik, "Wahai Fulan Anak Si Fulan..
Apakah Kau Yang Telah Meninggalkan Dunia, Atau Dunia Yang Meninggalkanmu
Apakah Kau Yang Telah Menumpuk Harta Kekayaan, Atau Kekayaan Yang Telah Menumpukmu
Apakah Kau Yang Telah Menumpuk Dunia, Atau Dunia Yang Telah Menumpukmu
Apakah Kau Yang Telah Mengubur Dunia, Atau Dunia Yang Telah Menguburmu.."
Ketika Mayat Tergeletak Akan Dimandikan... Terdengar Dari Langit Suara Memekik, "Wahai Fulan Anak Si Fulan...
Mana Badanmu Yang Dahulunya Kuat, Mengapa Kini Te rkulai Lemah
Mana Lisanmu Yang Dahulunya Fasih, Mengapa Kini Bungkam Tak Bersuara
Mana Telingamu Yang Dahulunya Mendengar, Mengapa Kini Tuli Dari Seribu Bahasa
Mana Sahabat-Sahabatmu Yang Dahulunya Setia, Mengapa Kini Raib Tak Bersuara"
Ketika Mayat Siap Dikafan... Suara Dari Langit Terdengar Memekik,"Wahai Fulan Anak Si Fulan
Berbahagialah Apabila Kau Bersahabat Dengan Ridha
Celakalah Apabila Kau Bersahabat Dengan Murka Allah Wahai Fulan Anak Si Fulan...
Kini Kau Tengah Berada Dalam Sebuah Perjalanan Nun Jauh Tanpa Bekal
Kau Telah Keluar Dari Rumahmu Dan Tidak Akan Kembali Selamanya
Kini Kau Tengah Safar Pada Sebuah Tujuan Yang Penuh Pertanyaan."
Ketika MayatDiusung. .... Terdengar Dari Langit Suara Memekik, "Wahai Fulan Anak Si Fulan..
Berbahagialah Apabila Amalmu Adalah Kebajikan
Berbahagialah Apabila Matimu Diawali Tobat
Berbahagialah Apabila Hidupmu Penuh Dengan Taat."
Ketika Mayat Siap Dishalatkan. ...Terdengar Dari Langit Suara Memekik, "Wahai Fulan Anak Si Fulan..
Setiap Pekerjaan Yang Kau Lakukan Kelak Kau Lihat Hasilnya Di Akhirat
Apabila Baik Maka Kau Akan Melihatnya Baik
Apabila Buruk, Kau Akan Melihatnya Buruk."
Ketika MayatDibaringkan Di Liang Lahat....terdengar Suara Memekik Dari Langit,"Wahai Fulan Anak Si Fulan...
Apa Yang Telah Kau Siapkan Dari Rumahmu Yang Luas Di Dunia Untuk
Kehidupan Yang Penuh Gelap Gulita Di Sini Wahai Fulan Anak Si Fulan....
Dahulu Kau Tertawa, Kini Dalam Perutku Kau Menangis
Dahulu Kau Bergembira,Kini Dalam Perutku Kau Berduka
Dahulu Kau Bertutur Kata, Kini Dalam Perutku Kau Bungkam Seribu
Bahasa."
Ketika SemuaManusia Meninggalkannya Sendirian... Allah Berkata Kepadanya, "Wahai Hamba-Ku....
Kini Kau Tinggal Seorang Diri
Tiada Teman Dan Tiada Kerabat
Di Sebuah Tempat Kecil, Sempit Dan Gelap..
Mereka Pergi Meninggalkanmu. . Seorang Diri
Padahal, Karena Mereka Kau Pernah LanggarPerintahku
Hari Ini,....
Akan Kutunjukan Kepadamu
Kasih Sayang-Ku
Yang Akan Takjub Seisi Alam
Aku Akan Menyayangimu
Lebih Dari Kasih Sayang Seorang Ibu Pada Anaknya".
Kepada Jiwa-Jiwa Yang Tenang Allah Berfirman, "Wahai Jiwa Yang Tenang
Kembalilah Kepada Tuhanmu
Dengan Hati Yang Puas Lagi Diridhai-Nya
Maka Masuklah Ke Dalam Jamaah Hamba-Hamba- Ku
Dan Masuklah Ke Dalam Jannah-Ku"
Anda Ingin Beramal Shaleh...?
Tolong Kirimkan Kepada Rekan-Rekan Muslim Lainnya Yang Anda Kenal...!!!Semoga Kematian akan menjadi pelajaran yang berharga bagi kita dalam menjalani hidup ini.
Rasulullah SAW. menganjurkan kita untuk senantiasa mengingat mati (maut) dan dalam sebuah hadithnya yang lain, belau bersabda "wakafa bi almauti wa'idha", artinya, cukuplah mati itu akan menjadi pelajaran bagimu!
Semoga bermanfaat bagi kita semua, Amiin.....

