Zack

Foto saya
be better than yesterday..
Tampilkan postingan dengan label sedekah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sedekah. Tampilkan semua postingan

Kamis, Mei 19, 2011

LUPA SEDEKAH

Sahabat, ingat KUBURAN ? ah ngeriii…., bukan…. itu lho yang punya lagu “ lupa-lupa ingat “ Lagu sederhana dengan sedikit keanehan ini mengingatkan kita pada sebuah kisah yang menceritakan tentang sifat manusia yang cepat sekali lupa dengan janji-janjinya.

Alkisah ada seorang saudagar yang tengah berlayar di tengah laut bersama dengan para pengawalnya. Kapalnya memuat barang-barang dagangan yang baru saja dibeli si saudagar dari Negara lain. Tiba-tiba langit menjadi gelap-gulita disusul dengan hujan deras dan suaru petir yang menggelegar bersahut-sahutan.
Sang saudagar ketakutan, berdoa memohon pertolongan kepada Tuhan. ”Ya tuhan, tolong selamatkan hambamu yang tidak berdosa ini. Ambillah seluruh kekayaan saya asal jangan engkau ambil nyawaku.” kata saudagar kaya itu dengan sungguh-sungguh.

Tiba-tiba badai mereda dan kapalpun selamat, saudagar tersebut lalu bersujud memanjatkan doa kepada Tuhan. “ Tuhan. Kalau nanti saya selamat, akan saya sumbangkan separuh dari kekayaan saya untuk orang miskin,” janjinya.

Keajaiban pun terjadi, langit tiba-tiba terang dan hujan pun berhenti. Kali ini sang saudagar dengan tersenyum mengucapakan rasa syukur dan terima kasih kepada Tuhan.” Tuhan.engkau sungguh maha pengasih dan maha mendengar. Terima kasih engkau masih memberi kesempatan kepada saya, dan mohon maaf banget ya Tuhan, jika saya belum bisa membagikan harta saya kepada orang lain, karena saya masih membutuhkannya untuk mengembangkan usaha saya,” pinta saudagar itu kepada Tuhan.

Sahabat, betapa seringkali kita ingat kepada Allah ketika musibah dan badai kehidupan menerpa kita, akan tetapi betapa begitu mudahnya kita melupakan Allah SWT manakala musibah dan badai kehidupan itu telah meninggalkan kita.
“Lupa, lupa lupa lupa… lupa sedekahnya”
“Ingat, ingat ingat ingat… hanya ingat hartanya.”

Sahabat jangan pernah melupakan komitmen bersedekah walau hanya dengan yang tersisa ditangan kita

Jumat, Juni 19, 2009

Melipatgandakan Pahala Sedekah

oleh : Zaim Saidi (Direktur Tabung Wakaf Indonesia)


Pada suatu saat ketika para Sahabat menyembelih seekor kambing, Rasulullah SAW bertanya kepada Ummul Mu’minin, Aisyah, r.a., “Apakah masih ada yang tersisa dari kambing itu?” Aisyah menjawab, “Ya, tinggal sampil mukanya saja.” Mendengar jawaban ini Rasulullah SAW berkata, “Semuanya masih tersisa, kecuali sampil mukanya.” Kisah ini diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi.

Begitulah harta yang disedekahkan tidaklah berkurang, ia akan tetap tinggal di akhirat kelak. Harta yang kita makanlah yang akan habis, bersamaan dengan habisnya keseluruhan dunya ini. Maka, dalam haditsnya yang lain, Rasul SAW mengatakan, ”Dunia adalah rumah bagi orang yang tidak mempunyai rumah di akhirat, dan harta dunia adalah harta bagi yang tidak memiliki harta di akhirat.” Bukankah sangat jelas diterangkan di sini, agar kita dapat memiliki rumah dan harta di akhirat, jalannya adalah lewat sedekah?

Tetapi tidak semua sedekah sama derajat dan pahalanya. Sedekah yang diberikan di kala seseorang dalam kesempitan memiliki nilai lebih besar ketimbang sedekah yang diberikan saat seseorang itu berada dalam kelonggaran. Harta yang disedekahkan untuk sesuatu yang sekali habis dipakai, juga mendapatkan pahala yang sekali-waktu saja. Harta yang disedekahkan untuk sesuatu yang memberikan manfaat lestari, akan mendapatkan pahala yang abadi pula. Inilah perbedaan antara sedekah dan sedekah jariah.

Rasulullah SAW menegaskan bahwa sedekah jariah, kita mengenalnya dalam istilah wakaf, tak akan putus pahalanya, karena kamatian para pemberinya. Dengan kata lain, rumah dan harta akhirat yang dibangun oleh para wakif, terus berlangsung bahkan ketika mereka telah meninggalkan dunia ini. Dalam penalaran kita, yang sudah barang tentu masih teramat jauh dari kemurahan janji Allah SWT sendiri, adalah bahwa pahala sedekah dapat dilipatgandakan katika diniatkan dan dilaksanakan sebagai sedekah jariah, sebagai wakaf, dan bukan sekadar sebagai sedekah-sesaat untuk kegiatan konsumtif.

Maka, ketika bersedekah, ubahlah niat dan akad yang Anda lakukan. Sebab (akad) perbuatan tergantung kepada niatnya. Ketika seseorang bersedekah, katakanlah Rp 1 juta, sebagai sumbangan konsumtif mengobati seorang fakir yang sakit, pahala yang diperolehnya adalah sebatas nilai konsumsi itu. Tetapi, ketika Rp 1 juta itu, diniatkan dan diakadkan sebagai wakaf, yang kelak bersama dengan sedekah-sedekah lainnya telah sampai pada jumlah yang cukup, dan dibelikan aset produktif dengan surplus yang dialirkan kepada para fakir yang sakit, pahalanya akan terus mengalir. Sepanjang aset itu tetap produktif, dan surplusnya dialirkan sebagai jariah, selama itu pula tabungan akhirat Anda, sebagai seoraang wakif, terus bertambah.

Berwakaf tidak perlu menunggu sampai seseorang memiliki harta besar hingga cukup untuk membeli aset secara sendirian. Tentu, kalau ia mampu, perbuatan ini akan menjadikannya sampai pada ”puncak kebajikan”, sebagaimana dijanjikan oleh Allah SWT (Ali Imran 92). Tetapi, Rasulullah SAW dan para Sahabatnya, memberikan teladan tentang wakaf gotong royong (wakaf syuyu’i), harta wakaf yang diadakan atau dibeli secara patungan. Tugas para nadzirlah untuk menghimpun dan mengelola sedekah-sedekah yang relatif kecil ini menjadi aset produktif yang cukup signifikan, hingga dapat menghasilkan surplus yang lestari.
Karena itu, sebagai nadzir Tabung Wakaf Indonesia (TWI) merancang berbagai program wakaf gotong royong tersebut, dalam berbagai bentuk: sarana pendidikan (seperti Sekolah Ekselensia), sarana kesehatan (seperti Klinik LKC), sarana sosial (Wisma Muallaf), sarana ekonomi (pertokoan dan ruko), dan sebagainya. Sejauh mungkin aset-aset wakaf ini pun dikelola secara terpadu, ada kesatuan antara aset produktifnya dengan jasa layanan sosialnya. Hingga manfaatnya lestari, dan pahalanya abadi.

Tabung Wakaf Indonesia
Komplek Perkantoran Margaguna No.11
Jl.Radio Dalam Raya Jakarta Selatan
Phone.021-7211035
Fax.021-7211005