Renungan Hari Ini

Dari Seorang Sahabat
Bahan Renungan Untuk Anda, Sahabatku, yang mungkin terlalu sibuk bekerja...
Luangkanlah waktu sejenak untuk membaca dan merenungkan pesan ini...
Alhamdulillah, Anda beruntung telah terpilih untuk mendapatkan kesempatan membaca email ini.
Aktifitas keseharian kita selalu mencuri konsentrasi kita. kita seolah lupa dengan sesuatu yang kita tak pernah tau kapan kedatangannya.
Sesuatu yang bagi sebagian orang sangat menakutkan.Tahukah kita kapan kematian akan menjemput kita???
berikanlah waktu anda dan bacalah sampai habis, semoga dapat menjadikan hikmah buat kita semua dan sadar, bahwa kita akan mati dan tinggal menunggu waktunya,
semoga kita termasuk dalam orang-orang yang khusnul khotimah....
amien....

Tatkala masih di bangku sekolah, aku hidup bersama kedua orangtuaku dalam lingkungan yang baik. Aku selalu mendengar doa ibuku saat pulang dari keluyuran dan begadang malam. Demikian pula ayahku, ia selalu dalam shalatnya yang panjang. Aku heran, mengapa ayah shalat begitu lama, apalagi jika saat musim dingin yang menyengat tulang.
Aku sungguh heran, bahkan hingga aku berkata kepada diri sendiri :
"Alangkah sabarnya mereka....setiap hari begitu... benar- benar mengherankan!
"Aku belum tahu bahwa disitulah kebahagiaan orang mukmin dan itulah shalat orang orang pilihan. Mereka bangkit dari tempat tidurnya untuk munajat kepada Allah.

Setelah menjalani pendidikan militer, aku tumbuh sebagai pemuda yang matang. Tetapi diriku semakin jauh dari Allah padahal berbagai nasehat selalu kuterima dan kudengar dari waktu ke waktu. Setelah tamat dari pendidikan, aku ditugaskan di kota yang jauh dari kotaku.
Perkenalanku dengan teman-teman sekerja membuatku agak ringan menanggung beban sebagai orang terasing.

Disana, aku tak mendengar lagi suara bacaan Al-Qur'an. Tak ada lagi suara ibu yang membangunkan dan menyuruhku shalat. Aku benar-benar hidup sendirian, jauh dari lingkungan keluarga yang dulu kami nikmati. Aku ditugaskan mengatur lalu lintas di sebuah jalan tol... Di samping menjaga keamanan jalan,tugasku membantu orang-orang yang membutuhkan bantuan.
Pekerjaan baruku sungguh menyenangkan. Aku lakukan tugas-tugasku dengan semangat dan dedikasi tinggi.

Tetapi, hidupku bagai selalu diombang-ambingkan ombak. Aku bingung dan sering melamun sendirian ... banyak waktu luang ... pengetahuanku terbatas.
Aku mulai jenuh ... tak ada yang menuntunku di bidang agama. Aku sebatang kara. Hampir tiap hari yang kusaksikan hanya kecelakaan dan orang-orang yang mengadu kecopetan atau bentuk-bentuk penganiayaan lain.

Aku bosan dengan rutinitas. Sampai suatu hari terjadilah sebuah peristiwa yang hingga kini tak pernah aku lupakan.
Ketika itu, kami dengan seorang kawan sedang bertugas disebuah pos jalan.
Kami asyik ngobrol ... tiba-tiba kami dikagetkan oleh suara benturan yang amat keras. Kami mengedarkan pandangan. Ternyata, sebuah mobil bertabrakan dengan mobil lain yang meluncur dari arah yang berlawanan.
Kami segera berlari menuju tempat kejadian untuk menolong korban. Kejadian yang sungguh tragis. Kami lihat dua awak salah satu mobil dalam kondisi kritis. Keduanya segera kami keluarkan dari mobil lalu kami bujurkan di tanah. Kami cepat-cepat menuju mobil satunya. Ternyata pengemudinya telah tewas dengan amat mengerikan. Kami kembali lagi kepada dua orang yang berada dalam kondisi koma.


Temanku menuntun mereka mengucapkan kalimat syahadat. Ucapkanlah "Laailaaha Illallaah ... Laailaaha Illallaah .." perintah temanku. Tetapi sungguh mengerikan, dari mulutnya malah meluncur lagu-lagu. Keadaan itu membuatku merinding.

Temanku tampaknya sudah biasa menghadapi orang-orang yang sekarat...
Kembali ia menuntun korban itu membaca syahadat. Aku diam membisu. Aku tak berkutik dengan pandangan nanar. Seumur hidupku, aku belum pernah menyaksikan orang yang sedang sekarat, apalagi dengan kondisi seperti ini. Temanku terus menuntun keduanya mengulang-ulang bacaan syahadat. Tetapi .... keduanya tetap terus saja melantunkan lagu. Tak ada gunanya ... Suara lagunya terdengar semakin melemah ... lemah dan lemah sekali.. Orang pertama diam, tak bersuara lagi, disusul orang kedua. Tak ada gerak .... keduanya telah meninggal dunia. Kami segera membawa mereka ke dalam mobil. Temanku menunduk, ia tak berbicara sepatahpun.
Selama perjalanan hanya ada kebisuan. Hening...

Kesunyian pecah ketika temanku mulai bicara.Ia berbicara tentang hakikat kematian dan su'ul khatimah (kesudahan yang buruk). Ia berkata "Manusia akan mengakhiri hidupnya dengan baik atau buruk.. Kesudahan hidup itu biasanya pertanda dari apa yang dilakukan olehnya selama di dunia. "Ia bercerita panjang lebar padaku tentang berbagai kisah yang diriwayatkan dalam buku-buku islam. Ia juga berbicara bagaimana seseorang akan mengakhiri hidupnya sesuai dengan masa lalunya secara lahir batin.

Perjalanan kerumah sakit terasa singkat oleh pembicaraan kami tentang kematian. Pembicaraan itu makin sempurna gambarannya tatkala ingat bahwa kami sedang membawa mayat. Tiba-tiba aku menjadi takut mati. Peristiwa ini benar-benar memberi pelajaran berharga bagiku. Hari itu, aku shalat khusyu' sekali.

Tetapi perlahan-lahan aku mulai melupakan peristiwa itu. Aku kembali pada kebiasaanku semula ... Aku seperti tak pernah menyaksikan apa yang menimpa dua orang yang tak kukenal beberapa waktu yang lalu. Tetapi sejak saat itu, aku memang benar-benar menjadi benci kepada yang namanya lagu-lagu. Aku tak mau tenggelam menikmatinya seperti sedia kala.

Mungkin itu ada kaitannya dengan lagu yang pernah kudengar dari dua orang yang sedang sekarat dahulu. Kejadian yang menakjubkan !
Selang enam bulan dari peristiwa mengerikan itu ..... sebuah kejadian menakjubkan kembali terjadi di depan mataku. Seseorang mengendarai mobilnya dengan pelan, tetapi tiba-tiba mobilnya mogok di sebuah terowongan menuju kota. Ia turun dari mobilnya untuk mengganti ban yang kempes. Ketika ia berdiri dibelakang mobil untuk menurunkan ban serep, tiba-tiba sebuah mobil dengan kecepatan tinggi menabraknya dari arah belakang. Lelaki itupun langsung tersungkur seketika.

Aku dengan seorang kawan, bukan yang menemaniku pada peristiwa pertama cepat-cepat menuju tempat kejadian. Dia kami bawa dengan mobil dan segera pula kami menghubungi rumah sakit agar langsung mendapat penanganan. Dia masih sangat muda, wajahnya begitu bersih.Ketika mengangkatnya ke mobil, kami berdua cukup panik, sehingga tak sempat memperhatikan kalau ia menggumamkan sesuatu. Ketika kami membujurkannya di dalam mobil, kami baru bisa membedakan suara yang keluar dari mulutnya. Ia melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur'an... dengan suara amat lemah.

"Subhanallah ! dalam kondisi kritis seperti itu ia masih sempat melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur'an ? Darah mengguyur seluruh pakaiannya, tulang-tulangnya patah, bahkan ia hampir mati. Dalam kondisi seperti itu, ia terus melantunkan ayat-ayat Al-Qur'an dengan suaranya yang merdu.
Selama hidup, aku tak pernah mendengar bacaan Al-Qur'an seindah itu.

Dalam batin aku bergumam sendirian "Aku akan menuntunnya membaca syahadat sebagaimana yang dilakukan oleh temanku terdahulu... apalagi aku sudah punya pengalaman." aku meyakinkan diriku sendiri. Aku dan kawanku seperti terhipnotis mendengarkan suara bacaan Al-Qur'an yang merdu itu.

Sekonyong-konyong sekujur tubuhku merinding, menjalar dan menyelusup ke setiap rongga.. Tiba-tiba, suara itu terhenti. Aku menoleh kebelakang. Kusaksikan dia mengacungkan jari telunjuknya lalu bersyahadat. Kepalanya terkulai, aku melompat ke belakang. Kupegang tangannya, degup jantungnya, nafasnya, tidak ada yang terasa.

Dia telah meninggal. Aku lalu memandanginya lekat-lekat, air mataku menetes, kusembunyikan tangisku, takut diketahui kawanku. Kukabarkan kepada kawanku kalau pemuda itu telah meninggal. Kawanku tak kuasa menahan tangisnya. Demikian pula halnya dengan diriku. Aku terus menangis air mataku deras mengalir. Suasana dalam mobil betul-betul sangat mengharukan. Sampai di rumah sakit .....Kepada orang-orang di sana, kami mengabarkan perihal kematian pemuda itu dan peristiwa menjelang kematiannya yang menakjubkan. Banyak orang yang terpengaruh dengan kisah kami, sehingga tak sedikit yang meneteskan air mata.

Salah seorang dari mereka, demi mendengar kisahnya, segera menghampiri jenazah dan mencium keningnya. Semua orang yang hadir memutuskan untuk tidak beranjak sebelum mengetahui secara pasti kapan jenazah akan dishalatkan.. Mereka ingin memberi penghormatan terakhir kepada jenazah. Semua ingin ikut menyolatinya. Salah seorang petugas rumah sakit menghubungi rumah almarhum. Kami ikut mengantar jenazah hingga ke rumah keluarganya...

Salah seorang saudaranya mengisahkan, ketika kecelakaan, sebetulnya almarhum hendak menjenguk neneknya di desa. Pekerjaan itu rutin ia lakukan setiap hari senin. Disana almarhum juga menyantuni para janda, anak yatim dan orang-orang miskin. Ketika terjadi kecelakaan, mobilnya penuh dengan beras, gula, buah-buahan dan barang-barang kebutuhan pokok lainnya. Ia juga tak lupa membawa buku-buku agama dan kaset-kaset pengajian. Semua itu untuk dibagi-bagikan kepada orang-orang yang dia santuni. Bahkan juga membawa permen untuk dibagikan kepada anak-anak kecil.

Bila tiba saatnya kelak, kita menghadap Allah Yang Perkasa. hanya ada satu harap, semoga kita menjadi penghuni surga. Biarlah dunia jadi kenangan, juga langkah-langkah kaki yang terseok, di sela dosa dan pertaubatan. Hari ini, semoga masih ada usia, untuk mengejar surga itu, dengan amal-amal yang nyata : "memperbaiki diri dan mengajak orang lain "
Allah Swt berfirman: "Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barang siapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan." (QS. Al-Imran:185)
Rasulullah Saw telah mengingatkan dalam sabdanya, "Barangsiapa yang lambat amalnya, tidak akan dipercepat oleh nasabnya." Saudaraku, siapa yang tau kapan, dimana, bagaimana, sedang apa, kita menemui tamu yang pasti menjumpai kita, yang mengajak menghadap Allah SWT.
Orang yang cerdik dan pandai adalah yang senantiasa mengingat kematian dalam waktu-waktu yang ia lalui kemudian melakukan persiapan persiapan untuk menghadapinya.

Note : amalkan ilmu, sampaikan walau satu ayat, salah satu amalan yang terus mengalir walau seseorang sudah mati adalah ilmu yang bermanfaat. Begitulah hendaknya engkau nasehati dirimu setiap hari karena engkau tidak menyangka mati itu dekat kepadamu bahkan engkau mengira engkau mungkin hidup lima puluh tahun lagi, Kemudian engkau menyuruh dirimu berbuat taat, sudah pasti dirimu tidak akan patuh kepadamu dan pasti ia akan menolak dan merasa berat untuk mengerjakan ketaatan. Nasehat ini terutama untuk diri saya sendiri, dan saudara-saudaraku seiman pada umumnya. Orang Cerdas Adalah Orang Yang Mengingat Akan Kematian...

Kamis, November 20, 2008

Dzikir & Do'a

Pengarang : M.Quraish Shihab
Diterbitkan : 2007

Zikir sebagai salah satu cara mendekatkan diri kepada Allah, sesungguhnya mengandung doa, demikian juga sebaliknya, doa adalah zikir. Ketika seseorang berdoa dengan tulus, dia mengingat dan menyeru Allah, tanpa itu dia tidak dianggap sedang berdoa. Sebaliknya, ketika seseorang berzikir, dia akan merasa sangat kecil di hadapan-Nya dan tentu saja membutuhkan bantuan-Nya. Ketika itu, walaupun tidak terucapkan dengan kata-kata, sesungguhnya dia sangat mengharapkan pertolongan Allah dalam bentuk petunjuk maupun bimbingan-Nya.

Buku ini hendak menjelaskan tentang ketergantungan manusia kepada sesuatu yang bersifat adi-manusia, dalam hal ini Allah. Zikir dan doa, di samping menjadi media yang menghubungkan manusia dengan Allah, juga menjadi bentuk pengakuan manusia akan keberadaan dirinya yang dependent (memiliki ketergantungan). Allah sangat mengecam orang yang tidak mau berzikir dan berdoa. Karena keengganan melakukan zikir dan doa, hingga batas-batas tertentu bisa diartikan sebagai bentuk penolakan manusia akan ketergantungan kepada Tuhan.

Banyak manfaat yang bisa ditangguk manusia lewat zikir dan doa, dan tak sedikit mudharat yang menimpa jika manusia mengabaikannya. Zikir dan doa sangat mudah dikerjakan dan bisa dilakukan kapan dan di mana saja. Jika ketenangan, kedamaian, dan kebahagiaan yang didambakan manusia, maka zikir dan doa adalah media yang sangat dianjurkan al-Qur’an untuk mencapainya.

Wawasan Al-Qur'an

Don't Grow Old - Grow Up

By Dorothy Carnegie
summary of her book, from 1956

----------------------------------------------------------
Part One
: The first step toward maturity - Responsibility


  1. Don't kick the Chair. Be willing to account for yourself; don't blame others.
  2. Damn the Handicaps! - Full Speed Ahead. Don't make a handicap an excuse for failure.
  3. Five Ways to Ditch Disaster: Accept the inevitable; give time a chance.
  4. Take action against trouble. Concentrate on helping others.
  5. Use all of life while you have it. Count your blessings.

-----------------------------------------------------------
Part Two
: Action is for adults

  1. Belief is the Basis for Action.
  2. Know what you believe and act accordingly.
  3. Analyze Before You Act.
  4. Two Wonderful Words that Changed a Life.
  5. When the time for action arrives, don't hesitate.

----------------------------------------------------------
Part Three : Three great rules for mental health: Know yourself, Like yourself, Be yourself

  1. There's Only One Like You Learn to know yourself by: Cultivating moments of solitude. Breaking through the habit barrier. Developing excitement and enthusiasm.
  2. Conformity: Refuge of the Frightened.
  3. Be yourself by developing your own convictions and standards; then have the courage to live with them.
  4. Why is a Bore? Develop inner resources to avoid boring yourself and others.
  5. The Maturing Mind: Adventure in Adult Living. Develop your mind through intellectual activity.

----------------------------------------------------------
Part Four : Marriage is for grownups

How to Get Along with Women. Here are seven ways:
  1. Give her appreciation.
  2. Be generous and considerate.
  3. Keep yourself attractive.
  4. Understand a woman's work.
  5. Be dependable.
  6. Share her interests.
  7. Love her.
  8. Father Come Home.
  9. Children need fathers too.
How to Get Along with Men. Here are seven ways: Be good-natured.
  1. Be a good companion.
  2. Be a good listener.
  3. Be adaptable.
  4. Be efficient, not officious.
  5. Be yourself.
  6. Be glad you're a woman.
  7. The Rediscovery of Love. We must develop a more mature concept of love.

------------------------------------------------------------
Part Five : Maturity and making friends

  1. Loneliness: The Great American Disease.
  2. People are Wonderful.Learn to appreciate them.
  3. Why Should People Like You? They will like you if you like them and develop qualities of warmth that attract others.

---------------------------------------------------------
Part Six
: How old are you?

  1. If You're Afraid of Growing Old, Read This.
  2. Learn some of the facts about aging.
  3. How to Live to be 100 and Like it.
  4. To live longer, develop attitudes that promote health of mind.
  5. Don't Let the Rocking Chair Get You.
  6. Work as long as you can.

--------------------------------------------------------
Part Seven
: Maturity of spiritThe Court of Last Appeal.

  1. When all else fails, try God.
  2. The Food of the Spirit.
  3. Our spirit is nourished through prayer

Good Speaker

The Art of Public Speaking by Dale Carniege


The Quick and Easy Way to Effective SpeakingThis is Dorothy Carnegie's summary of her book, from 1962, which is based on Dale Carnegie's Public Speaking and Influencing Men in Business, from 1931.
--------------------------------------------------------------------------------
Part One : Fundamentals of Effective Speaking

  1. Acquiring the Basic SkillsTake heart from the experience of others Keep your goal before you Predetermine your mind to success Seize every opportunity to practice
  2. Developing ConfidenceGet the facts about fear of speaking in public Prepare in the proper way Predetermine your mind to success Act confident
  3. Speaking Effectively the Quick and Easy WaySpeaking about something you have earned the right to talk about through experience or study Be sure you are excited about your subject Be eager to share your talk with your listeners

--------------------------------------------------------------------------------
Part Two : Speech, Speaker, and Audience

  1. Earning the Right to TalkLimit your subject Develop reserve power Fill your talk with illustrations and examples Use concrete, familiar words that create pictures
  2. Vitalizing the TalkChoose subjects you are earnest about Relive the Feelings you have about your topic Act in earnest 6. Sharing the Talk with the AudienceTalk in terms of your listeners' interests Give honest, sincere appreciation Identify yourself with the audience Make your audience a partner in your talk Play yourself down

--------------------------------------------------------------------------------
Part Three : The Purpose of Prepared and Impromptu Talks

  1. Making the Short Talk to Get ActionGive your example, an incident from your life State your point, what you want the audience to do Give the reason or benefit the audience may expect
  2. Making the Talk to Inform Restrict your subject to fit the time at your disposal Arrange your ideas in sequence Enumerate your points as you make them Compare the strange with the familiar Use visual aids
  3. Making the Talk to ConvinceWin confidence by deserving it Get a Yes-response Speakin with contagious enthusiasm Show respect and affection for your audience Begin in a friendly way
  4. Making Impromptu TalksPractice impromptu speaking Be mentally ready to speak impromptu Get into an example immediately Speak with animation and force Use the principle of the Here and the Now Don't talk impromptu--Give an impromptu talk

--------------------------------------------------------------------------------
Part Four : The Art of Communicating

Delivering the TalkCrash through your shell of self-consciousness Don't try to imitate others--Be yourself Converse with your audience Put your heart into your speaking Practice making your voice strong and flexible

--------------------------------------------------------------------------------
Part Five : The Challenge of Effective Speaking

  1. Introducing Speakers, Presenting and Accepting AwardsThoroughly prepare what you are going to say Follow the T-I-S Formula Be enthusiastic Thoroughly prepare the talk of presentation Express your sincere feelings in the talk of acceptance
  2. Organizing the Longer TalkGet attention immediately Avoid getting unfavorable attention Support your main ideas Appeal for action
  3. Applying What You Have LearnedUse specific detail in everyday conversation Use effective speaking techniques in your job Seek Opportunities to speak in public You must persist Keep the certainty of reward before you